Uswatun Hasanah 'Siti Hajar' Isteri Nabi Ibrahim AS

  • 22 Jun 2024 05:06 WIB
  •  Banjarmasin

KBRN, Banjarmasin: Kita mengkilasbalik potret karakteristik ibu/wanita/isteri yang patut menjadi teladan atau cerminan dalam kita menempuh perjalanan hidup sebagai seorang isteri dan ibu dari anak-anak kita. Salah satu potret yang bisa kita jadikan role model adalah isteri Nabi Ibrahim As.

Akademisi UIN Antasari Banjarmasin, Mariyatul Norhidayati Rahmah mengatakan Nabi Ibrahim AS memiliki dua istri yang bernama Siti Sarah dan Siti Hajar. Mereka merupakan wanita yang dipilih Allah SWT untuk melahirkan para nabi.

Dari istri keduanya, Siti Hajar, lahirlah anak pertama Nabi Ibrahim AS yang diberi nama Ismail AS. Dan dari istri pertama beliau, Siti Sarah, dikaruniai putra kedua yang bernama Ishaq AS ketika usia Siti Sarah sudah cukup tua.

Sarah merupakan wanita yang sangat cantik, tidak hanya secara fisik tetapi juga secara akhlak dan budi pekerti. Sarah begitu patuh dengan sang suami dan mengikuti risalahnya untuk beriman kepada Allah SWT," ujar Mariyatul pada acara Tablig udara di RRI Banjarmasin.

"Suatu hari, Sarah mendapat cobaan ketika ia masuk ke Mesir sebab kecantikannya membuat penguasa Mesir, Raja Firaun, ingin mempersuntingnya sebagai selir. Akan tetapi, kekokohan iman Sarah, doa-doanya yang begitu tulus akhirnya membuatnya lepas dari godaan raja.” ucapnya

Mariyatul juga mengatakan pada saat Sarah yang sudah semakin tua tak kunjung dikaruniai keturunan oleh Allah Swt. Atas Petunjuk Allah Swt., Sarah kemudian dengan ikhlas menawarkan suaminya untuk menikah dengan Hajar yang merupakan budak yang diberikan raja Mesir pada Sarah agar mendapatkan keturunan, sehingga dikaruniai putra bernama Ismail.

”Ketika Siti Hajar melahirkan putra pertama Nabi ibrahim AS yang bernama Ismail, kecemburuan Sarah muncul. Nabi Ibrahim AS lalu membawa Siti Hajar dan bayi Ismail keluar dari rumah mereka untuk meringankan kecemburuan Sarah,” ucapnya.

Mariyatul melanjutkan kisah Hajar yang telah ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim AS memberikan asi kepada anaknya, sedangkan air yang ada digunakan untuk diminum olehnya. Namun, semakin lama air itu pun habis hingga membuat ia dan anaknya kehausan sebab air susunya pun telah mengering.

“Dari kisah diatas, dapat kita ambil pelajaran bahwa perempuan harus siap hidup mandiri ketika suami tidak ada disisinya, terus berdoa dan berikhtiar, teguh dalam penderitaan, memiliki keimanan bahwa Allah selalu memberi pertolongan, perempuan apalagi seorang ibu akan memperjuangkan nyawanya demi anaknya.” ucapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....