Gempa Flores Mereda, Warga NTT Tetap Diminta Waspada hingga Empat Pekan
- 09 Sep 2026 09:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Aktivitas gempa susulan yang terjadi setelah gempa bumi magnitudo 7,7 di Flores, NTT, mulai memperlihatkan tren penurunan.
- Gubernur NTT, Melkiades Laka Lena mengatakan, informasi dari BMKG menunjukkan telah terjadi sekitar 13 ribu lebih gempa susulan.
- Kondisi musim kemarau perlu diperhitungkan dalam perencanaan bantuan bagi masyarakat terdampak gempa.
RRI.CO.ID, Jakarta - Aktivitas gempa susulan yang terjadi setelah gempa bumi magnitudo 7,7 di Flores, NTT, mulai memperlihatkan tren penurunan. Meski demikian, Pemprov NTT mengingatkan, masyarakat waspada selama empat pekan karena aktivitas seismik masih berlangsung secara fluktuatif.
Gubernur NTT, Melkiades Laka Lena mengatakan, informasi dari BMKG menunjukkan telah terjadi sekitar 13 ribu lebih gempa susulan. Tepatnya hingga hari ini, Rabu, 9 September 2026 pukul 05.00 WITA.
"Aktivitasnya (gempa bumi susulan NTT) memang menunjukkan tren menurun. Tetapi masih fluktuatif,” kata pria yang akrab disapa Melki ini dalam keterangan persnya seperti dilansir Antara, di Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Rabu, 9 September 2026.
Kondisi tersebut, kata Melki, membuat pemerintah belum dapat mengendurkan kewaspadaan terhadap potensi gempa susulan di Flores. Berdasarkan informasi BMKG, aktivitas gempa susulan diperkirakan masih dapat berlangsung selama sekitar tiga hingga empat pekan setelah gempa utama.
Selain memantau aktivitas gempa, Melki mengaku, Pemprov NTT kini menghadapi tantangan lain dalam penanganan para penyintas. Perhatian khusus, diberikan terhadap kebutuhan warga di lokasi pengungsian menjelang September-Oktober 2026 yang merupakan periode menuju puncak musim kemarau.
"Kondisi musim kemarau perlu diperhitungkan dalam perencanaan bantuan bagi masyarakat terdampak gempa. Kebutuhan dasar warga di pengungsian harus dipastikan tetap terpenuhi selama proses pemulihan berlangsung," ucap Melki.
Di sisi lain, Melki menuturkan, Pemprov NTT masih melakukan pendataan terhadap rumah yang mengalami kerusakan akibat gempa. Hingga kini, sebanyak 3.042 rumah telah didata, 1.252 data lainnya masih proses input dan sekitar 2.808 rumah masih dalam tahap pendataan.
Proses verifikasi menjadi bagian penting agar bantuan dan program pemulihan pemerintah dapat diberikan kepada warga yang benar-benar terdampak. Tim yang telah mendapatkan pembekalan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), terus melakukan pemeriksaan terhadap data kerusakan dan masyarakat terdampak.
“Tim verifikasi yang sudah mendapat pembekalan dari BNPB terus bekerja. Memastikan seluruh data kerusakan dan masyarakat terdampak dapat diverifikasi dengan baik,” ujar Melki.
Melki menargetkan proses verifikasi dapat diselesaikan pada pekan depan. Hasil verifikasi tersebut nantinya menjadi dasar pemerintah dalam menentukan langkah penanganan dan pemulihan secara lebih tepat.
Untuk warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat, pemerintah mulai menyiapkan pembangunan hunian sementara atau huntara. Penyediaan tempat tinggal sementara tersebut, menjadi salah satu langkah memenuhi kebutuhan para penyintas selama proses pemulihan rumah mereka.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Sikka terus berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi NTT dalam menangani masyarakat yang terdampak gempa. Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago mengapresiasi, dukungan pemprov termasuk koordinasi membantu akses transportasi laut menuju wilayah Pulau Palue.
Jumlah warga yang masih berada di pengungsian juga menunjukkan penurunan. Berdasarkan laporan Satgas Penanganan Bencana, tercatat sekitar 925 kepala keluarga masih mengungsi di sejumlah wilayah, termasuk Kecamatan Palue, Kangae, dan Nita.
Meski jumlah pengungsi mulai berkurang, dampak gempa masih dirasakan masyarakat. Dalam bencana tersebut, enam orang dilaporkan meninggal dunia dan sejumlah warga lainnya mengalami luka-luka.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....