Lirik dan Arti Lagu Delik Delikan Denny Caknan dan Abah Lala
- 18 Des 2024 00:26 WIB
- Surakarta
KBRN, Surakarta: Lagu 'Delik-Delikan' yang dinyanyikan oleh Denny Caknan dan Abah Lala tidak hanya memikat dari segi musikalitas, tetapi juga menyentuh hati dengan liriknya yang penuh emosi. Lagu ini mengisahkan tentang hubungan cinta yang terhalang oleh keadaan, hingga harus berakhir dengan penerimaan.
Dalam liriknya, tergambar rasa cinta yang mendalam, tetapi juga getirnya kenyataan bahwa hubungan tersebut tidak dapat dilanjutkan. Lirik seperti "Iki terakhir ngerangkul kowe, dirampungi delik-delikane" menunjukkan keikhlasan untuk melepaskan demi kebaikan bersama.
Melalui alunan musik yang khas, lagu ini mengajak pendengar untuk merenungi arti cinta sejati yang tidak selalu tentang memiliki, tetapi juga tentang merelakan. Hal ini membuat banyak orang merasa terhubung secara emosional dengan pesan lagu tersebut.
Lagu ini bisa didengar melalui Radio Pro4 RRI Surakarta di FM 95,2 MHz atau streaming via aplikasi RRI Digital. Untuk detail acara, pendengar dapat menghubungi nomor WhatsApp 089520895244 atau mengunjungi tautan s.id/pro4rrisurakarta.
Berikut Lirik Lagu Delik-Delikan - Denny Caknan ft. Abah Lala
Denok...
(Manis...)
Iki terakhir ngerangkul kowe
(Ini terakhir aku memelukmu)
Dirampungi delik-delikane
(Akhiri semua sembunyi-sembunyinya)
Podo terimo kahanane
(Sama-sama menerima keadaannya)
TV ne mati, lampune yo mati
(TV-nya mati, lampunya juga mati)
Koyok peteng ati iki
(Seperti gelapnya hati ini)
Deg-degkan ngenteni ending cerito
(Deg-degan menunggu akhir cerita)
Mergo wes kebacot gowo roso
(Karena sudah terlanjur membawa rasa)
Sebening air
(Sejernih air)
Kumencintai dirimu
(Aku mencintaimu)
Tapi ramungkin iso sesandingan
(Tapi mungkin tidak bisa bersama)
Ra ngerti nganti kapan bertahan
(Tidak tahu sampai kapan harus bertahan)
Kopi... pait dadi kancaku
(Kopi pahit menjadi temanku)
Dadi saksi dalan ceritoku
(Menjadi saksi perjalanan ceritaku)
Perjalanan tresno seng kleru
(Perjalanan cinta yang salah arah)
Denok...
(Manis...)
Iki terakhir ngerangkul kowe
(Ini terakhir aku memelukmu)
Dirampungi delik-delikane
(Akhiri semua sembunyi-sembunyinya)
Podo terimo kahanane
(Sama-sama menerima keadaannya)
Sebening air
(Sejernih air)
Kumencintai dirimu
(Aku mencintaimu)
Tapi ramungkin iso sesandingan
(Tapi mungkin tidak bisa bersama)
Ra ngerti nganti kapan bertahan
(Tidak tahu sampai kapan harus bertahan)
Kopi... pait dadi kancaku
(Kopi pahit menjadi temanku)
Dadi saksi dalan ceritoku
(Menjadi saksi perjalanan ceritaku)
Perjalanan tresno seng kleru
(Perjalanan cinta yang salah)
Denok...
(Manis...)
Iki terakhir ngerangkul kowe
(Ini terakhir aku memelukmu)
Dirampungi delik-delikane
(Akhiri semua sembunyi-sembunyinya)
Podo terimo kahanane
(Sama-sama menerima keadaannya)
TV ne mati, lampune yo mati
(TV-nya mati, lampunya juga mati)
Melalui lirik ini, Denny Caknan dan Abah Lala menyampaikan cerita cinta yang harus berakhir karena keadaan. Pesannya jelas, bahwa cinta sejati tidak hanya tentang kebahagiaan, tetapi juga keikhlasan untuk melepaskan. Perjalanan cinta yang digambarkan dalam lagu ini sering kali menjadi cerminan kisah nyata banyak orang, sehingga resonansi emosinya terasa begitu kuat. (Nur Rohim/Penyiar)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....