Pembatasan Sosmed Anak Membantu Orang Tua Dalam Parenting
- 03 Feb 2025 12:09 WIB
- Yogyakarta
KBRN, Yogyakarta: Adanya wacana untuk pembatasan sosial media bagi anak-anak disambut baik oleh para ibu, karena bila hal ini benar-benar akan dilaksanakan maka akan membantu orang tua dalam melakukan parenting untuk pembatasan penggunaan sosial media karena saat ini sudah banyak keluhan dari orang tua merasakan kesulitan melakukan pembatasan ini terhadap anak-anaknya. Hal ini diungkapkan Sukiratnasari, Bidang Sosialisasi dan Advokasi Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kota Yogyakarta dalam segmen wawancara Bersama Prima Hapsari di Acara Warta Pagi, Senin (3/2/2025).
“Namun tentunya harus kita kaji lebih lanjut terkait pembatasan medsos ini seperti apa bentuknya gitu ya. Kalau kemudian pembatasan sosmed ini dengan pembatasan pemakaian usia pengguna nah sekarang sosmednya anak-anak itu rata-rata dibuatkan oleh orang tuanya, di palsu lah umurnya gitu ya jadi kalau misalnya ini mau disaring istilahnya di filter ya mereka enggak akan kena gitu karena pasti usianya di atas minimal di atas 12 tahun ya 17-18 seperti itu,” ujar Sukiratnasari yang akrab di panggil Kiki.
Menurut Kiki bahwa bila medsos ini di salah gunakan maka sang anak juga akan menjadi pelaku, bukan hanya menjadi korban dari sosmed-nya itu sendiri. Hal ini juga bisa berdampak pada kesehatan.
”Sebetulnya sosmed ini punya beberapa dampak kalau memang tidak dibatasi penggunaannya, seperti kualitas konsentrasi anak. Kalau dia biasa scroll untuk sosmed atau melihat video pendek YouTube dia hanya akan bertahan konsentrasinya itu dengan durasi yang sama dengan tontonan yang dilihat, seperti 30 detik atau 1 menit gitu. Kemudian kalau YouTube itu kalau untuk postingan-postingan pendek itu sekitar 1 sampai 5 menit, ini juga akan mempengaruhi kualitas konsentrasi mereka,” ucapnya.
Ditambahkan Kiki, hal ini juga secara tidak langsung dapat berpengaruh pada stunting, karena ibu juga asik pegang HP lalu kemudian atau misalnya pengasuhnya itu sendiri juga jadi tidak sempat ngasih makanan ke anak karena sibuk di depan HP terus.
”Kemudian yang kedua bila anak usia dewasa dia sudah mulai melihat bagaimana bentuk tubuh ideal yang ada di sosmed, yang kemudian membuat mereka ingin memiliki bentuk tubuh seperti selebriti yang ada di sosmed sehingga makannya jadi dikurangin,”ujarnya.
Hal ini bukan karena orang tuanya tidak mampu memberikan makanan yang baik gitu ya tapi memang dia punya body go seperti selebriti yang dilihat di sosmed. Hal ini juga akan mempengaruhi kualitas tidur juga, karena pasti larut malam tidur mereka.
”Pembatasan ini juga kalau misalnya dilakukan ternyata pengaruhnya akan lebih baik terhadap interaksi sosial, biasanya anak setelah pulang sekolah masuk kamar dan langsung akses medsos sampai malam, bahkan tidak sempat untuk makan, bahkan ada beberapa anak teman saya yang sampai mengalami iritasi saluran kencing karena menahan menahan buang air kecil. Bahkan ketika ada sosmed atau game yang terkena paparan pornografi dan kekerasan. Kita tahui di Negara Indonesia untuk mem- filter konten-konten pornografi dan kekerasan masih kurang,” ujarnya.(Wulan/Rini)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....