Warga Kubar Protes Mobil Tambang dan Sawit Pakai Jalan Umum

  • 14 Apr 2023 21:04 WIB
  •  Samarinda

KBRN, Sendawar: Lalu lintas jalan di Kabupaten Kutai Barat (Kubar) Provinsi Kalimantan Timur kian ramai dalam beberapa bulan terakhir. Salah satunya di kecamatan Sekolaq Darat.

Ribuan kendaraan silih berganti mengaspal dari kampung Sumber Bangun menuju Sekolaq Joleq, Sekola Darat, Srimulyo, Sekolaq Muliaq hingga kampung Mentiwan.

Kemudian masuk ke jalan dua jalur di kelurahan Melak Ulu kecamatan Melak.

Jalan aspal sekitar 20 kilo meter itu nampak rusak di beberapa titik. Mulai dari samping SPBU Sekolaq Darat sampai kampung Srimulyo.

Paling parah terdapat di kampung Sekolaq Muliaq hingga Simpang Tiga Mentiwan dengan lubang-lubang sepanjang jalan.

Kepala kampung Srimulyo Senen, mengatakan kerusakan jalan ini terjadi akibat tingginya mobilitas kendaraan dalam 3 bulan terakhir.

Anehnya menurut dia, ribuan kendaraan itu mayoritas bukan milik masyarakat setempat tetapi kendaraan pengangkut minyak kelapa sawit (CPO) dan batu bara.

“Itu mobil CPO yang roda sepuluh dan mobil koridor (batubara) yang paling banyak. Ngga ada berhentinya, siang malam. Hujan aja baru berkurang. Makanya jalan ini jadi cepat rusak,” kata Senen saat ditemui wartawan di kediamannya kampung Srimulyo, Rabu (12/4/2023).

BACA JUGA:

Warga Sekolaq Darat-Kubar Ancam Blokir Mobil Tambang Koridor

Teriaki Tambang Ilegal, Warga Kubar Surati Presiden dan Kapolri

Menurutnya, beberapa tahun lalu hanya mobil CPO yang kerap melewati kecamatan Sekolaq Darat. Namun sejak akhir 2022 lalu, kendaraan makin banyak. Yaitu mobil-mobil truk muatan batu bara yang selalu ditutupi terpal. Warga menyebut dengan mobil koridor, merujuk pada tambang illegal.

“Kalau mobil koridor itu dari mana-mana kita ngga tau. Ada yang dari kampung Dingin, Muara Lawa sana,” kata mantan prajurit TNI tersebut.

Pengakuan senada disampaikan Petinggi Sekolaq Darat Katipianus.

Dia menyebut kerusakan jalan di wilayah setempat makin parah seiring bebasnya angkutan batu bara menggunakan jalan umum. Ironinya supir-supir batu bara terkesan arogan menggunakan jalan umum.

“Kendaraan tambang ini mereka pakai sistem di tambang. Kalau ada jalan yang lubang mereka ngambil jalan yang bagus, akhirnya yang menjadi korban ini masyarakat kita yang menggunakan kendaraan kecil atau sepeda motor,” ujar Kapitianus kepada RRI Jumat (14/4/2023).

“Mobil tambang dan CPO ini kaya mereka jalan di jalan perusahaan aja, sementara ini jalan umum. Ya jalan kita ini jadi makin rusak,” lanjutnya.

BACA JUGA:

Kerap Ugal-ugalan, Warga Kutai Barat Minta Mobil Batubara Ditertibkan

Dia mengaku sejak mobil-mobil tambang memakai jalan umum, warga setempat sudah protes. Tetapi para pengusaha tambang maupun sawit terkesan tutup mata.

“Jalan kita ini masih bagus jalan tambang. Karena kalau jalan tambang, rusak langsung digleder. Di sini kalau kita ngga gertak mau tutup jalan, nda ada mereka mau perbaiki. Alasannya itu jalan pemerintah, sementara yang kasi rusak mereka,” keluh sang Kades.

BACA JUGA:

Marak Tambang Ilegal, Ini Kata Kapolres Kutai Barat

DPRD Kubar Sesalkan Satpol-PP Disuruh Jaga Batu Bara Ilegal

Tingginya mobilitas angkutan CPO dan batu bara membuat warga jadi was-was. Lantaran banyak supir ugal-ugalan.

“Banyak sudah yang kecelakaan. Mereka main ngebut kejar setoran tapi kita yang jadi korban. Belum lagi debu sepanjang hari. Makanya kami minta mereka perbaiki. Kami tidak melarang tapi tolonglah bantu perbaiki yang lubang-lubang itu,” tegasnya.

Katipianus menambahkan, dia dan sejumlah petinggi di Sekolaq Darat sudah meminta bantuan perbaikan. Tetapi baru dilakukan penimbunan tanah pekan lalu.

“Baru hari Jumat lalu mereka perbaiki. Itupun hanya siram tanah aja,” katanya.

Salah satu jalan berlubang di RT 04 Kampung Sekolaq Muliaq kecamatan Sekolaq Darat yang dikeluhkan warga. Foto:RRI/Sdw/Andreas (12/4/2023).

Keresahan masyarakat akibat jalan rusak itu juga diakui kepala kampung Sekolaq Muliaq Nanang Agi.

Menurutnya, warga setempat mengeluh jadi korban debu akibat jalan rusak. Warga pun berulang kali mengadu namun mereka pasrah karena tak ada solusi.

“Kalau sudah panas itu mereka konvoi. Itu rumah sampai tidak kelihatan terkena debu semua. Sampai hari ini warga datang mengadu ke saya, tapi kita mau mengadu kemana,” keluhnya.

Dia hanya berharap pemerintah atau instansi berwenang mengatur kendaraan CPO dan batubara agar beroperasi pada malam hari.

“Karena kalau siang itu sangat-sangat mengganggu. Baik anak sekolah, pegawai maupun masyarakat umum,” harap Nanang.

BACA JUGA:

DPRD Dan Bupati Kubar Jawab Keluhan Jalan Rusak di Sekolaq Darat

Tumpukan Batu Bara Diduga Ilegal, DPRD Panggil Pemerintah

Warga RT 04 Kampung Muliaq, Sikap jadi salah satu yang paling merasakan dampak kerusakan jalan tersebut. Lantaran jalan rusak persis di depan rumahnya sehingga tiap hari dia dan keluarganya makan debu.

Bahkan Sikap terpaksa menyiram jalan secara sukarela. Usaha warung makan pun terpaksa ditutup pada siang hari.

“Selain lubang, otomatis debu karena rumah kita di pinggir jalan. Nah dengan debu ini otomatis menambah anggaran pengeluaran kita untuk menyiram jalan. Itu sangat mengganggu sekali. Warung makan juga saya tutup karena namanya debu ini biar tutup tetap masuk,” ungkapnya.

Dia tak mempersoalkan penggunaan jalan umum oleh angkutan CPO maupun batubara. Namun dia meminta volume angkutan dikurangi agar jalan tidak cepat rusak.

“Inilah yang mestinya diawasi oleh pihak-pihak yang berwenang. Karena ini memang ada pembiaran sampai jalan rusak begini. Mereka yang dapat untung kok kami yang jadi korban. Tolonglah pemerintah dan aparat itu bertindak.

“Kalau kami masyarakat ini takut karena banyak aturan. Nanti malah kami yang disalahkan kalau sampai kami tutup jalan umum,” ujarnya.

Korban debu jalanan juga dirasakan Junaidi, warga RT 4 kampung Sekolaq Muliaq.

Rumahnya yang hanya berjarak 3 meter dari pinggir jalan menjadi sarang debu. Alhasil saat kendaraan lewat, debu masuk sampai dapur dan kamar tidur.

“Kerugian akibat debu ini banyak, bayangkan satu mobil yang lewat ini berapa banyak debu yang masuk. Jadi penyakit itu kita tampung terus,” keluhnya.

BACA JUGA:

Polda Kaltim Turun Tangan Atasi Tambang Ilegal di Kubar

Sementara sejumlah warga di RT 5 Sekolaq Muliaq secara bergantian menyiram jalan umum. Hal itu terpaksa mereka lakukan karena tidak ada kepedulian dari pengusaha angkutan batu bara dan kelapa sawit. Pengawasan dari aparat maupun instansi terkait juga nihil.

“Kalau kami tidak menyiram seperti ini, semua debu masuk ke rumah. Kalau mereka nda percaya silakan cek ke rumah kami masing-masing. Jadi harapan kami tolong diperhatikan masalah kesehatan ini,” ucap Henri Bersama sejumlah warga usai menyiram jalanan.

Tidak hanya warga, ketua DPRD Kubar Ridwai juga mengungkapkan kekesalannya.

Lantaran dia dituding tak peduli dengan kerusakan jalan di kampung halamannya. Padahal sudah berulang kali dia menyampaikan aspirasi tersebut ke pengusaha tambang, sawit maupun ke pemerintah provinsi.

Namun belum direspon. Ridwai bahkan sampai turun tangan memaksa perbaikan jalan setelah warga mengancam blokir kendaraan CPO dan batubara.

“Saya minta mereka harus bertanggungjawab. Kalau ngga ya kami mau sistem buka tutup aja. Kalau masyarakat umum kita buka, tapi kalau sawit dan batubara ya kita tutup,” tegasnya.

Menurut Ridwai jalan dari Sekolaq Darat menuju Kecamatan Melak adalah jalan provinsi. Sehingga Pemda Kubar tidak bisa menganggarkan perbaikan.

Namun saat ini proyek perbaikan akan segera dilakukan usai lebaran.

“Ya itu pakai dana APBN. Sekarang alatnya sudah siap tapi katanya setelah lebaran baru mau dikerjakan,” pungkas Ridwai.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....