Kemunduran Politik, Politisi PSI Tolak Sistem Proporsional Tertutup

  • 30 Mei 2023 22:13 WIB
  •  Yogyakarta

KBRN, Yogyakarta: Politisi dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Raden Stevanus C. Handoko angkat bicara soal polemik perubahan sistem pemilu 2024 yang akan memakai sistem proporsional tertutup. R. Stevanus secara tegas menolak adanya sistem proporsional tertutup pada Pemilu 2024 mendatang.

“Untuk kesekian kali saya menolak perubahan sistem pemilu menjadi proporsional tertutup. Perubahan ini akan sangat mengganggu proses pesta demokrasi Indonesia yang akan diselenggarakan sebentar lagi," kata R. Stevanus anggota DPRD DIY, Selasa (30/5/2023).

Isu tersebut pertama kali disampaikan oleh ahli hukum tata negara, Denny Indrayana, melalui akun Twitternya, Minggu (28/5/2023). Dia menyebutkan bahwa Mahkamah Konstitusi (MK) akan memutuskan perubahan sistem pemilu tersebut.

Menurutnya, gagasan sistem pemilu proporsional tertutup menjadi sebuah kemunduran dalam politik di Indonesia. Jika sekadar mencoblos logo dan nomor urut partai, rakyat seperti memilih kucing dalam karung. Bahkan diungkapkan R. Stevanus, kedaulatan rakyat seperti terbelenggu suara kuasa dari partai politik.

“Sistem pemilu proporsional terbuka memungkinkan pemilih dapat memilih kandidat individu yang mewakili nilai-nilai dan kepentingan mereka, sehingga memperkuat representasi yang lebih inklusif dalam parlemen," ujar R. Stevanus.

Ia menyebutkan, sistem pemilu proporsional terbuka memberikan kesempatan kepada pemilih untuk memilih kandidat secara langsung, sistem ini mendorong partisipasi politik anak muda dan gen-Z yang lebih besar. Pemilih merasa memiliki keterlibatan langsung dalam pemilihan, yang dapat meningkatkan minat dan partisipasi mereka dalam proses politik.

“Kita berharap transparansi, keterbukaan, menjadi salah satu daya tarik anak muda untuk turut terlibat dalam politik. Sistem meritokrasi dalam pemilu menjadi harapan anak muda untuk terlibat aktif. Sistem proporsional terbuka menjadi sistem yang paling tepat untuk saat ini dengan kondisi bonus demografi yang sangat besar," ujar R. Stevanus, mengungkapkan.

R. Stevanus menjelaskan, pemilih saat ini didominasi oleh generasi millenial dan gen-Z yang memiliki pandangan lebih rasional terkait dengan kandidat yang akan dipilih dan mewakilinya di parlemen. Sistem pemilu proporsional terbuka mengurangi dominasi kaum elite dalam partai.

"Tidak hanya elit partai yang memiliki peluang besar untuk terpilih. Pemilih dapat memilih kandidat-kandidat yang memiliki kompetensi, kapasitas, pengalaman yang diharapkan dan tidak tergantung pada jaringan struktur oligarki kekuasaan yang ada," ucap R. Stevanus.

Ia menjelaskan, sistem pemilu proporsional terbuka mendorong semua kandidat baik incumbent maupun baru untuk memiliki ikatan hubungan yang lebih langsung antara pemilih dan kandidat.

"Ini menciptakan kebutuhan bagi kandidat untuk terus berkomunikasi dengan pemilih dan memperhatikan dan memperjuangkan aspirasi konstituennya. Sehingga memutus politikus yang pragmatis, mengandalkan uang, kekuasaan dan kedekatan dengan elite-elite partai yang berpotensi kepada nepotisme politik," ujar R. Stevanus, menegaskan. (yyw).

Rekomendasi Berita