Nasional

Presiden Bank Dunia Puji Upaya Indonesia Restorasi Mangrove

Oleh: Rini Hairani Editor: Tegar 05 Sep 2023 - 12:00 Pusat Pemberitaan
Presiden Bank Dunia Puji Upaya Indonesia Restorasi Mangrove
Presiden Bank Dunia Ajay Banga (kedua kanan) bersama Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar (kedua kiri) mengunjungi rehabilitasi mangrove yang berada di Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, pada Senin (4/9/2023). (Foto: Kementerian LHK)

KBRN, Jakarta: Presiden Bank Dunia Ajay Banga mengapresiasi Indonesia melakukan rehabilitasi dan restorasi mangrove. Di mana hal itu dapat mengubah dunia dengan upaya peningkatan standar hidup.

"Kami sangat senang bisa datang kesini untuk melihat regenerasi mangrove yang sangat penting bagi ekologi kita,. Karena mangrove menyerap lebih banyak karbon bahkan daripada pohon-pohon lain," kata Ajay saat mengunjungi rehabilitasi mangrove yang berada di Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, dikutip Selasa (5/9/2023).

"Di sisi lain ekosistem mangrove juga terbukti memberikan mata pencaharian bagi orang-orang yang bergantung pada mangrove. Di mana mereka dapat hidup lebih baik," katanya, menambahkan.

Ajay pun mengaku kagum kepada para perempuan yang mampu mengolah mangrove menjadi aneka produk olahan. Seperti batik mangrove, makanan ringan, hingga sirup untuk membantu peningkatan perekonomian keluarga.

"Kami baru saja melihat disini para wanita yang luar biasa menggunakan produk-produk mangrove untuk membuat kehidupan yang mandiri. Saya pikir ketika Pemerintah Indonesia membuat mereka mandiri, Anda mengubah kehidupan sebuah keluarga," ujarnya.

Menurutnya, mangrove tidak hanya berfungsi mencegah erosi tanah. Namun juga berperan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya mengaku bangga atas kekaguman Presiden World Bank melihat upaya rehabilitasi mangrove. Upaya yang dilakukan Pemerintah Indonesia ini, menjadi salah satu yang didanai World Bank.

"Dari kunjungan ini saya menangkap tiga hal dari Presiden World Bank, pertama terkait perlindungan aspek lingkungan termasuk perubahan iklim. Kedua tadi disoroti oleh beliau ada livelihood kesejahteraan untuk masyarakat," kata Siti.

"Ketiga adalah apa yang beliau begitu kagum yaitu tentang women empowerment/pemberdayaan perempuan. Beliau juga berterima kasih banyak kepada Indonesia sudah menempuh program ini yang tidak hanya buat Indonesia tetapi juga untuk global," ujar Siti.

Siti membeberkan, hutan mangrove Indonesia merupakan kawasan terluas di dunia yang mencapai 3,36 juta hektare. Di mana mencakup lebih dari 24 persen dari total luas mangrove dunia.

Selain itu, terdapat 3,14 miliar ton karbon biru yang tersimpan di hutan bakau. Hal itu menjadi bagian dari upaya Indonesia berkontribusi pada dunia untuk mengurangi gas rumah kaca.

Ekosistem pesisir hutan mangrove mendukung kehidupan manusia dengan mengurangi dampak gelombang dan cuaca ekstrim, melindungi pantai dari abrasi. Kemudian mencegah abrasi, mencegah intrusi air laut, menjadi sumber makanan, rumah keanekaragaman hayati, menyaring polutan, dan mendukung mata pencaharian.

Indonesia telah memiliki lembaga khusus untuk pelaksanaan rehabilitasi mangrove, yaitu Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM). Lembaga itu memiliki mandat khusus untuk melakukan percepatan rehabilitasi 600.000 hektar ekosistem mangrove.

Program rehabilitasi mangrove di Indonesia telah berhasil meningkatkan ekonomi serta ketahanan lingkungan dan sosial masyarakat. Total luas area penanaman mangrove melalui program padat karya ini seluas 17.000 hektare tahun 2020.

Kemudian meningkat menjadi 83.000 hektare pada tahun 2021. Atas keberhasilan ini, Pemerintah Indonesia bersama Bank Dunia menggagas Program Mangrove untuk Ketahanan Pesisir.

Program tersebut meliputi seluruh aspek dari konteks pengembangan kebijakan hingga rehabilitasi di tingkat lapangan. Total pendanaan program tersebut adalah melalui hibah sebesar sekitar 19 juta dolar Amerika Serikat (AS).

Di mana dalam tahap pelaksanaan program dan berupa pinjaman sebesar 400 juta dolar AS. Yang saat ini dalam proses pencairan.