Gagasan Luar Biasa M Tabrani

  • 11 Nov 2023 07:36 WIB
  •  Surabaya

KBRN, Surabaya : Modal sosial dalam pembangunan bangsa ini adalah kekuatan persatuan Indonesia dengan beralaskan bahasa (persatuan) Indonesia yang digagas dan diperjuangkan oleh M. Tabrani. Ada tiga gagasan luar biasa Tabrani terkait bahasa Indonesia yang selalu diperjuangkan hingga akhir hayatnya, yaitu pertama gagasan melahirkan bahasa Indonesia dari induk bahasanya (1926) sebelum peristiwa ikrar akbar Sumpah Pemuda 1928 (butir ikrar ketiga: menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia). Kedua, gagasan melembagakan bahasa Indonesia. Ketiga, gagasan penggunaan bahasa Indonesia di bidang pers Indonesia. Tiga landasan tersebut merupakan alasan utama mengapa sang penggagas bahasa persatuan Indonesia, M. Tabrani akhirnya bisa dikukuhkan menjadi pahlawan nasional pada tanggal 10 November 2023.

M. Tabrani Bernama lengkap Mohammad Tabrani Soerjowitjitro dan lahir di Pamekasan, Jawa Timur pada 10 Oktober 1904. Tabrani menempuh sekolah dasar di Sekolah Bumiputra (Hollands Inlandse School/HIS). Tabrani tinggal bersama neneknya karena sang ayah menjadi pegawai pamong praja di Kecamatan Pakong. Tabrani diajari bahasa Jawa oleh neneknya yang pandai menembangkan tembang-tembang Jawa dan menerjemahkannya dalam bahasa Madura. Tabrani memiliki kemampuan belajar bahasa dengan cepat hingga kelak menjadi seorang polyglot (menguasai banyak bahasa). Tabrani menempuh Sekolah Menengah Pertama (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs/MULO) di Praban, Surabaya (1917—1920). Tahun 1918, saat masih duduk di Kelas 1, M. Tabrani masuk dan aktif dalam organisasi pergerakan Jong Java. Pada tahun itu pula, pada usia 14 tahun, M. Tabrani menjadi wakil Surabaya mengikuti Kongres Jong Jawa Pertama di Solo. impin redaksi Hindia Baru (1925—1926).

Tabrani memutuskan berangkat ke Belanda untuk belajar jurnalistik dan ilmu persuratkabaran. Di Belanda. Tabrani membantu menjadi jurnalis di surat kabar harian De Telegraaf, Rotterdamsc Niewsblad, dan Het Volk sambil tetap menulis untuk beberapa pers di Indonesia. Kemudian, ia pergi ke Jerman menemui Prof. Dr. Emil Dovifat (pemimpin Deutsches Institut für Zeitungskunde) yang memberinya saran supaya mengikuti kuliah-kuliah soal politik dan ekonomi sebagai bekal menjadi jurnalis di Indonesia yang masih dalam kondisi terjajah. Selama di Jerman, ia bekerja di PRESSA dan mengikuti kuliah-kuliah sebagai pendengar dengan rekomendasi dari Prof. Emil Dovifat. Pada akhir masa kuliah, M. Tabrani membuat skripsi atau laporan akhir yang kemudian diterbitkan menjadi buku berjudul Ons Wapen yang terbit di Belanda pada September 1929. Ons Wapen artinya ‘senjata kita’. Yang ia maksud sebagai senjata itu ialah pers nasional Indonesia beserta organisasinya. Hal itu sesuai dengan cita-citanya sejak kecil yang ingin menjadikan surat kabar sebagai senjata untuk mencapai Indonesia merdeka tanpa kekerasan.

Menjelang akhir masanya, Tabrani tidak berhenti berkiprah meskipun tidak lagi aktif di surat kabar sebagai jurnalis. M. Tabrani berkecimpung di bidang ekonomi dengan melakukan kegiatan ekspor impor, berbisnis. Meskipun demikian, M. Tabrani tetap menulis secara lepas untuk surat kabar dan memberikan ceramah untuk menyemangati generasi muda supaya memperkuat rasa nasionalisme. Perjuangan M. Tabrani dalam pergerakan nasional yang sudah dimulai sejak kelas 1 MULO mendapat pengakuan dari Departemen Sosial sebagai tokoh Perintis Pergerakan Kebangsaan/Kemerdekaan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Sosial No. 21/II/75/PK Tanggal 19 Februari 1975.

Kepeloporan M. Tabrani dalam menggagas bahasa persatuan Indonesia sangat konsisten hingga akhir hayatnya. Sikap M. Tabrani juga sangat konsisten untuk tidak menonjolkan kelebihan dan perannya. Sebagai jurnalis, M. Tabrani berprinsip bahwa sejarah harus ditulis secara jujur, tidak boleh dipalsukan. Prinsip itulah yang memotivasi M. Tabrani menyusun autobiografi berjudul Anak Nakal Banyak Akal (1979) yang menceritakan kehidupan M. Tabrani sejak lahir 1904 hingga tahun 1931. M. Tabrani meninggal dunia pada tanggal 12 Januari 1984 di Jakarta. Telah banyak yang dilakukannya untuk kemasalahatan manusia Indonesia. Tabrani mengabdikan dirinya dengan tulus ikhlas untuk kemanusian melalui perjuangan pergerakan bahasa persatuan Indonesia. Setelah wafat pun M. Tabrani masih mendapat penghargaan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi sebagai Penggagas Bahasa Persatuan Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 85161/MPK/KP/2019 Tanggal 6 Agustus 2019

Rekomendasi Berita