Sistem Peringatan Dini Kuat Apabila Libatkan Kearifan Lokal

  • 13 Sep 2024 07:31 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Sistem peringatan dini akan semakin kuat apabila ilmu pengetahuan dikolaborasikan dengan teknologi mutakhir berbasis big data dan kecerdasan buatan tanpa mengabaikan kearifan lokal. Dengan demikian, ancaman bencana dapat diminimalisir dan diantisipasi semaksimal mungkin.

Demikian Plt Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati. Ia menyampaikan itu saat menjadi pembicara dalam 4th International Forum on Big Data for Sustainable Development Goals (FBAS 2024) di Tiongkok, Minggu (8/9/2024).

"Target utama sistem peringatan dini adalah zero victim. Namun hal tersebut tidak akan terwujud jika mengesampingkan kearifan lokal, meski didukung big data dan kecerdasan buatan," kata Dwikorita.

Kearifan lokal adalah berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat lokal. Kearifan lokal lazimnya sdah berlangsung lama, terutama dilakukan masyarakat lokal dalam menghadapi bencana.

FBAS 2024 merupakan ajang dialog dan pertukaran informasi tentang teknologi big data dan kecerdasan buatan terkini.Juga solusi komprehensif, demonstrasi aplikasi, dan strategi untuk pembangunan berkelanjutan regional.

Dwikorita menerangkan, big data merupakan kumpulan data yang sangat besar, baik terstruktur maupun tidak struktur. Big data dapat digunakan dalam pengambilan keputusan.

Sementara kecerdasan buatan, dimanfaatkan untuk manajemen penanganan bencana di Indonesia. Dengan pemanfaatan keduanya, maka kini para ahli dapat memprediksi, mempersiapkan, dan merespons bencana alam dengan lebih baik.

Namun, kata Dwikorita, dengan mengkombinasikan dengan kearifan lokal. Maka kerugian akibat bencana alam dapat semakin diminimalisir.

Dwikorita mengatakan, setiap masyarakat memiliki kearifan lokal dalam hal mitigasi bencana yang juga harus dimanfaatkan dalam sistem peringatan dini bencana modern. Pengetahuan dan pemahaman masyarakat lokal tentang bencana, kata Dwikorita, dapat mengisi kekosongan yang tidak dapat dilakukan oleh teknologi big data dan kecerdasan buatan.

Indonesia, kata dia, merupakan salah satu negara paling rawan bencana di dunia. Maka dari itu, menurut Dwikorita, integrasi antara big data, kecerdasan buatan, dan kearifan lokal merupakan upaya terbaik yang dapat dilakukan Indonesia untuk mewujudkan zero victim.

"Early warning itu sistemnya, early action itu aksi responsnya, yang kita belum berhasil masih sering gagal itu ada di early action. Hal inilah yang coba kita integrasikan agar keduanya dapat tercapai," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....