Attara Gugur Paskibraka, Pemkab Kubar Minta Penjelasan BPIP
- 25 Jun 2024 00:54 WIB
- Sendawar
KBRN, Sendawar : Pemerintah Kabupaten Kutai Barat (Kubar) melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) masih mempertanyakan hasil seleksi Paskibraka Nasional kepada Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP). Mereka mempertanyakan status Gregorius Attara, peserta asal Kutai Barat yang lolos seleksi tingkat provinsi dan menjadi peringkat satu, namun gagal dalam seleksi nasional.
Kepala Bidang Ideologi dan Wawasan Kebangsaan, Kesbangpol Kubar, Ramadan, mengatakan panitia seleksi Paskibraka tingkat kabupaten dan provinsi sudah mengikuti aturan BPIP dengan mengirimkan pasangan peringkat satu dan dua untuk mengikuti seleksi nasional.
Namun, saat akan berangkat ke Jakarta, panitia provinsi tiba-tiba menambah satu orang peserta pria sebagai cadangan, yakni siswa asal Kabupaten Kutai Timur, yang sebelumnya tidak ada dalam daftar dua pasangan hasil seleksi provinsi.
"Sampai saat ini kita dari kabupaten kota belum dapat informasi yang jelas terkait kenapa bisa menjadi lima orang sementara dalam berita acara hanya empat. Kalau memang ada perubahan kuota tentunya kan ada pemberitahuan lebih dulu," kata Ramadan kepada wartawan di Kantor Bupati Kubar, Senin (24/6/2024).
"Makanya kita ingin cari penjelasan dari BPIP di pusat," lanjutnya.
Ramadan menyampaikan bahwa panitia provinsi belum memberi tahu alasan siswa asal Kutim bisa masuk cadangan tanpa terdaftar dalam berita acara. Ironisnya, peserta cadangan tersebut justru lolos seleksi nasional, sedangkan Attara dan Uqaila Nur Mahmudah dari SMA YPK Bontang yang menjadi peringkat satu di provinsi sama-sama gugur di seleksi nasional.
"Yang ironinya mereka yang sudah ditetapkan dalam berita acara, setelah seleksi di Jakarta malah tidak lolos tingkat nasional dan menjadi cadangan. Yang lolos tingkat nasional itu anak Kutai Timur yang tadi tidak masuk di dalam berita acara. Ini yang kita kecewa sekali kenapa hal ini bisa terjadi," ucapnya.
Ramadan menilai panitia provinsi dan pusat kurang transparan mengenai alasan gugurnya tiga peserta asal Kaltim tersebut, termasuk Attara. Hanya terdengar informasi bahwa Attara tidak lolos karena kalah saing di tes wawasan kebangsaan (TWK).
"Tetapi setelah saya kroscek nilainya anak Kutim itu skornya sama dengan Attara, makanya saya bilang ini bohong atau mengada-ada. Kalau kita sandingkan dengan hasil di provinsi anak Kutim ini di bawah Attara, karena Attara ini rangking satu se-Kaltim," ungkapnya.
"Kita bertanya-tanya kenapa Attara bisa kalah saing dengan anak Kutim yang namanya saja tidak masuk berita acara," tutur Ramadan dengan nada kecewa.
BACA JUGA:
Digantikan Kutim, Pelajar Kubar Tak Lolos Paskibraka Nasional
Kekecewaan juga diakui Attara, siswa SMAN 1 Sendawar yang kini harus mengubur mimpinya tampil sebagai peserta Paskibraka Nasional di ibu kota negara (IKN) Nusantara.
"Saya sangat kecewa karena sudah melalui semua seleksi dengan kerja keras, dari kabupaten sampai provinsi, namun hasil akhir di pusat hanya sebagai cadangan," kata Attara kepada RRI Sendawar, Senin (24/6/2024).

Sementara itu, BPIP dalam konferensi pers di kantor BPIP, Jakarta Pusat, menjelaskan bahwa tahapan pembentukan Paskibraka sudah sesuai dengan mekanisme dan aturan yang berlaku.
Kepala BPIP, Prof. Drs. Yudian Wahyudi, menyebut pihaknya terus berupaya agar pembentukan Paskibraka bisa berjalan semakin baik dan memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh putra-putri terbaik bangsa untuk menjadi Paskibraka dengan mengikuti standar yang telah ditetapkan oleh BPIP.
Sesuai Peraturan Presiden Nomor 51 Tahun 2022, program Paskibraka diletakkan sebagai pengkaderan calon pemimpin bangsa berkarakter Pancasila.
BACA JUGA:
Ini Penjelasan BPIP Terkait Polemik Seleksi Paskibraka 2024
Wakil Kepala BPIP, Dr. Rima Agristina menambahkan, proses pembentukan Paskibraka tingkat pusat sangat mengedepankan integritas dan objektivitas dalam pelaksanaan seleksi. Verifikasi calon dilakukan dengan melibatkan para dokter spesialis dan psikolog untuk memastikan kualitas para calon Paskibraka.
"Hasil verifikasi tersebut sudah berdasarkan peringkat di tingkat pusat," tambah Dr. Rima.
Terkait kuota calon peserta, Rima menjelaskan bahwa BPIP memang meminta dua pasangan putra-putri dari setiap provinsi. Jika dalam tes nasional tidak lolos, maka BPIP akan meminta tambahan atau pengganti.
"Proses ini dilakukan berulang hingga ditemukan calon yang memenuhi standar dan lolos verifikasi di tingkat pusat. Kalau tidak memenuhi syarat kesehatan, tentu saja tidak bisa dilanjutkan, pertama untuk kepentingan kesehatan yang bersangkutan kedua juga untuk keberhasilan pelaksanaan tugas di tingkat pusat," jelas Dr. Rima.
BPIP juga tak menjelaskan secara spesifik soal calon Paskibraka (Capas) asal Kaltim yang melebihi kuota awal, yaitu dari 4 orang jadi 5 orang. Hanya saja BPIP menyatakan kuota tambahan memang diperlukan untuk mengantisipasi calon peserta yang dikirim tidak memenuhi syarat. Khususnya tes kesehatan.
Setelah pemeriksaan kesehatan, data hasil pemeriksaan disampaikan kepada BPIP untuk diverifikasi. Bagi daerah yang calonnya tidak lolos verifikasi kesehatan, mereka diharuskan mengirimkan penggantinya sesuai urutan di provinsi.
"BPIP kemudian memverifikasi mana-mana yang memenuhi persyaratan kesehatan dan mana yang tidak. Jika ada yang tidak memenuhi persyaratan kesehatan, tentu saja mereka tidak bisa melanjutkan seleksi," tambah Dr. Rima.
BPIP mengapresiasi perhatian masyarakat atas proses seleksi Paskibraka dengan harapan seleksinya semakin baik dan transparan. Mereka memastikan bahwa calon-calon Paskibraka yang terpilih adalah putra-putri terbaik bangsa yang siap mengemban tugas kenegaraan dengan penuh integritas dan dedikasi.
"BPIB juga melaksanakan arahan dari dewan pengarah BPIB bahwa proses verifikasi harus dilaksanakan secara objektif tanpa intervensi dari pihak manapun," tegasnya.
Bagi peserta yang lolos, mereka diminta untuk segera mempersiapkan diri mengikuti Diklat Paskibraka di Jakarta. Sedangkan calon cadangan akan menjadi peserta Paskibraka tingkat provinsi.
Seluruh elemen masyarakat diharapkan menghargai keputusan BPIP dan mendukung program pembentukan Paskibraka yang berkarakter Pancasila.
"Marilah kita bersama-sama mengedepankan atau meletakkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan individu atau kelompok. Jadi kami berharap semua bisa menerima hasil verifikasi tersebut dengan satu semangat yang sama bahwa kita semua ingin upacara peringatan kemerdekaan Republik Indonesia yang nanti rencananya akan dilaksanakan di Ibu Kota Nusantara dapat berjalan dengan baik," tutur Dr. Rima.
Adapun peserta Paskibraka nasional dipilih dari seluruh provinsi di Indonesia dengan jumlah 76 orang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....