Abu Vulkanik Masih Terasa di Parung Bogor, Warga Batasi Aktivitas di Luar Rumah

  • 08 Sep 2026 06:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau masih dirasakan warga di Parung, Kabupaten Bogor, pada Selasa, 8 September 2026.
  • Meski ketebalan abu mulai berkurang dibandingkan sehari sebelumnya, debu masih menempel di lantai rumah dan membuat kondisi lingkungan berdebu.
  • Kondisi tersebut membuat Nadya semakin khawatir terhadap kesehatan keluarganya, terutama anaknya yang masih berusia di bawah dua tahun.

RRI.CO.ID, Bogor - Sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau masih dirasakan warga di Parung, Kabupaten Bogor, pada Selasa, 8 September 2026. Meski ketebalan abu mulai berkurang dibandingkan sehari sebelumnya, debu masih menempel di lantai rumah dan membuat kondisi lingkungan berdebu.

Salah seorang warga Parung, Nadya Hanifah mengatakan abu vulkanik mulai turun sejak sekitar tengah malam. Abu tersebut membuat kondisi lingkungan cukup tebal saat pagi hari.

“Aku ga ngerti juga kenapa bisa setebel itu ya, mungkin faktor angin juga ya. Kayaknya udah mulai turun abunya tuh dari tengah malem, sekitar jam 12an, pas subuh udah setebel itu,” kata Nadya melalui pesan singkat kepada RRI.CO.ID, Selasa, 8 September 2026.

Nadya, warga Parung Bogor memperlihatkan debu yang menempel di lantai teras rumahnya, Selasa, 8 September 2026 pagi (Foto: dokumentasi pribadi Nadya)

Nadya mengatakan kondisi pada Senin masih berdebu meski tidak setebal sehari sebelumnya. Debu juga masih terasa ketika menempel di lantai rumah.

“Hari ini masih berdebu, lantai masih banyak kotoran yang terasa. Tapi gak setebal kemarin,” ujarnya.

Nadya juga membagikan kondisi kendaraan milik temannya yang berada di desa yang bersebelahan dengan tempat tinggalnya. Kendaraan tersebut kembali dipenuhi abu meski sebelumnya telah dicuci di tempat pencucian mobil.

Kondisi tersebut membuat Nadya semakin khawatir terhadap kesehatan keluarganya. Terutama anaknya yang masih berusia di bawah dua tahun.

“Khawatir ke anak aku sih, apalagi kan usianya masih under dua tahun. Masih blm bisa pakai masker, jadi sementara di dalem rumah dulu, ngga keluar2,” kata Nadya.

Ia memilih membatasi aktivitas anak di luar rumah selama kondisi lingkungan masih terdampak sebaran abu vulkanik. “Kayaknya sih kalo keadaan kayak gini wajib punya air purifier deh dirumah,” ujarnya.

Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau sebelumnya juga berdampak pada aktivitas masyarakat dan kegiatan pendidikan di sejumlah wilayah. Pemerintah daerah mengambil langkah mitigasi, termasuk menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) di sejumlah sekolah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....