Slowakia Cocok Jadi Pusat Komoditas Ekspor Indonesia
- 30 Jan 2023 22:29 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Duta Besar RI untuk Slowakia Pribadi Sutiono mengungkapkan potensi kerja sama di bidang ekonomi dan perdagangan dengan negara tempatnya bertugas. Terutama untuk komoditas berupa suku cadang mobil, kopi, hingga rempah-rempah.
Dubes Pribadi menyebutkan Slowakia yang terletak di tengah-tengah Eropa, cocok dijadikan sebagai pusat komoditas unggulan ekspor Indonesia. Saat ini kerja sama ekonomi dan perdagangan Indonesia-Slowakia sudah berjalan dinamis.
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan RI, total perdagangan Indonesia-Slowakia periode Januari-November 2022 mengalami peningkatan. Nilainya mencapai 35,32 persen dibandingkan periode yang sama pada 2021, yaitu dari USD45,3 juta (sekitar Rp679,4 miliar) menjadi USD 61,3 juta.
Komoditas ekspor utama Indonesia ke Slowakia berupa peralatan elektronik, alas kaki dan perlengkapan permesinan. Sebaliknya komoditas impor utama Indonesia dari Slowakia adalah peralatan permesinan, komponen kendaraan, dan instrumen medis.
Lantas seperti apa gambaran lengkap mengenai hubungan Indonesia dan Slowakia? Berikut wawancara RRI dengan Dubes Pribadi dalam kunjungan kerja di Jakarta pada 20-27 Januari 2023.
Apa saja agenda kunjungan kerja Anda ke Jakarta kali ini?
Paling utama adalah melakukan tidak lanjut dari berbagai kesepakatan yang sedang dirintis atau yang telah ditandatangani. Misalnya perjanjian kerja sama pertahanan antara Menhan Indonesia dan Slowakia.
Kemudian ada isu tentang kerja sama pengolahan tenaga surya, geotermal, hingga keamanan kawasan. Sebab, Slowakia berdekatan dengan Ukraina, Polandia, dan Rusia.
Apakah ada penandatanganan nota kesepahaman atau kontrak dengan pihak-pihak yang telah ditemui?
Sebenarnya ada rencana penandatanganan nota kesepahaman pendidikan antara universitas di Indonesia dan Slowakia. Namun karena sesuatu hal harus diundur sampai pekan depan.
Penundaan ini datang dari pihak Slowakia dengan isi kerja sama tentang pendidikan di bidang universitas. Artinya pertukaran mahasiswa maupun dosen double degree yang rencananya baru dilakukan pada 7 Februari 2023.
Sektor apa lagi yang berpeluang diperkuat dengan Slowakia?
Pertanian, sektor itu sangat penting buat Slowakia dan Indonesia. Pertanian di sana cukup maju dan Indonesia punya kebutuhan khusus dalam bahan pangan gandum.
Sebenarnya Indonesia dan Slowakia sudah memiliki kerja sama di bidang pembuatan gandum tropis, tetapi terhenti. Padahal proses pembibitan dan segalanya sudah bagus.
Mungkin dari pihak petani atau yang mengupayakannya tiba-tiba tidak mau melanjutkan. Namun kerja sama itu akan kami olah lagi.
Pada 2019 juga sudah ada kerja sama antaruniversitas di Slowakia dan Indonesia. Kampus yang bekerja sama adalah Universitas Andalas, sedangkan dari Slowakia itu Unversitas Nitra khusus pertanian.
Kerja sama alutsista juga bisa diperkuat. Selama ini sudah ada kerja sama antara beberapa beberapa produsen alusista Slowakia dengan beberapa perusahaan di Indonesia, misalnya Pindad.
Bagusnya adalah Slowakia itu mau melakukan transfer teknologi, riset bersama, dan produksi bersama. Kerja sama dalam energi terbarukan geotermal juga perlu diperkuat.
Slowakia adalah negara yang mempunyai kemampuan teknologi geotermal yang bagus. Mengingat mereka bagian dari cincin api di Eropa.
Meski itu sudah ribuan tahun yang lalu, tetapi mereka masih menemukan geotermal di dalam bumi lebih dari 10 kilometer. Teknologi itu bisa dimanfaatkan Indonesia.
Slowakia merupakan salah satu peserta Indonesia Central and Eastern Europe Business Forum (INA-CEE). Dalam dua kali penyelenggaraan, apakah terjadi peningkatan volume di sektor perdagangan antarkedua negara?
Memang ada perdagangan masuk dan bagusnya Indonesia masih surplus. Peningkatan khususnya di bidang suku cadang mobil.
Slowakia itu pembuat beberapa jenis kendaraan bagus yang menurut saya kelas tinggi, seperti Jaguar, Range Rover, Mercedes, VW, dan lain-lain. Indonesia bisa jualan suku cadang ke sana.
Berikutnya karena ada pembukaan banyak pabrik baru yang menunjang industri otomotif, para pekerja Indonesia sekarang akan ditempatkan di sana. Selama ini orang Indonesia yang bekerja dengan semikemampuan dan kemampuan penuh sekitar 150-an, tahun ini rencananya masuk sekitar 1.000 pekerja.
Para Pekerja Migran Indonesia (PMI) itu akan bekerja di pabrik maupun bidang lainnya. Misalnya hospitality Indonesia itu terkenal dengan terapis spa di Bali.
Kendala apa saja yang masih menghambat kerja sama ekonomi dan perdagangan kedua negara?
Kalau jarak bukan masalah, karena Indonesia juga berdagang dengan Prancis, Belanda, atau Inggris yang lebih jauh. Tantangan justru orang Indonesia masih kurang mengenal Slowakia.
Orang kita tahunya Cekoslowakia seperti yang dahulu. Padahal sudah menjadi dua negara yang berbeda.
Orang Slowakia juga melihat Indonesia sebelah mata karena kurang paham. Padahal Indonesia merupakan salah satu negara yang pertumbuhan ekonominya cukup tinggi di tengah Covid-19.
Indonesia juga negara dengan sumber daya alam dan manufaktur yang bagus. Sisi-sisi itulah yang perlu dijembatani.
Saya selalu mengatakan kepada teman-teman pengusaha yang mau berdagang di Slowakia agar jangan bisnis ritel, buka warung, atau kedai kopi. Penduduk Slowakia hanya 5,4 juta sehingga uang akan lama kembalinya.
Kalau mau ya jadikan Slowakia sebagai penghubung, semacam gudang atau tempat stok barang-barang yang dijual. Baik rempah-rempah, kopi, teh, aroma terapi, maupun beragam suku cadang mobil.
Dari Slowakia berbagai komoditas itu bisa disebarkan ke seluruh penjuru Eropa. Sebab negara ini ada di tengah-tengah Eropa, titik nol kilometernya ada di Slowakia.
Dan, ingat manfaatkan pelabuhan yang ada di selatan, jangan di utara lagi. Alasannya di utara sedang ada perang, kemudian juga mulai jenuh karena perjalanannya jauh dan mahal.
Kalau memakai pelabuhan di selatan harganya lebih murah dan komparatif. Selisih harga bisa setengah atau malah mungkin sepertiga dan jaraknya paling lama empat jam.
Bicara WNI yang ada di Slowakia sekarang ini jumlahnya berapa? Terus profesi mereka apa saja?
Seluruhnya itu 181 atau 182 orang, sudah termasuk yang di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) sekitar 20-30 orang. Sisanya WNI yang bekerja di pabrik perakitan mobil, asesoris mobil, terapis spa, atau juru masak di hotel-hotel.
Dari situ saya ingin mengatakan ada beberapa alasan potensi perdagangan Indonesia di Slowakia bisa meningkat. Pertama, karena Slowakia ada di tengah Eropa, kedua dampak perang tidak begitu terasa di Slowakia.
Ketiga atau yang terakhir harga-harga di Slowakia itu relatif lebih murah. Tentu saja jika dibandingkan dengan negara-negara Eropa yang sudah maju.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....