Angka Pernikahan di Indonesia Juga Turun, Begini Penjelasannya

  • 08 Mar 2024 07:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Tren angka pernikahan menurun tidak hanya dilaporkan Jepang , Singpura, Tiongko, hingga Korea Selatan, Indonesia juga mengalaminya. Data Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan penurunan terjadi dalam kurun 10 tahun terakhir.

Namun, menurut Ketua Pengurus Perkumpulan Keluarga Berencana Bali, dr Oka Negara, hal itu belum menjadi ancaman akan terjadinya penurunan populasi. Hal serupa disampaikan Deputi Bidang Advokasi, Pergerakan, dan Infomasi Badan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Sukaryo Teguh Santoso,

Menurut Oka, kasus Indonesia beda dengan negara lain, tren pernikahan menurun tak pengaruhi pertumbuhan penduduk. Indonesia akan mengalami bonus demografi, artinya akan banyak anak-anak muda yang berasal dari kelahiran baru.

“Jadi belum bisa dikatakan sampai pada masalah yang kritis akan terjadi penurunan populasi seperti yang terjadi di negara lain. Meskipun angka pernikahan trennya menurun dalam 10 tahun terakhir,” katanya dalam perbincangan dengan RRI Pro 3, Kamis (7/3/2024).

Jika dirinci berdasarkan data BPS, angka pernikahan pada 2021 sebesar 1.742.049, kemudian pada 2022 turun menjadi 1.705.348, dan pada 2023 kembali turun 1.577.255. Sedangkan pada 2024 melaporkan angka perkawinan di Indonesia tercatat terus menurun.

Hal sama juga ditegaskan oleh Sukaryo. Dia mengatakan tidak perlu sampai khawatir Indonesia akan mengalami penurunan populasi.

Angka pernikahan yang disebut BPS menurun, menurutnya juga perlu dicek lagi lebih dalam mengenai sumber datanya. “Angka pernikahan bukan saja yang tercatat di KUA untuk umat Islam, tapi juga data pernikahan ada di agama lain,” ucapnya.

Menurut Oka, banyak faktor yang menyebabkan terjadinya penurunan angka pernikahan di Indonesia. Faktor utama, katanya, sama secara global, yaitu diantaranya alasan ekonomi, dimana jika punya keluarga dan anak akan ada beban ekonomi yang tinggi.

Kemudian sibuk mencari karir sehingga menganggap ikatan perkawinan tidak penting. “Sementara itu, kalau di Indonesia bisa ditambah alasan personal lainnya, seperti trauma karena keluarganya broken home atau sarat dengan KDRT,“ kata Oka lagi.

Ada lagi faktor kepercayaan diri untuk mencari dan memiliki pasangan, dan ada juga karena mahar pernikahan di daerah tertentu secara adat cukup mahal. Hal ini menyebabkan calon pengantin laki-laki mundur karena tidak mampu,” ucapnya.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....