Pengrajin Perak di Desa Celuk Sukawati Banyak Beralih Profesi

  • 08 Agt 2024 13:34 WIB
  •  Denpasar

KBRN, Gianyar : Desa Celuk yang terletak di Kecamatan Sukawati, Gianyar, Bali, telah lama dikenal sebagai pusat kerajinan perak yang memukau. Desa ini tidak hanya terkenal di kalangan wisatawan lokal, tetapi juga menarik minat pengunjung mancanegara yang mencari kerajinan tangan berkualitas tinggi.

Sejak puluhan tahun lalu, masyarakat Desa Celuk telah mengembangkan keterampilan mereka dalam membuat perhiasan dan barang-barang dari perak. Keahlian ini diwariskan secara turun-temurun, memastikan setiap generasi memiliki kemampuan dan pengetahuan untuk menghasilkan karya seni yang indah. Para pengerajin di sini terkenal dengan detail yang halus dan desain yang rumit, mencerminkan budaya Bali yang kaya dan artistik.

Salah satu pengerajin perak di Desa Celuk Sukawati I Wayan Nasa berusia 67 tahun mengatakan sudah 50 tahun menjadi pengrajin perak.

"Tiang (saya) sudah 50 tahun menjadi pengerajin perak, dan pada tahun 80 an sampai tahun 2000 an warga di sini hampir 100 % menjadi pengerajin perak, mulai dari orang tua dan anak -anak karena banyaknya peminat perak pada waktu itu. Setelah Bom Bali 1 orderan perak mulai sepi, dan warga banyak yang beralih profesi,salah satu nya menjadi tukang bangunan dan tukang banten untuk mencari penghidupan yang lebih stabil,” tuturnya

Dia juga mengatakan banyak artshop - artshop impor perak dari Thailand yang menggunakan sistem castingan atau cetakan dengan harga yang jauh lebih murah membuat pengerajin perak tradisional di celuk menjadi sepi orderan.

"Kalau tiang (saya) masih menggunakan sistem tradisional ,dimana kalau mengerjakan cincin yang ada motif ukirannya saya masih menggunakan penatahan untuk mengukir dan itu membutukan waktu 1 sampai 2 hari untuk proses pengukirannya tergantung besar kecilnya motif ukiran. Tetapi untuk taksunya jangan di ragukan lagi," imbuhnya sambil tertawa.

Wayan Nasa berharap kepada pemerintah dan dinas terkait agar memberikan fasilitas berupa alat penindesan dan alat polis mengingat sudah banyak alat- alatnya yang rusak.

“Kami perlu alat tersebut agar pengerajin perak tradisional seperti tiang (saya) masih bisa bekerja dan tetap melestarikan warisan leluhur," ujarnya

Meski begitu, semangat dan kreativitas para pengerajin perak tidaklah pudar. Banyak dari mereka yang mencoba untuk beradaptasi dengan memanfaatkan teknologi dan inovasi dalam menciptakan produk-produk baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar saat ini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....