Bincang Masalah Indonesia dalam Coffee Morning Lecture
- 03 Mar 2023 10:53 WIB
- Yogyakarta
KBRN, Yogyakarta: Membangun ruang dalam membincangkan ilmu pengetahuan yang membawa konteks dan permasalahan nasional, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Universitas Islam Indonesia (UII) untuk pertama kalinya menggelar Coffee Morning Lecture dengan mengusung isu Prospek dan Tantangan Penerapan Hydropower di Indonesia.
Dekan FTSP UII, Dr.-Ing. Ir. Ilya Fadjar Maharika, MA., IAI., mengatakan, perbincangan santai mengulas masalah yang ada di Indonesia dalam Coffee Morning Lecture yang digelar secara hybrid di ruang IRC Gedung FTSP UII akan menjadi agenda rutin setiap bulan.
"Tema awal ini disesuaikan dengan trend saat ini, dimana pak Presiden kita sudah sangat mendukung proses elektrifikasi. Tapi itukan di hilir, mobil, motor diberi insentif, pertanyaannya di hulunya bagaimana? Apa di hulu kita tetap akan bertahan dengan dirty energy," kata Dr. Ilya, dalam pembukaan Coffee Morning Lecture, Kamis (2/3/2023).
Melalui perbincangan ini, Dr. Ilya sebagai penggagas mengharapkan, ilmu pengetahuan tidak hanya menjadi menara gading yang tidak dipahami masyarakat, sekaligus mengurai suatu masalah untuk diperbincangkan demi kemajuan ilmu pengetahuan di Indonesia.
Pembicara utama, Ir. Eman Surachman, M.Texh., M.Eng, menyampaikan, energi nasional di tahun 2025 mendatang sesuai perjanjian yang ditandatangani presiden 2015 lalu ditargetkan 23persen, sedangkan saat ini energi nasional yang dimiliki baru tercapai 13persen.
Sehingga selama 2tahun, lanjut Ir. Eman harus mengejar sekitar 10persen dan itupun dinilai bukan hal yang tidak mungkin terjadi. Akan tetapi jika capaian tersebut tidak tercapai, maka Indonesia akan dikenakan denda.
"Dalam dua tahun naik sepuluh persen tapi itu unbelievable, karena kami menguruskan satu pembangkit tidak mudah. Saya dari 2017 mungkin ada Covid juga sampai saat ini baru proses tender, itu juga tidak besar hanya 50 megawatt," kata Ir. Eman.
Ir. Eman menegaskan, dalam assessment dewan energi nasional 2014 silam terdapat refleksi kondisi tahun 2050 dengan estimasi penduduk sekitar 330juta orang.
"Dari semua Energi Baru Terbarukan (EBT) saya lakukan mitigasi dan hanya tiga yang visible. Selama hujan masih terjadi dan air mengalir disitu akan menghasilkan energi," kata Ir. Eman, menambahkan.
Selain itu potensi geotermal dari gunung berapi yang hampir semua kepulauan di Indonesia memiliki. Sehingga lanjut Ir. Eman, akan menjadi energi renewble yang paling besar sedangkan Indonesia belum mampu dalam masalah pengeboran.
Pengeboran uap dalam memanfaatkan gunung berapi dilakukan kerjasama dengan luar negeri, dan hal tersebut diungkapkan Ir. Eman menjadi tingkat kemahalan dalam proses pengeboran. Karena dalam satu klaster pengeboran menggunakan anggaran sekitar Rp 150miliar.
"Efisiensi dari sepuluh pengeboran paling tidak didapatkan energi lima pengeboran dan memerlukan biaya cukup besar. Sehingga hanya dengan bunga bank yang rendah saja geotermal atau PLT Panas Bumi ini dapat dikerjakan," kata Ir. Eman.
Kondisi ini ditambahkan Ir. Eman Surachman, pada akhirnya Indonesia akan dikerjakan oleh orang-orang dari seluruh dunia yang datang ke Indonesia mengembangkan pembangkit tenaga listrik dari geotermal atau PLTP.
"Kita memiliki sumber daya energi yang luar biasa, akan tetapi kurang atau belum mampu untuk mengebor atau mengeksplorasi satu pembangkitan tersebut," ucap Ir. Eman.
Sedangkan ketiga, lanjut Ir. Eman, potensi hydropower yang dimiliki Indonesia dengan menggabungkan dua portofolio debit dan beda ketinggian untuk menjadi listrik.
"Jadi hydropower ini ciri-cirinya kita melihat sungainya mengalir deras berarti debitnya besar, karena debit itu melihat keluas penampang," ucap Ir. Eman.
Melalui konstruksi tersebut, Ir. Eman menyebutkan, sulit diterapkan di sungai pulau Jawa, karena terbentur konstruksi yang sudah ada dan kendala perizinan. Namun dapat dilakukan sistem dua kolam dengan tenaga pendorong pompa.
Itu semua ditambahkan Ir. Eman, semua daerah dapat mengupayakan, hanya saja tinggal bagaimana diberi keleluasaan masalah perizinan.
Sementara itu, dari Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO), Syakti Rahardiansyah memaparkan, pilar pengelolaan sumber daya air yang dilakukan melalui fungsi konservasi dengan membangun embung, pendayagunaan sumber daya air yang melingkupi pada renewble energy mikrohydro, pengendalian air rusak untuk mengurangi banjir, sistem informasi sumber daya air, dan pemberdayaan masyarakat.
"Yang di kami itu banyak yang dikerjasamakan dalam pembangunan PLTMH. Tugas dan fungsi renewble energi pada pengelolaan SDA itu diselenggarakan berdasarkan rencana penyediaan air dalam hal ini adalah rencana pengelolaan sumber daya air," kata Syakti Rahardiansyah.
Renewble energy di wilayah BBWSO dapat dilakukan perseorangan maupun badan usaha berdasarkan izin, sesuai PP 121 tahun 2016.
"Renewble energy menurut kami, jika dia menghasilkan tenaga lebih dari sepuluh megawatt maka kita akan menggunakan bendungan. Tetapi di bawah itu yaitu mikro dan mini 1 hingga di bawah 10 megawatt itu yang dipakai sungai dan saluran irigasi," kata Syakti Rahardiansyah, menambahkan.
Lebih lanjut ia menjelaskan, potensi kapasitas dari PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hydro ditaksir mencapai 12.800 MW, hal tersebut dapat dikembangkan dengan regulasi perizinan yang diharapkan tidak sulit.
Hanya saja, sesuai perundang-undangan BBWSO memiliki prioritas utama dalam masalah irigasi, dan air minum. Sedangkan energi masuk dalam kategori dan lain-lain.
"Mungkin ini perlu ditajamkan dalam regulasi berikutnya, bahwa dua hal itu energi yang menyebutkan bahwa presiden itu secara jelas mengarahkan kita sebagai produsen batrai ini menjadi momentum tepat untuk memberi ke regulasi itu agar lebih menjadi mainstream," ucap Syakti Rahardiansyah.
Syakti juga menyebutkan, jika dari kajian sungai Opak memiliki potensi untuk dapat dikembangkan menjadi renewble energy hydropower, BBWSO sangat terbuka dalam mendukung pengembangan tersebut.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....