Apa Itu Karhutla? Ini Penyebab, Dampak, dan Cara Mencegahnya

  • 22 Agt 2026 22:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kabut asap masih menyelimuti Kalimantan hingga pertengahan Agustus 2026 dengan kondisi yang terus memburuk.
  • Kementerian Kehutanan mencatat 518 titik panas (hotspot) terdeteksi pada 19 Agustus 2026 di tiga provinsi Kalimantan.
  • Wilayah Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan adalah area terparah yang terdampak lonjakan hotspot.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kabut asap masih menyelimuti Kalimantan hingga pertengahan Agustus 2026, disertai lonjakan tajam titik panas (hotspot). Melansir Kementerian Kehutanan, tercatat 518 hotspot pada 19 Agustus 2026 di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Karhutla merupakan peristiwa terbakarnya kawasan hutan maupun lahan secara meluas, baik akibat faktor alami atau perbuatan manusia. Melansir Kementerian Lingkungan Hidup, mayoritas kasus karhutla justru dipicu oleh tindakan manusia, sehingga bencana ini sebenarnya dapat dicegah.

Salah satu penyebab utama karhutla adalah pembukaan lahan dengan cara membakar, karena dianggap lebih cepat dan murah. Selain itu, membuang puntung rokok dan menyalakan api di kawasan hutan atau lahan gambut turut memperbesar risiko karhutla.

Faktor cuaca ekstrem juga memperparah situasi, terutama saat musim kemarau berlangsung lebih panjang dan kering. Kondisi lahan gambut yang mudah terbakar dan sulit dipadamkan membuat api dapat menjalar cepat serta bertahan lama.

Melansir Dinas Kehutanan Kalimantan Tengah, dampak karhutla dirasakan oleh lingkungan dan kehidupan masyarakat secara luas. Konsekuensinya berupa kerusakan ekosistem hutan, hilangnya habitat satwa liar, serta kerugian ekonomi dari sektor pertanian dan perkebunan.

Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan sulfur dioksida yang sangat berbahaya bagi pernapasan. Paparan tersebut dapat memicu ISPA, batuk, sesak napas, hingga memperburuk asma dan gangguan jantung.

Kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, ibu hamil, dan lansia menghadapi risiko kesehatan yang jauh lebih besar. Pada ibu hamil, paparan asap bahkan dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan bagi ibu dan janin.

Selain dampak kesehatan, karhutla juga menimbulkan kerugian ekonomi yang tidak sedikit bagi negara dan masyarakat terdampak. Aktivitas penerbangan yang terganggu, sekolah yang terpaksa diliburkan, serta biaya pemadaman yang membengkak menjadi beban yang harus ditanggung.

Melansir Dinas Kehutanan Kalimantan Tengah, pencegahan karhutla merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. Pemerintah dan warga dihimbau untuk meningkatkan kepedulian dan segera melapor agar titik api dapat ditangani sejak dini.

Langkah perlindungan diri juga penting dilakukan masyarakat saat kualitas udara memburuk akibat kabut asap. Masyarakat dapat menggunakan masker, menutup pintu dan jendela, memperbanyak minum air putih, serta mengurangi aktivitas di luar ruangan.

Pengendalian karhutla ke depan perlu bergeser dari sekadar respons darurat menuju budaya pencegahan. Dengan koordinasi lintas sektor yang kuat, ancaman karhutla diharapkan dapat ditekan sehingga hutan dan lahan Indonesia tetap lestari. (Shafa)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....