Belajar dari Andong: Menjaga Peradaban Melalui Ilmu Pengetahuan dan Budaya
- 11 Jul 2026 01:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- The Korean Studies Institute di Andong, Korea Selatan, berdiri sejak 1995
- Dosan Seodang didirikan pada 1561 oleh filsuf Korea Yi Hwang (Toegye) sebagai pusat pendidikan Konfusianisme
- Perpaduan antara bangunan tradisional berusia lebih dari empat setengah abad dengan fasilitas penelitian mutakhir
HARI ini, 10 Juli 2026, melalui undangan Mr. Lee dan Dr. Eun-Ju Choi, Ph.D. in Literature, Director, Bureau of Korean Studies Foundation, saya berkesempatan mengunjungi The Korean Studies Institute di Andong, Provinsi Gyeongsangbuk-do, Korea Selatan. Institut yang berdiri sejak tahun 1995 ini memiliki peran penting dalam mengumpulkan, melestarikan, meneliti, dan mendigitalisasi berbagai naskah kuno serta warisan intelektual Korea yang telah berusia ratusan tahun.
Kunjungan ini menjadi pengalaman yang sangat berharga sekaligus menghadirkan ruang refleksi tentang bagaimana sebuah bangsa membangun masa depan tanpa meninggalkan akar sejarah, budaya, dan tradisi keilmuannya. Dari Andong, saya melihat bahwa kemajuan sejati selalu bertumpu pada kemampuan menjaga kesinambungan antara warisan masa lalu dan kebutuhan masa depan.
Di kawasan Dosan yang menjadi pusat kegiatan The Korean Studies Institute, saya juga mengunjungi kompleks bersejarah Dosan Seodang dan Dosan Seowon, yang merupakan salah satu pusat pendidikan Konfusianisme terpenting dalam sejarah Korea. Dosan Seodang didirikan pada tahun 1561 oleh filsuf besar Korea Yi Hwang (Toegye) sebagai tempat mengajar dan mengembangkan tradisi keilmuan, sedangkan setelah beliau wafat pada tahun 1570, para murid mendirikan Dosan Seowon yang diresmikan Raja Seonjo pada tahun 1575 sebagai akademi Konfusianisme sekaligus penghormatan kepada gurunya.
Yang mengagumkan, bangunan-bangunan yang telah berusia lebih dari empat setengah abad tersebut tetap dipertahankan dalam bentuk aslinya. Bagi masyarakat Korea, tempat ini bukan sekadar peninggalan sejarah, melainkan simbol penghormatan terhadap ilmu pengetahuan, pendidikan, dan warisan intelektual yang menjadi fondasi kemajuan bangsa.
Menariknya, tepat di samping kawasan bersejarah tersebut berdiri gedung modern The Korean Studies Institute yang dilengkapi pusat penelitian, perpustakaan, laboratorium konservasi, serta fasilitas digitalisasi arsip. Di dalamnya tersimpan ratusan ribu manuskrip kuno, buku cetak balok kayu (woodblocks), silsilah keluarga (jokbo), dan berbagai dokumen sejarah yang dirawat dengan standar konservasi modern.
Perpaduan antara bangunan tradisional dan fasilitas penelitian mutakhir menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak harus menghilangkan jejak sejarah. Sebaliknya, kemajuan justru dibangun di atas fondasi budaya dan pengetahuan yang diwariskan oleh para pendahulu.
Kunjungan ini mengajarkan bahwa bangsa Korea tidak hanya membangun gedung pencakar langit dan industri berteknologi tinggi, tetapi juga membangun kesadaran kolektif untuk menghargai warisan intelektualnya. Mereka memahami bahwa kemajuan ekonomi harus berjalan seiring dengan pelestarian identitas budaya, karena di situlah letak kekuatan sebuah bangsa dalam menjaga kesinambungan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Sebagai akademisi dan pemerhati kebijakan publik, saya melihat bahwa pembangunan suatu bangsa tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuannya menjaga memori kolektif, menghargai ilmu pengetahuan, dan mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi berikutnya. Bangsa yang melupakan sejarah akan kehilangan arah, sedangkan bangsa yang mampu merawat sejarah akan memiliki pijakan yang kokoh dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
Pengalaman di Andong juga mengingatkan saya pada kekayaan peradaban yang dimiliki Indonesia, mulai dari prasasti Kerajaan Kutai, kejayaan maritim Sriwijaya, kebesaran Majapahit dan Mataram, manuskrip serta tambo Minangkabau, hingga kemegahan Candi Borobudur, Prambanan, dan berbagai peninggalan sejarah yang tersebar di seluruh Nusantara. Hampir setiap daerah dan setiap suku bangsa di Indonesia memiliki jejak peradaban yang menjadi sumber pengetahuan, nilai-nilai luhur, serta kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi.
Sayangnya, kekayaan tersebut belum sepenuhnya menjadi bagian dari budaya literasi masyarakat. Padahal, apabila kesadaran literasi semakin kuat, warisan masa lalu tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi juga menjadi sumber inspirasi untuk membangun masa depan, melahirkan inovasi, serta merumuskan kebijakan yang berpijak pada jati diri bangsa.
Literasi pada hakikatnya bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis. Literasi adalah kemampuan memahami pengalaman sejarah, mengolah pengetahuan, serta menjadikannya bekal untuk membangun kecerdasan, karakter, dan daya saing bangsa.
Karena itu, pelestarian sejarah dan penguatan budaya literasi tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah. Diperlukan komitmen bersama seluruh pemangku kepentingan—pemerintah, perguruan tinggi, sekolah, lembaga kebudayaan, dunia usaha, media massa, komunitas, dan masyarakat—untuk menjaga, meneliti, mendokumentasikan, mendigitalisasi, serta memanfaatkan warisan intelektual bangsa sebagai sumber pembelajaran bagi generasi mendatang.
Pengalaman dari Andong memberikan pelajaran bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah, merawat ilmu pengetahuan, dan menjadikan budaya sebagai fondasi pembangunan. Indonesia memiliki modal peradaban yang tidak kalah besar sehingga yang diperlukan adalah membangun kesadaran kolektif untuk menghidupkan kembali tradisi literasi, memperkuat riset, dan menjadikan sejarah sebagai inspirasi dalam merancang masa depan.
Mari kita mulai bersama dengan menjadikan penguatan budaya literasi sebagai gerakan bersama seluruh pemangku kepentingan bangsa, mulai dari pemerintah, akademisi, peneliti, pendidik, pelajar, komunitas, media, dunia usaha, hingga masyarakat. Dengan memahami dan menghargai warisan peradaban bangsa, kita sedang membangun fondasi Indonesia yang lebih cerdas, berkarakter, inovatif, dan maju tanpa kehilangan jati dirinya.
oleh:

Dr. Genius Umar, S.Sos., M.Si.
Dosen Pascasarjana Universitas Negeri Padang
Pengamat Kebijakan Publik
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....