Dari ‘Mainstream’ Menuju Koplo

  • 07 Sep 2026 10:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Dangdut modern gaya Denny Caknan (DC) semakin berkembang karena fleksibilitas berkolaborasi dengan berbagai genre, terutama musik pop yang memperluas jangkauan penikmatnya.
  • Perbedaan utama dangdut modern dengan dangdut mainstream terletak pada struktur lagu: dangdut modern menggunakan intro bergaya pop sebelum memasukkan irama kendang atau koplo di tengah lagu.
  • Kolaborasi dangdut-pop memfasilitasi pertukaran genre antar penyanyi, memungkinkan artis pop nyaman menyanyikan dangdut dan sebaliknya, seperti yang dilakukan Lesti Kejora, Via Vallen, Elvy Sukaesih, Hetty Koes Endang, dan Judika.

.

Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)

JELAJAH dangdut di jagat musik Indonesia kian jauh. Ini disebabkan dangdut lebih lentur berkolaborasi dengan genre apapun terutama musik pop. Format sebagian besar lagu dangdut modern (gaya Denny Caknan=DC) makin terasa bedanya dengan ‘dangdut mainstream’. Dangdut arus utama yang lebih dulu ada, sangat akrab di keseharian warga. Ia sering diputar di bus-bumel, angkutan kota, di kabin truk, atau perhelatan di pinggir kota. Iramanya dari awal hingga akhir lagu, penuh ketukan kendang.

Sedangkan dangdut modern (DC), awal lagu (intro) umumnya lebih bergaya pop, baru di tengah melantun suara kendang atau koplo. Masuknya irama pop ke koplo dengan sendirinya memperluas jangkauan penikmat dangdut. Banyak penyanyi pop yang akhirnya nyaman melagukan dangdut; Lesti Kejora, Via Vallen, Elvy Sukaesih, Hetty Koes Endang, bahkan Judika. Sebaliknya penyanyi asli dangdut juga leluasa bernyanyi pop.

Dari Banyuwangi lagu Osing datang menjemput. Terimakasih kepada biduan jelita Suliyana yang membawa standar baru musik daerahnya pada lagu-lagu ciptaan DC, menggabungkan ‘beat’ koplo dengan balada yang memukau. Bahasa Osing sangat puitis dibalut aransemen oleh Suliyana bersama grupnya GLAM Acoustic. Banyak lagu DC diaransemen lebih menarik oleh GLAM. Kendang kempul khas Osing ternyata rancak berpadu dengan koplo. Di Pulau Lombok, peralatan dangdut diangkut dengan gerobak diiringi muda-mudi penyanyi. Mereka berpentas di sepanjang jalan desa, sambil berjalan kaki. Nama grupnya ‘Irama Dopang’ dengan penyanyi andalan Nia Dirgha.

Jelajah dangdut juga sukses merembes ke para sinden ‘ringgit wacucal’ (wayang kulit). Tengoklah adekan ‘Limbukan’ atau ‘Gara-gara Punakawan’ di pagelaran dalang Sun Gondrong, Pak Eko, Widyo Kongko, Purbo Asmoro, Rudy Gareng, Sigit Arianto dari Rembang, dan dalang wanita Eliza Orkarus Allaso dari Lambelu. Selain seperangkat gamelan lengkap, para dalang ini menyiapkan alat musik lengkap untuk dangdut. Pesinden Silvy Kumalasari dan Dike Sabrina sukses bermigrasi ke panggung dangdut. Dalang muda Ki Bayu Aji (putra dalang kondang Ki Anom Suroto) dan ‘Raja Utube’ almarhum Ki Seno Nugroho menolak dangdut menyatroni gending dan gamelan Jawa.

Limbukan dan dagelan Gareng-Petruk kini cenderung memborong pagelaran. Banyak waktu tersita untuk hiburan, semuanya gara-gara dangdut kian menarik. Pagelaran bercampur musik tentu saja tak ditemukan pada era klasik Ki Nartosabdo, Ki Anom Suroto, Ki Manteb Sudarsono, Timbul Hadiprayitno, Purbo Asmoro.

Berapa Nilai Pasarnya

Sebagai karya seni yang masuk industri hiburan, dangdut sanggup menciptakan nilai pasar yang signifikan. Para pelakunya beroleh mata pencaharian yang memadai, untuk ukuran masyarakat umum. Sebagian mencapai kemakmuran aduhai, seperti Lesti Kejora, Inul Daratista, Denny Caknan. Sebagian lainnya hidup berkecukupan meski tidak mewah. Setidaknya bisa membangun rumah dan membeli mobil bagus. Pencipta lagu yang langsung meledak seperti DC, beda cerita karena sudah mengantongi royalti jumlah besar.

Meski potensi bisnis dangdut belum terpetakan dalam angka nominal, data Skala Survei Indonesia (SSI), dangdut merupakan genre musik yang paling disukai oleh 58,1 persen masyarakat. Angka ini jauh mengungguli musik pop yang hanya 31,3 persen. Pasar panggung musik dangdut juga mengalir di berbagai acara. Panen raya mereka terjadi saat kampanye politik dan peringatan hari-hari besar. Penyanyi dangdut papan atas pun cukup fantastis dengan tarif antara Rp50 juta hingga ratusan juta rupiah sekali tampil.

Sedangkan potensi nilai royalti berdasarkan laporan organisasi Anugrah Royalti Dangdut Indonesia (ARDI) mampu mencapai miliaran rupiah. Namun realisasinya angka ini bisa jatuh ke puluhan juta saja, akibat belum terintegrasinya pusat data lagu-lagu yang beredar. Potensi nilai pasar dangdut sangat besar didorong oleh konsumsi digital melalui platform streaming. Dangdut modern mendominasi ratusan juta views di YouTube serta puluhan juta streams di Spotify secara konstan. Ini menghasilkan pendapatan digital yang sangat besar bagi label independen maupun kreator konten daerah. Penyebab anjloknya royalti musik dangdut pernah disorot Rhoma Irama. Royalti yang diterima ARDI anjlok drastis dari miliaran rupiah menjadi hanya sekitar Rp25 juta, padahal jumlah anggota ARDI mencapai sekitar 300 orang.

Hal ini dinilai menimbulkan pertanyaan besar terkait mekanisme distribusinya, khususnya terjadi menjelang momen Lebaran atau kampanye politik. Rhoma juga menyoroti proses perubahan menuju sistem baru yang belum diiringi kesiapan matang. Kelemahan sosialisasi maupun implementasinya berpotensi menimbulkan kisruh pembagian royalti. Sebagai bentuk empati, Rhoma pernah memberikan bantuan pribadi sebesar Rp100 juta untuk para anggota.

Honor Selangit

Sumber tirto.id mengutip data Global IFPI yang dirilis Believe, mencatat total pendapatan musik di Indonesia pada 2022 mencapai USD75,4 juta, meningkat 36,7 persen dibandingkan 2021. Believe, perusahaan musik digital yang berasal dari Prancis, menyebut rata-rata pendapatan dari streaming musik di Indonesia meningkat 35 persen per tahun. Tak sampai 1 persen penduduk Indonesia yang berlangganan paket premium untuk streaming musik. Ini kontras dengan kebiasaan penduduk yang senang mendengar musik. Pasar yang dominan di ranah streaming musik adalah Spotify, YouTube (termasuk YouTube Musik dan Shorts), Resso, Tiktok, Apple Music, juga Langit Musik. Diduga rendahnya tingkat pelanggan berbayar di Indonesia disebabkan rendahnya penetrasi kartu kredit.

Kabar baiknya, honor penyanyi dangdut papan atas kini tak kalah dengan artis pop atau bahkan aktor film layar lebar. Lesti Kejora bernilai Rp350 Juta. Jebolan ajang pencarian bakat ini kini menjadi ratu honor tertinggi di dangdut Indonesia. Itu belum termasuk saweran. Setara dengan Lesti, Inul Daratista pun bisa meraih Rp350 Juta. Ia sering tampil di acara besar seperti konser dan pesta mewah.

Dominasi penyanyi pria dipegang Denny Caknan bertarif Rp130 Juta. Bukan cuma laris di Jawa Timur, Denny juga rutin manggung ke luar pulau dan negeri tetangga. Ayu Ting Ting meraih sekitar Rp100–200 Juta selain penyanyi dangdut, ia juga presenter, selebgram, dan aktris. Gaya centil dan suara khasnya masih jadi favorit berbagai acara TV dan off-air. Rhoma Irama sebagai legenda dangdut bersama Soneta masih bernilai Rp100 Juta. Dewi Persik pun masih bernilai Rp90 Juta.

Akan halnya pendapatan penyanyi lokal Pantura yang berkeliling dari kota ke kota, masih di bawah itu. Meski tak selangit, honor mereka cukup memadai. Apalagi kalau tampil di sentra pelabuhan perikanan seperti Brondong (Tuban), Juwana, Pekalongan. Di sana para juragan kapal akan berebut menyawer biduan hingga terjadi hujan uang.

Kini di tengah demam koplo, datang mesin penciptaan baru, yaitu kecerdasan buatan (AI/Artificial Intelligent). AI mengubah sebagian lagu dangdut yang tengah popular. Adakah AI akan menghambat laju dangdut, atau justru akan menerbangkannya lebih tinggi. Mana lebih menarik, hadir di panggung penyanyi orisinal ataukah menonton produk mesin AI?

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....