Jelajah Tembok Naga Hitam, Dinding Batu yang Membentang di Pulau Jeju
- 30 Agt 2026 11:14 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pulau Jeju di Korea Selatan memiliki dinding batu hitam yang dikenal dengan nama batdam atau pagar batu ladang yang menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat setempat.
- Dinding batu ini tersebar di berbagai lahan pertanian dan memiliki panjang total lebih dari 22.000 kilometer jika disusun dalam satu garis lurus.
- Batdam bukan hanya fitur pertanian, tetapi juga merupakan bagian dari identitas budaya dan warisan alam Pulau Jeju yang melengkapi keindahan pantai dan pemandangan alamnya.
RRI.CO.ID, Jakarta – Pulau Jeju, Korea Selatan, tidak hanya dikenal karena pantai dan pemandangan alamnya. Di berbagai lahan pertanian, terdapat dinding batu hitam yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
Melansir Visit Jeju, dinding tersebut dikenal dengan nama batdam atau pagar batu ladang. Jika seluruh dinding itu disusun dalam satu garis, panjangnya mencapai lebih dari 22.000 kilometer.
Batdam dibuat menggunakan batu vulkanik yang banyak ditemukan di Pulau Jeju. Batu-batu tersebut berasal dari kondisi Jeju sebagai pulau yang terbentuk dari aktivitas gunung api.
Masyarakat Jeju memanfaatkan batu yang terdapat di sekitar lahan untuk membuat dinding. Cara tersebut membuat batu yang sebelumnya menjadi bagian dari tanah dapat digunakan untuk membantu kegiatan pertanian.
Fungsi utama batdam adalah melindungi lahan pertanian dari angin kencang. Dinding tersebut juga membantu mengurangi tanah yang terbawa angin serta menjaga tanaman tetap tumbuh di lahan terbuka.
Selain melindungi tanaman, batdam juga membantu mencegah hewan ternak masuk ke area pertanian. Keberadaannya membuat batas antara lahan pertanian menjadi lebih jelas.
Bentuk batdam tidak selalu berupa dinding batu yang lurus dan rapat. Susunan batunya justru memiliki celah yang memungkinkan angin melewati dinding tanpa langsung merusak tanaman.
Dinding batu tersebut kemudian membentuk garis yang berkelok mengikuti bentuk lahan di berbagai bagian Jeju. Dari kejauhan, rangkaian batu hitam itu terlihat seperti sesuatu yang membentang tanpa ujung.
Karena bentuknya yang panjang dan berkelok, batdam mendapat julukan Tembok Naga Hitam. Julukan tersebut menggambarkan bentuk dinding batu yang seolah bergerak melintasi berbagai lahan di pulau tersebut.
Keberadaan batdam juga menunjukkan bagaimana masyarakat memanfaatkan kondisi alam untuk bertahan hidup. Batu vulkanik dan angin yang menjadi tantangan pertanian justru dimanfaatkan untuk membangun sistem perlindungan bagi lahan.
Sistem tersebut telah bertahan selama lebih dari 1.000 tahun. Dalam perkembangannya, batdam tidak hanya berfungsi sebagai pagar, tetapi juga menjadi bagian dari lanskap dan budaya pertanian Jeju.
Pada 2014, Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa atau FAO menetapkan sistem pertanian Jeju Batdam sebagai Globally Important Agricultural Heritage System. Pengakuan tersebut diberikan karena nilai pertanian, budaya, lingkungan, dan pengetahuan tradisional yang dimilikinya.
Batdam juga membantu mempertahankan keanekaragaman hayati di sekitar lahan pertanian. Dinding batu tersebut menjadi bagian dari lingkungan pertanian yang berkembang bersama masyarakat selama berabad-abad. (Rahmania Ulfah)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....