Kawan Alam Indonesia Dukung Pembangunan Museum Bawah Laut Jaladhipa Dewata
- 29 Jun 2026 23:17 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Museum Bawah Laut Jaladhipa Dewata menjadi salah satu upaya menjaga kesehatan ekosistem laut.
- Kawan Alam Indonesia berpartisipasi dalam pembangunan Museum Bawah Laut Jaladhipa Dewata.
- Partisipasi itu dilakukan melalui kegiatan Tianyar Explore 2026 – Save The Sea di Dive Center Jaladhipa Dewata.
RRI.CO.ID, Karangasem - Kawan Alam Indonesia berpartisipasi dalam pembangunan Museum Bawah Laut Jaladhipa Dewata melalui kegiatan Tianyar Explore 2026 – Save The Sea di Dive Center Jaladhipa Dewata, Desa Tianyar Barat, Kabupaten Karangasem, Bali, akhir pekan kemarin. Kegiatan ini menjadi langkah awal pengembangan kawasan konservasi yang diharapkan menjadi pusat edukasi, penelitian, rehabilitasi ekosistem laut, sekaligus destinasi wisata bahari berkelanjutan.
Kegiatan tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Para pemangku kepentingan itu mulai pemerintah, TNI, Polri, akademisi, organisasi profesi, komunitas penyelam, organisasi lingkungan, dunia usaha, media, mahasiswa, hingga masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, tim penyelam gabungan melakukan pemantauan kondisi ekosistem laut, pemetaan awal kawasan museum bawah laut, dan dokumentasi ilmiah bawah laut. Selain itu juga pengumpulan data sebagai dasar pengembangan kawasan konservasi.
Ketua Umum Kawan Alam Indonesia sekaligus Duta Bhayangkara Maritim Ditpolairud Polda Bali, Henny Paula Sitohang, mengatakan konservasi laut membutuhkan kolaborasi seluruh elemen bangsa. Menurutnya, laut tidak hanya menjadi sumber kehidupan saat ini, tetapi juga menjadi harapan bagi generasi mendatang.
"Melalui pemetaan awal Museum Bawah Laut Jaladhipa Dewata, kami ingin membangun kawasan konservasi yang memberikan manfaat. Misalnya manfaat ekologis, sosial, pendidikan, dan ekonomi melalui konsep Blue Economy," ujarnya.
Ia menambahkan, keterlibatan Kawan Alam Indonesia merupakan bentuk dukungan terhadap arah pembangunan nasional. Khususnya penguatan ekonomi biru (Blue Economy) yang menjadi bagian dari Asta Cita Presiden Republik Indonesia.
Selain pemetaan kawasan konservasi, kegiatan juga diisi dengan penandatanganan Deklarasi Save The Sea 2026. Ada lagi pelepasan tukik ke habitat alaminya, penyampaian hasil dokumentasi bawah laut, pembacaan komitmen bersama, serta diskusi lintas sektor mengenai pelestarian ekosistem laut.
Pembina Kawan Alam Indonesia yang juga Palaksa Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Denpasar, Letkol Laut (P) I Nyoman Astawa Yasa, mengatakan laut merupakan ruang strategis yang memiliki banyak fungsi pertahanan. Contohnya ekonomi, lingkungan, dan kedaulatan negara.
Ia menilai pembangunan Museum Bawah Laut Jaladhipa Dewata menjadi salah satu upaya menjaga kesehatan ekosistem laut. Hal itu sekaligus memperkuat kolaborasi antara pemerintah, aparat keamanan, akademisi, organisasi lingkungan, dan masyarakat.
Sementara, Kepala Bagian Pembinaan Operasional Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Bali, AKBP I G.A. Purnama Wirahadi, menyatakan pihaknya mendukung berbagai program konservasi laut yang diinisiasi Kawan Alam Indonesia.
Menurutnya, pelestarian laut merupakan bagian dari upaya menjaga keamanan, keselamatan, dan keberlanjutan wilayah perairan. Ia berharap kolaborasi seperti Tianyar Explore dapat terus dikembangkan di berbagai kawasan pesisir Bali untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga sumber daya kelautan Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....