Hukum

Polisi Kembali Tetapkan Satu Tersangka Dalam Kasus PT.EBH

Oleh: Andreas Trisno Diwa Editor: Alfian 16 Mar 2023 - 07:43 Samarinda
Polisi Kembali Tetapkan Satu Tersangka Dalam Kasus PT.EBH
Sejumlah warga kampung Dingin memantau lokasi tambang batu bara PT EBH. Foto: Ist

KBRN, Sendawar: Polres Kutai Barat (Kubar) kembali menetapkan satu orang tersangka dalam kasus sengketa lahan antara PT Energi Batu Hitam (EBH) dengan warga kampung Dingin, kecamatan Muara Lawa Kabupaten Kutai Barat.

Tersangka yang ke-6 ini adalah Danang Susanto alias Ferdi, yang beralamat di kampung Bentas kecamatan Siluq Ngurai.

Dia disangkakan melanggar Pasal 2 Ayat 1 Undang-undang darurat Nomor 12 tahun 1951 dan Pasal 216 ayat 1 KUHP.

Ferdi ditetapkan sebagai tersangka karena membawa senjata tajam saat melakukan aksi penutupan jalan tambang PT EBH 16 Febuari lalu.

Senjata tajam yang oleh warga disebut ‘mandau’ itu sudah disita polisi sebagai barang bukti.

Baca Juga:

Kiprah Erika Siluq: Getol Bela Masyarakat Adat Hingga Jadi Tersangka

Ini Tanggapan Erika Siluq Usai Ditetapkan Jadi Tersangka

5 Warga Dingin Jadi Tersangka, Gerdayak Nasional Siapkan Bantuan Hukum

Kapolres Kutai Barat AKBP Heri Rusyaman mengatakan, penyitaan mandau tersebut dilakukan petugas demi menjaga hal-hal yang tidak diinginkan.

“Saat itu ada potensi memanas atau mungkin bisa chaos. Tindakan kepolisian pasti terukur dan tentu tidak asal-asalan,” kata Kapolres saat dikonfirmasi RRI di Mapolres Kubar, kecamatan Barong Tongkok, Rabu (15/3/2023).

Polisi mengakui bahwa mandau adalah ciri khas masyarakat Dayak khususnya di Kutai Barat.

Tetapi menurut Kapolres, mandau yang dibawa dalam situasi konflik tetap harus diamankan, karena sajam sejenis parang itu bukanlah alat kerja biasa dan berpotensi disalahgunakan.

“Apabila Mandau itu peruntukannya sesuai dengan waktu, tempat dan kegunaannya, pihak polisi atau aparat penegak hukum tidak akan melakukan penyitaan. Dan tindakan itu (penyitaan) sesuai dengan aturan yang ada, karena pada saat itu ada beberapa masyarakat yang membawa Mandau di saat situasinya ada masalah,” ujar AKBP Heri.

“Kita menghindari mereka menggunakan Mandau itu sebagai alat untuk mengintervensi pegawai lain atau perusahaan sehingga masyarakat atau perusahaan pun ada kekhawatiran. Makanya pihak kepolisian datang ke lokasi, kita lakukan komunikasi kita preventif, persuasif dengan semuanya.

Tetapi yang bersangkutan atau beberapa orang yang membawa mandau itu tidak kooperatif bahkan memberikan perilaku yang dianggap membahayakan, baik masyarakat lain maupun petugas, otomatis kita melakukan tindakan terukur. Salah satu cara kita mengamankan,” terang Kapolres.

 

AKBP Heri juga membantah pihaknya tidak menghargai adat, hanya karena menyita mandau yang sudah dianggap sebagai sarana adat di lokasi konflik.

“Yang jelas kita pasti mendukung dan menjunjung tinggi adat istiadat di sini,” katanya.

Baca Juga:

Polisi Bongkar Tenda Yang Didirikan Warga Dingin di Lokasi PT.EBH

Lima Warga Dingin Menjadi Tersangka Pengancaman dan Perintangan PT.EBH

Pengacara Kecewa Erika Siluq dan Priska Cs Jadi Tersangka Pengancaman PT EBH


Sementara itu Erika Siluq, salah satu warga Dingin yang lebih dulu ditetapkan jadi tersangka menentang keras proses hukum terhadap masyarakat yang membawa mandau.

Dia menduga ada upaya kriminalisasi terhadap masyarakat yang tengah memperjuangkan haknya.

“Kami menolak proses hukum dan kriminalisasi ini. Kami tidak melakukan tindak pidana pemaksaan sebagaimana yang dituduhkan, tidak ada kekerasan, tidak ada pengancaman, hanya usaha agar manajemen dapat bertanggung jawab,” kata Erika Siluq didampingi pengacaranya Sastiono Kesek, saat konferensi pers di Kelurahan Simpang Raya Kecamatan barong Tongkok, Kubar Selasa (14/3/2023).

Ketua umum Gerakan Pemuda Dayak (Gerdayak) Kaltim ini menegaskan, mandau adalah alat kerja yang biasa digunakan warga.

Saat itu parang atau mandau dibawa ke lokasi untuk bekerja membangun tenda.

“Kami menentang keras disitanya mandau yang dianggap sebagai senjata tajam oleh kepolisian. Kami tidak membawa mandau dan menenteng atau mengancam orang. Mandau masih berada dalam sarungnya dan itu ada di lokasi kami, di kebun kami. Alat-alat tersebut tidak untuk menikam siapapun atau mengancam siapapun,” ujar Erika.

Menurutnya, mandau sudah diakui sebagai warisan budaya lokal.

“Ini perlu klarifikasi yang serius karena baru hari ini diproses secara hukum karena membawa Mandau,” tegasnya.

Erika mengaku akan melawan proses hukum yang tengah dilakukan kepolisian, dengan mengajukan praperadilan.

“Kami pastikan akan melakukan praperadilan,” ucap Dosen UNTAG Samarinda ini.

Baca Juga:

Kapolres Kubar Sebut Penutupan Tambang PT.EBH Rugikan Masyarakat

Mediasi Warga Dingin-PT.EBH yang Dipimpin Bupati Kubar Kembali Buntu

Sebelumnya Polres Kubar telah menetapkan 5 orang warga kampung Dingin sebagai tersangka.

Yakni Priska, Erika Siluq, Misen, Ferdinand S Liing serta Dominikus Gusman Manando.

Ke lima warga Muara Lawa ini dijadikan tersangka dengan tuduhan melakukan pengancaman dengan kekerasan dan merintangi kegiatan perusahaan.

Sementara itu manajemen PT EBH yang dikonfrimasi awak media tak satupun yang mau melayani klarifikasi.