Agama Jadi Modal Penting Transisi Energi Berkeadilan

  • 23 Mar 2025 14:21 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Agama dapat menjadi ruang untuk masuk dalam kampanye transisi energi berkeadilan. Hal itu disampaikan Vice President Energy Transition and Sustainability PLN, Anindita Satria.

“Kontribusi kita sebagai umat Muslim dalam menjaga kehidupan bumi melalui praktik transisi energi berkeadilan. Di antaranya, seperti program Sedekah Energi dan Puasa Energi," kata Anindita dalam acara MOSAIC TALK bertema 'Transisi Energi dalam Perspektif Islam', di Jakarta, Sabtu (22/3/2025).

Menurutnya, sebagai korporasi, PLN mendukung komitmen pemerintah Indonesia terhadap perubahan iklim di Perjanjian Paris. Baik dalam target-target jangka pendek, menengah, hingga panjang.

“PLN akan terus mengimplementasikan semua inisiatif transisi energi untuk mencapai pemenuhan Nationally Determined Contribution Indonesia pada 2030. Kemudian, net zero emissions pada 2060," ujarnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi Kemenkomarves, Rachmat Kaimuddin mengatakan, pemerintah berkomitmen mewujudkan transisi energi berkeadilan. Mulai dari sisi ekosistem industri hingga pengguna.

“Kita ingin penggunanya bagus, tapi juga industrinya juga harus bagus. Jangan sampai nanti kita pakai teknologi hijau tapi justru mengurangi tenaga kerja," kata Rachmat.

Untuk itu, lanjut dia, pengurangan rasio penggunaan energi berbasis fosil untuk pembangkit listrik menjadi cara terbaik. Utamanya, dalam mewujudkan transisi energi berkeadilan saat ini.

“Sektor pembangkit listrik saat ini menjadi yang paling besar menggunakan energi fosil. Fokus pemerintah adalah membangun pembangkit listrik yang menggunakan lebih sedikit fosil seperti sel surya, panas bumi, dan potensi-potensi energi baru terbarukan lainnya," ujarnya.

Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Kementerian Ketenagakerjaan, Anwar Sanusi mengatakan, diperlukan pemetaan menyeluruh untuk mengurangi kesenjangan. Baik antara kompetensi dengan tuntutan pekerjaan terkait bidang transisi energi.

“Jika tidak kita tidak petakan dengan baik akan memunculkan ketidakadilan. Seperti isu penggajian hingga ketimpangan gender," kata Anwar.

Selain itu, pemetaan penting dilakukan untuk menempatkan sensitivitas gender dalam transisi energi berkeadilan. Salah satunya melalui regulasi perlindungan kesejahteraan sosial yang mengatur hak-hak pekerja perempuan.

“Kita ingin transisi berkeadilan ini adalah sebagai sebuah kata kunci untuk membawa peningkatan keterampilan dan taraf hidup pekerja. Terutama di sektor-sektor yang ekonominya sedang berkembang," ujarnya.

Wakil Ketua Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah, Hening Parlan mengatakan, transisi energi yang berkeadilan adalah wujud pengamalan Al-Quran tentang adil. Namun, lanjut dia, diperlukan keseimbangan sehingga manusia tidak terus menggunakan energi fosil yang eksploitatif.

"Sehingga lebih ke arah pemanfaatan energi secara adil dan seimbang. Selain itu juga penting untuk menggerakkan inisiatif-inisiatif transisi energi berkeadilan di level umat," kata Hening yang juga Pendiri Greefaith ini.

Bahkan, menurutnya, dukungan kebijakan hingga bantuan teknis diperlukan agar berbagai inisiatif ini menjadi Hal yang lebih besar. "Umat Muslim harus berusaha memulai transisi energi sebagai upaya memulihkan bumi yang semakin rusak akibat penggunaan energi fosil yang berlebihan," kata dia yang juga penulis buku ‘Fikih Transisi Energi Berkeadilan’ ini.

Untuk diketahui, MOSAIC TALK merupakan bagian ‘Ramadan Festival: Islamic Philanthropy for Climate Action’. Kegiatan ini merupakan sebuah mini festival kolaborasi MOSAIC dengan Departemen Politik dan Pemerintahan Universitas Gadjah Mada (DPP UGM) dan Pares.

Kegiatan ini merupakan upaya menggabungkan nilai-nilai Islam dengan aksi nyata untuk lingkungan seperti Sedekah Energi dan Hutan Wakaf. Acara ini mengajak komunitas Muslim untuk belajar, berkolaborasi, dan berkontribusi dalam upaya dekarbonisasi dan keberlanjutan melalui talkshow, pertunjukan seni, dan aktivitas interaktif.

“Sesi diskusi di Ramadan Festival Islamic Philanthropy for Climate Action adalah salah satu upaya kami menggabungkan nilai-nilai Islam dengan aksi nyata. Sehingga dapat bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan," kata Dewan Pembina MOSAIC sekaligus Kepala Departemen Politik dan Pemerintahan UGM, Abdul Gaffar Karim.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....