Waspada Polusi, Udara Jakarta Masuk Kategori Tidak Sehat Senin Ini

  • 28 Sep 2026 06:06 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kualitas udara Jakarta pada Senin pagi, 28 September 2026, kembali menjadi perhatian publik. Tepatnya, setelah indeks kualitas udara di Ibu Kota tercatat berada dalam kategori tidak sehat.
  • Berdasarkan pemantauan IQAir sekitar pukul 06.00 WIB, Jakarta mencatat AQI 183.
  • Konsentrasi PM2.5 Jakarta berada di kisaran 97 mikrogram per meter kubik

RRI.CO.ID, Jakarta - Kualitas udara Jakarta pada Senin pagi, 28 September 2026, kembali menjadi perhatian publik. Tepatnya, setelah indeks kualitas udara di Ibu Kota tercatat berada dalam kategori tidak sehat.

Berdasarkan pemantauan IQAir sekitar pukul 06.00 WIB, Jakarta mencatat AQI 183. Nilai tersebut, Jakarta menempati posisi kedua dalam daftar kota besar dengan kualitas udara terburuk dunia pada saat pengukuran tersebut.

Polutan utama yang terpantau adalah partikulat halus PM2.5, yakni partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. "Konsentrasi PM2.5 Jakarta berada di kisaran 97 mikrogram per meter kubik," kata data IQAir, Senin, 28 September 2026.

Diketahui, data IQAir dapat berubah secara real-time mengikuti kondisi atmosfer dan pembaruan stasiun pemantauan. Dalam pemeringkatan kota besar dunia yang dipantau IQAir pada waktu tersebut, Baghdad berada di posisi teratas dengan AQI 184.

Jakarta menyusul dengan AQI 183, sementara Dubai berada di posisi berikutnya dengan AQI 176 dan Dhaka mencatat AQI 153. Angka tersebut, menempatkan Jakarta dalam kategori tidak sehat, sehingga paparan udara luar ruangan perlu menjadi perhatian masyarakat.

Kondisi kualitas udara juga dapat berubah sepanjang hari, sehingga pemantauan indeks udara secara berkala menjadi penting. IQAir sendiri menggunakan AQI sebagai indikator untuk menggambarkan tingkat pencemaran udara berdasarkan konsentrasi polutan yang terukur.

Pada skala AQI US, angka yang lebih tinggi menunjukkan tingkat pencemaran yang semakin besar dan potensi dampak kesehatan yang semakin serius. Kondisi udara yang buruk, menjadi perhatian khusus bagi kelompok yang lebih rentan terhadap paparan polusi.

Masyarakat dengan sensitivitas terhadap kualitas udara, sebaiknya mempertimbangkan untuk mengurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan. Tapatnya, selama indeks polusi di Jakarta sedang tinggi.

Penggunaan masker ketika berada di luar ruangan, dapat menjadi salah satu langkah perlindungan, terutama saat konsentrasi partikulat meningkat. Masyarakat juga dapat mengurangi paparan, dengan membatasi waktu berada di ruang terbuka.

Selain itu, penggunaan penyaring udara di dalam ruangan dapat dipertimbangkan ketika kualitas udara luar sedang buruk. Menutup jendela pada periode ketika polusi luar ruangan tinggi juga dapat membantu mengurangi masuknya partikulat ke dalam rumah.

Data IQAir bersifat dinamis dan dapat berubah berdasarkan kondisi cuaca, arah serta kecepatan angin, kelembapan, dan perubahan konsentrasi polutan. Karena itu, posisi Jakarta dalam daftar kota dengan udara paling tercemar tidak dapat dianggap sebagai kondisi yang tetap sepanjang hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....