Trend Asia Gaungkan Aksi Iklim di Rock Solo
- 16 Des 2024 21:59 WIB
- Surakarta
KBRN, Surakarta: Festival musik tahunan Rock in Solo tak hanya menjadi ajang unjuk gigi para musisi metal, tetapi juga wadah kampanye isu sosial. Tahun ini, Trend Asia memanfaatkan momentum tersebut melalui Trend Asia Corner untuk menyuarakan kampanye #BersuaraTiapHari, Sabtu (14/12/2024).
Kampanye ini mengajak masyarakat, khususnya penikmat musik metal, untuk terus bersuara menghadapi berbagai krisis, termasuk krisis iklim. Tim Kampanye dan Advokasi Trend Asia, Irfan Alghifari, menegaskan pentingnya peran suara rakyat.
“Kampanye #BersuaraTiapHari dimulai sejak Pilpres 2024 lalu. Ini adalah pengingat bahwa suara kita sebagai rakyat tidak hanya penting saat pemilu, tapi sepanjang waktu, terutama dalam mengawal kebijakan pemerintah,” ungkap Irfan.
Ia menyoroti dampak nyata krisis iklim di Indonesia, seperti penurunan pendapatan petani akibat cuaca ekstrem hingga ancaman banjir di berbagai wilayah.
“Saat ini pemerintah justru semakin bergantung pada industri ekstraktif yang memperparah krisis iklim,” katanya menambahkan.
Di Trend Asia Corner, pengunjung disuguhi berbagai aktivitas, seperti diskusi bersama masyarakat adat dan musisi, pemutaran film, stand-up comedy, hingga permainan interaktif. Selain itu, fasilitas photo booth dan sablon kaos gratis bertema #BersuaraTiapHari juga menjadi daya tarik tersendiri.
Dalam acara juga diisi dengan peluncuran video klip Prahara Jenggala hasil kolaborasi Trend Asia dan band metal asal Surakarta, Down For Life. Video ini mengangkat kisah masyarakat adat Dayak Kualan Hilir di Kalimantan Barat yang terancam kehilangan hutan adat mereka akibat ekspansi perusahaan.
Vokalis Down For Life, Stephanus Adjie, menegaskan musik mereka tidak hanya tentang ekspresi, tetapi juga perlawanan. Bagi para musisi metal, kondisi negara 2-3 tahun belakangan ini memantik untuk mengeluarkan amarah lewat karya.
"Kami juga ingin mengajak para pendengar untuk peduli bahwa kerusakan lingkungan terjadi karena pemerintah kita yang kecanduan dengan pembangunan yang mengabaikan kemanusiaan dan itu memicu ketimpangan sosial, orang kaya yang merebut ruang masyarakat adat,” ujar Stephanus Adjie.
Sementara itu, Pengampanye Bioenergi Trend Asia, Amalya Oktaviani, menambahkan, deforestasi untuk perkebunan skala besar tak hanya merugikan masyarakat adat. Tetapi juga memperparah krisis iklim.
“Yang kita butuhkan sekarang dalam menghadapi krisis iklim adalah dorongan ke energi bersih, terbarukan yang berkelanjutan. Serta mulai mendorong pengelolaan sumber daya, baik itu energi dan hutan berbasiskan komunitas masyarakat,” ujar Amalya Oktaviani.
Melalui kampanye ini, Trend Asia berharap publik terinspirasi untuk terus #BersuaraTiapHari dalam memperjuangkan keadilan lingkungan dan sosial. (Dania)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....