Kenali Perbedaan Kekeringan Meteorologis dan Hidrologis

  • 04 Okt 2026 20:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kekeringan masih melanda sejumlah daerah di Indonesia hingga awal Oktober 2026, berdampak signifikan terhadap ketersediaan air bersih bagi masyarakat.
  • Di Jawa Timur, sebanyak 25 wilayah telah meminta bantuan air bersih untuk warga yang terdampak krisis kekeringan.
  • Kekeringan terjadi akibat curah hujan yang berada di bawah normal pada periode tertentu, yang dapat berkembang dan memengaruhi ketersediaan air dari berbagai sumber.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kekeringan masih melanda sejumlah daerah di Indonesia hingga awal Oktober 2026. Di Jawa Timur, 25 wilayah meminta bantuan air bersih untuk warga terdampak.

Kekeringan terjadi saat curah hujan berada di bawah normal pada periode tertentu. Kondisi itu dapat berkembang dan memengaruhi ketersediaan air di berbagai sumber.

Melansir Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kekeringan meteorologis berkaitan langsung dengan curah hujan di suatu wilayah. Curah hujan berkurang dari kondisi normal dalam periode tertentu

Pemantauan kekeringan meteorologis bisa dilakukan menggunakan Standardized Precipitation Index (SPI). Indeks tersebut digunakan untuk mengukur penyimpangan curah hujan terhadap kondisi normal.

Tingkat kekeringan dibagi berdasarkan nilai SPI tersebut. Kategorinya mencakup agak kering, kering, dan sangat kering.

Selain itu, BMKG juga memantau Hari Tanpa Hujan (HTH untuk menggambarkan situasi kekeringan meteorologis. HTH adalah periode berturut-turut dengan curah hujan kurang dari satu milimeter.

Berbeda dengan meteorologis, kekeringan hidrologis berhubungan dengan berkurangnya ketersediaan air pada sumber-sumber air. Kondisi tersebut dilihat pada danau, sungai, waduk, dan air tanah

Kekeringan hidrologis berkembang setelah kekurangan hujan berlangsung lebih lama. Defisit curah hujan mengurangi pengisian ulang cadangan air melalui siklus hidrologis.

Perbedaan utama keduanya terletak pada indikator yang digunakan. Kekeringan meteorologis berfokus pada curah hujan, sedangkan hidrologis pada sumber daya air.

Kekeringan meteorologis dapat menjadi tanda awal sebelum dampaknya terlihat pada sumber air. Hujan yang terus berkurang mampu menurunkan volume waduk, sungai, dan air tanah.

Dampak kekeringan hidrologis bisa berkaitan dengan berkurangnya ketersediaan air untuk berbagai macam kebutuhan. Pertanian adalah salah satu sektor yang memerlukan pasokan air secara berkelanjutan.

Pemantauan kedua jenis kekeringan juga dibutuhkan agar bisa mengetahui perkembangan kondisi air di suatu tempat. Informasi tersebut bisa digunakan sebagai dasar dalam pengelolaan sumber daya air serta pencegahan kekeringan.

Kesimpulannya, kekeringan meteorologis dan hidrologis masing-masing mempunyai indikator yang berbeda tetapi saling berhubungan. Perbedaan tersebut membantu mendeskripsikan proses kekeringan sejak berkurangnya curah hujan hingga menurunnya ketersediaan air. (Shafira Nursyifa)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....