Ekosistem Batik Capai 5.946 Industri, Serap 47 Ribu Tenaga Kerja

  • 02 Okt 2026 23:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kementerian Perindustrian mencatat terdapat 5.946 industri batik tersebar di berbagai daerah Indonesia dengan ekosistem yang mencakup lebih dari 200 sentra batik di 11 provinsi.
  • Industri batik mempekerjakan sekitar 47 ribu orang dan menjadi bagian penting dari aktivitas ekonomi serta industri kreatif Indonesia.
  • Pengembangan batik memerlukan perhatian terhadap keterhubungan tradisi, inovasi, keberlanjutan, dan kebutuhan pasar untuk memastikan pertumbuhan berkelanjutan.

RRI.CO.ID, Surabaya - Kementerian Perindustrian mencatat terdapat sekitar 5.946 industri batik di berbagai daerah Indonesia. Ekosistem tersebut mencakup lebih dari 200 sentra batik di 11 provinsi dengan tenaga kerja mencapai sekitar 47 ribu orang.

Kepala Balai Pemberdayaan Industri Persepatuan Indonesia Syukur Idayati mengatakan batik berperan sebagai bagian dari aktivitas ekonomi dan industri kreatif sekaligus warisan budaya. Menurutnya, pengembangan batik perlu memperhatikan keterhubungan tradisi, inovasi, keberlanjutan, dan kebutuhan pasar.

“Pengembangan batik ke depan perlu memperhatikan keterhubungan. Antara tradisi, inovasi, keberlanjutan, dan kebutuhan pasar,” ujar Syukur Idayati saat menjadi narasumber Community Engagement “Batik Beyond Tradition: Digital dalam Inovasi, Berkelanjutan, dan Bertahan dalam Tradisi” di Surabaya, Kamis, 1 Oktober 2026.

Idayati memaparkan nilai ekspor batik meningkat dari USD15,20 juta pada 2024 menjadi USD20,14 juta pada 2025. Pertumbuhan ekspor batik pada periode tersebut mencapai 32,5 persen.

Pada Semester I 2026, nilai ekspor batik tercatat USD4,39 juta. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan nilai ekspor sebesar USD5,09 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Menurut Idayati, pengembangan produk batik perlu menyesuaikan perubahan kebutuhan konsumen. Ia menyebut ready-to-wear, aksesori, dan produk gaya hidup sebagai bentuk pengembangan yang berkaitan dengan rantai nilai fesyen.

“Batik dapat dikembangkan ke dalam produk ready-to-wear, aksesori, maupun berbagai produk gaya hidup yang memiliki keterkaitan dengan rantai nilai fesyen. Pendekatan ini memungkinkan batik memiliki ruang yang lebih luas untuk menjangkau konsumen tanpa harus melepaskan karakter dan nilai budaya,” katanya.

Kemenperin juga mendorong pemanfaatan teknologi digital dalam pengembangan industri batik. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk mengeksplorasi motif, mengembangkan desain, melakukan pemasaran, dan memperluas akses pasar.

Founder Rumah Batik Jawa Timur Syarif Usman menyampaikan perkembangan digital dapat dimanfaatkan untuk mengeksplorasi desain tanpa menggantikan proses utama pembuatan batik tulis. Rumah Batik Jawa Timur sendiri telah menjalankan usaha batik tulis secara turun-temurun selama tiga generasi.

“Digital bukan pengganti tradisi. Tapi sebagai salah satu alat untuk menjaganya tetap hidup,” ujar Syarif Usman.

Syarif menjelaskan keberlanjutan batik juga berkaitan dengan regenerasi pelaku dan pengetahuan membatik. Rumah Batik Jawa Timur memberikan pelatihan batik tradisional kepada 700 sekolah dasar di Surabaya bersama Dinas Pendidikan Kota Surabaya.

Upaya tersebut menjadi bagian dari pengenalan keterampilan dan nilai budaya batik kepada generasi muda. Hal ini sejalan dengan pentingnya regenerasi pelaku dan pengetahuan membatik untuk menjaga keberlanjutan batik.

Sementara itu, jenama lokal Ulur Wiji mengembangkan fesyen kontemporer melalui konsep UpliftingWear. Ulur Wiji memadukan material alami, teknik kriya tradisional, dan desain kontemporer untuk menghasilkan produk fesyen yang sesuai dengan kebutuhan konsumen masa kini.

Founder & COO Ulur Wiji Nasta Rofika mengatakan pihaknya melibatkan perempuan muda di komunitas perdesaan dalam pengembangan keterampilan kriya. Pendekatan tersebut mempertemukan penguatan kapasitas generasi penerus dengan pengembangan produk fesyen yang membawa karakter kriya Indonesia ke dalam bentuk lebih modern.

“Kami juga melibatkan perempuan muda di komunitas perdesaan dalam pengembangan keterampilan kriya. Pendekatan ini mempertemukan penguatan kapasitas generasi penerus dengan pengembangan produk fesyen yang membawa karakter kriya Indonesia ke dalam bentuk yang lebih modern,” kata Nasta Rofika.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....