Kemenhut Pastikan "Hotspot" Karhutla di Kalteng dan Kalbar Turun Tajam

  • 14 Sep 2026 13:07 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta — Kementerian Kehutanan (Kemenhut) melaporkan jumlah titik panas (hotspot) di Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Kalimantan Barat (Kalbar) turun signifikan. Demikian disampaikan Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut, Ristianto Pribadi, Senin, 14 September 2026.

Menurut dia, penurunan jumlah hotspot menjadi perkembangan positif terkait upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Namun, kondisi tersebut tidak berarti seluruh kebakaran di lapangan telah padam.

“Penurunan jumlah hotspot tidak otomatis berarti seluruh api di lapangan telah padam,” ujarnya. “Khususnya pada lahan gambut, bara dapat bertahan di bawah permukaan sehingga pemadaman, pembasahan, dan pendinginan harus terus dilakukan.

Menurut Ristanto, Tim Gabungan Kemenhut terus memperkuat pengendalian karhutla. Baik melalui operasi darat, water bombing, patroli udara, maupun Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Penurunan hotspot di Kalbar dan Kalteng terlihat berdasarkan SiPongi Kemenhut yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20. Hingga Minggu 13 September 2026 malam, secara nasional masih terdeteksi 592 titik api di kedua provinsi tersebut.

Dari enam provinsi prioritas pengendalian karhutla, Kalteng memiliki 89 hotspot, turun tajam dari 197 titik. Hotspot di Kalbar juga turun signifikan dari 91 titik menjadi 14 titik.

Penurunan jumlah hotspot juga terjadi di Sumatra Selatan (Sumsel), dari 62 titik menjadi 49 titik. Sebaliknya jumlah hotspot di Kalimantan Selatan (Kalsel) naik dari 7 titik menjadi 28 titik.

Demikian pula di Jambi, dari nihil langsung melonjak hingga 17 titik. Sedangkan Riau tidak ada perubahan dengan mencatat nihil hotspot high confidence.

Ristianto mengatakan perkembangan di Kalsel dan Jambi tetap menjadi perhatian dengan terus memperkuat patroli dan verifikasi lapangan. “Setiap indikasi hotspot tetap harus diverifikasi melalui groundcheck dan pemantauan kondisi aktual di lapangan,” ujarnya.

Menurut Ristianto, ini karena hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi oleh satelit. “Jadi, tidak serta merta menunjukkan terjadinya suatu kejadian kebakaran,” katanya.

Manggala Agni Kemenhut bersama TNI, Polri, dan para stakeholder terkait terus melakukan operasi penanggulangan karhutla. Baik melalui patroli, groundcheck, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, mopping up, maupun pendinginan.

Operasi pemadaman masih berlangsung aktif di Provinsi Sumsel. Hingga Minggu 13 September 2026, Manggala Agni memadamkan salah satu lokasi karhutla yang telah memasuki hari kedelapan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....