Pelestarian Batik, Wamenperin Dorong Perajin Berkembang Ikuti Pasar

  • 03 Okt 2026 18:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pelestarian batik harus berjalan beriringan dengan upaya pemberdayaan perajin agar mampu bertahan dan berkembang di industri.
  • Perajin batik perlu mampu mengikuti kebutuhan pasar untuk memastikan relevansi produk dan kelanjutan bisnis mereka.
  • Industri batik memiliki keterkaitan erat dengan identitas budaya Indonesia dan potensi ekonomi besar yang perlu diperkuat secara berkelanjutan.

RRI.CO.ID, Surabaya - Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menyebut pelestarian batik perlu berjalan bersama upaya membuat perajin mampu bertahan dan berkembang. Menurutnya, perajin batik perlu mampu mengikuti kebutuhan pasar.

Faisol menjelaskan industri batik memiliki keterkaitan erat dengan identitas budaya Indonesia sekaligus potensi ekonomi yang besar. Penguatan industri batik tidak hanya berkaitan dengan pelestarian warisan budaya, tetapi juga keberlanjutan perajin dan pelaku usaha.

“Pelestarian juga perlu berjalan bersama upaya. Untuk membuat para perajin batik mampu bertahan dan berkembang,” ujar Wamen Faisol pada Community Engagement bertajuk “Make Your Move: Your Journey to the Future of Industry” dalam rangkaian Industrial Festival x Hari Batik Nasional 2026 di Surabaya, Kamis, 1 Oktober 2026.

Dari sisi industri, industri pengolahan nonmigas (IPNM) tumbuh 5,32 persen secara tahunan atau year-on-year pada triwulan II 2026. Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,29 persen.

Pada periode yang sama, IPNM memberikan kontribusi pertumbuhan terbesar sebesar 0,97 persen. Gambaran tersebut menunjukkan besarnya peran sektor industri dalam menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, serta menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi.

Potensi ekonomi industri batik juga terlihat dari perkembangan ekspornya. Berdasarkan data Kemenperin, ekspor produk batik pada 2025 meningkat 32,50 persen menjadi USD20,14 juta dibandingkan 2024 yang sebesar USD15,20 juta.

“Ketika kita berbicara tentang industri batik yang lebih kuat, kita sedang membicarakan seluruh perjalanan produk. Dari ide dan keterampilan perajin, proses produksi, mutu, cerita, hingga pengalaman orang yang membeli dan memakainya,” kata Faisol.

Pelestarian industri batik membutuhkan regenerasi untuk menjaga keberlangsungannya. Generasi muda memiliki ruang untuk berkontribusi melalui kreativitas, teknologi, desain, pemasaran digital, pengelolaan lingkungan, hingga komunikasi budaya.

Dalam paparannya, Wamenperin mencontohkan kolaborasi antara perajin dan mahasiswa. Perajin dapat bekerja sama dengan generasi muda yang memiliki kemampuan fotografi, penulisan, pembuatan katalog digital, maupun pemasaran melalui e-commerce.

“Ketika keduanya ini bertemu maka menjadikan sebuah kolaborasi yang kuat. Dan hal tersebut dapat menjadi bentuk kontribusi konkret dari generasi muda atau Gen Z,” ucap Faisol.

Selain pemasaran, generasi muda dapat mengambil peran dalam pengembangan teknologi produksi. Kemampuan membuat konten, menganalisis data, dan membangun komunitas membantu pelaku usaha menyajikan informasi menarik serta memperkuat komunikasi pasar.

Ruang inovasi juga terbuka melalui pengembangan desain produk yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Batik dapat dikembangkan untuk berbagai aktivitas, mulai dari kuliah, bekerja, menghadiri acara, hingga penggunaan sehari-hari dengan tetap memperhatikan asal-usul dan makna motifnya.

Aspek keberlanjutan turut menjadi bagian dari pengembangan industri batik. Generasi muda peduli lingkungan dapat terlibat mencari cara penggunaan air dan bahan lebih bertanggung jawab sesuai kebutuhan usaha.

Upaya tersebut termasuk mencari cara untuk meminimalkan pencemaran limbah kimia dari proses produksi. Peran generasi muda dapat dikembangkan sesuai minat dan kompetensi masing-masing.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....