BPOM Catat Potensi Ekonomi Herbal Indonesia Capai Rp350 Triliun

  • 11 Sep 2026 14:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar menyebut potensi ekonomi herbal Indonesia dapat mencapai sekitar Rp350 triliun per tahun.
  • Namun ia mengatakan pemanfaatannya saat ini baru sekitar Rp1,2 triliun.
  • Terdapat sekitar 1,9 juta pelaku usaha kecil dan menengah yang berkaitan dengan sektor herbal, jamu, dan produk sejenis di Indonesia.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar menyebut potensi ekonomi herbal Indonesia dapat mencapai sekitar Rp350 triliun per tahun. Namun ia mengatakan pemanfaatannya saat ini baru sekitar Rp1,2 triliun.

Taruna mengatakan, besarnya potensi tersebut tidak terlepas dari kekayaan sumber daya hayati Indonesia. Ia menyebut Indonesia memiliki lebih dari 30 ribu sumber daya hayati yang berpotensi dikembangkan menjadi obat herbal dan produk kesehatan berbahan alam.

“Hebatnya Nusantara ini, memiliki 30.000 lebih sumber daya herbal yang mampu untuk menghasilkan obat-obat herbal. Di mana obat-obatan ini berasal dari alam,” ujar Taruna dalam Dialog Kebangsaan “Rakyat Sehat, Negara Kuat” di Jakarta, Jumat, 11 September 2026.

Menurut Taruna, apabila potensi tersebut dikembangkan secara optimal, nilai ekonominya dapat mencapai ratusan triliun rupiah setiap tahun. Ia menyebut angka tersebut berdasarkan perhitungan yang dilakukan dari potensi industri wellness dan herbal.

“Berdasarkan potensi itu kalau kita gunakan, hitungannya ini bernilai triliunan. Dalam hitungan-hitungan kami pernah kan sebutkan ada Rp350 triliun setiap tahun,” katanya.

Wellness seluruh dunia itu 1,7 triliun US dollar, dikali 18.000, itu berarti sudah puluhan ribu triliun. Khusus untuk herbalnya Indonesia, Rp350 triliun,” ujar Taruna, menambahkan.

Namun, Taruna menilai pemanfaatan potensi tersebut masih sangat kecil dibandingkan peluang yang tersedia. Ia menyebut nilai herbal yang saat ini berhasil dimanfaatkan baru sekitar Rp1,2 triliun.

“Tetapi sayangnya, sayangnya kita baru mampu manfaatkan sekitar Rp1,2 triliun. Yang itu diproduksi oleh perusahaan-perusahaan misalnya Sido Muncul, Grup Martha Tilaar, dan sebagainya,” katanya.

Taruna menilai kesenjangan tersebut menunjukkan masih besarnya ruang untuk mengembangkan industri herbal nasional. Menurutnya, kekayaan hayati Indonesia semestinya dapat dikelola dan dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi dan ketahanan kesehatan nasional.

Ia juga menyebut terdapat sekitar 1,9 juta pelaku usaha kecil dan menengah yang berkaitan dengan sektor herbal, jamu, dan produk sejenis. Keberadaan pelaku usaha tersebut, dinilainya dapat menjadi kekuatan ekonomi apabila mendapatkan dukungan dan dikembangkan secara berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....