Tiga 'Life Jacket' hingga Terpal Ditemukan, Nasib Wartawan Hilang Belum Jelas

  • 14 Sep 2026 10:18 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Tim SAR gabungan menemukan, sejumlah barang di beberapa lokasi perairan, namun belum ada kepastian temuan tersebut berkaitan dengan rombongan wartawan tersebut.
  • Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad mengatakan, barang ditemukan terdiri dua terpal. Kemudian, ditemukan juga tiga jaket pelampung berwarna oranye, dan satu galon
  • Temuan tersebut tersebar di sejumlah perairan di sekitar Pulau Sangiang, Pulau Sebesi, Legok Belimbing, hingga Pulau Rakata. Kita menemukan dua terpal, tiga jaket warna oranye dan satu galon

RRI.CO.ID, Jakarta - Pencarian delapan orang hilang di sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, memasuki hari keenam, Minggu, 13 September 2026. Tim SAR gabungan menemukan, sejumlah barang di beberapa lokasi perairan, namun belum ada kepastian temuan tersebut berkaitan dengan rombongan wartawan tersebut.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad mengatakan, barang ditemukan terdiri dua terpal. Kemudian, ditemukan juga tiga jaket pelampung berwarna oranye, dan satu galon.

"Temuan tersebut tersebar di sejumlah perairan di sekitar Pulau Sangiang, Pulau Sebesi, Legok Belimbing, hingga Pulau Rakata. Kita menemukan dua terpal, tiga jaket warna oranye dan satu galon," kata Al Amrad di Pos SAR Gabungan Carita, Pandeglang, Banten, dikutip Senin, 14 September 2026.

Menurutnya, seluruh barang itu belum dapat dipastikan memiliki keterkaitan dengan kapal Arupadhatu I yang membawa rombongan wartawan dan kru tersebut. KRI Teluk Gilimanuk dilaporkan, menemukan sebuah life jacket dan satu botol di perairan Pulau Sangiang sekitar pukul 08.55 WIB.

"Sementara RIB 02 Lampung menemukan terpal di sekitar Pulau Sebesi. Sedangkan KAL Anyer menemukan life jacket di perairan Legok Belimbing, Lampung," ucap Al Amrad.

Temuan lainnya, ia mengungkapkan, berasal dari KM Bima yang menemukan life jacket sekitar pukul 09.58 WIB di kawasan Pulau Rakata. Seluruh barang tersebut, kemudian diserahkan kepada kepolisian untuk menjalani proses identifikasi dan pemeriksaan lebih lanjut.

"Pelaksanaan operasi SAR, objek-objek telah kami serahkan kembali kepada pihak yang berwenang. Dalam hal ini kepolisian untuk menindaklanjuti," ujar Al Amrad.

Hingga pencarian berakhir, tim gabungan belum mendapatkan petunjuk yang memastikan keberadaan delapan orang tersebut. Al Amrad menyebut, operasi pencarian pada hari keenam masih belum menemukan korban maupun titik keberadaan kapal yang membawa rombongan tersebut.

Sebanyak 14 alat utama sistem persenjataan (alut SAR) dikerahkan untuk memperluas penyisiran di wilayah Selat Sunda. "Pencarian masih nihil," kata Al Amrad.

Tim SAR gabungan pun masih akan melakukan upaya pencarian, dengan menyisir sejumlah wilayah yang dinilai memiliki kemungkinan menjadi lokasi keberadaan korban. Delapan orang yang dilaporkan hilang terdiri atas lima jurnalis dan tiga awak kapal.

Lima jurnalis tersebut yakni:

• M. Bagus Khoirunnas dari ANTARA

• Ari Basuki dari Merdeka.com

• Yudistiro Pranoto dari iNews

• Firman Daus dari Anadolu Agency

• Donal Husni yang bekerja sebagai jurnalis freelance.

Sementara, tiga awak kapal yang turut dilaporkan hilang adalah Warta selaku kapten. Lalu, Sukarman sebagai anak buah kapal, dan Heriyanto yang bertugas sebagai pemandu atau guide.

Mereka sebelumnya, berada dalam satu rombongan yang menggunakan kapal Arupadhatu I di kawasan perairan sekitar Gunung Anak Krakatau. Upaya pencarian juga mendapat dukungan dari Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) DPC Kabupaten Pandeglang, Banten.

Tim HPI, ikut membantu penyisiran sejumlah pulau di sekitar Gunung Anak Krakatau bersama personel SAR gabungan untuk mencari korban.

Anggota HPI DPC, Kabupaten Pandeglang, Ateng mengatakan, pihaknya mengerahkan dua kapal cepat dengan pendampingan dari Basarnas.

Penyisiran dilakukan dengan menyasar sejumlah pulau yang dianggap strategis di sekitar lokasi hilangnya kontak kapal. "Kita menyisir Pulau Panjang, Pulau Sertung, Pulau Rakata Besar, dari jam 08.00 WIB sampai jam 15.30 WIB," kata Ateng seperti dilansir Antara di Pandeglang, Banten, Minggu, 13 September 2026.

Selain melakukan pemantauan dari laut, tim juga turun ke daratan Pulau Rakata untuk memastikan tidak terdapat tanda-tanda keberadaan para korban. Menurut Ateng, kondisi cuaca selama proses penyisiran relatif mendukung operasi pencarian.

"Cuaca bagus, ombak datar. Kita pakai dua kapal dan didampingi Basarnas, hasil masih nihil," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....