Wapres Kawal Perlindungan Satwa dan Habitatnya dalam Penanganan Karhutla
- 11 Sep 2026 01:09 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Wakil Presiden Gibran Rakabuming mengadakan diskusi dengan para pejuang satwa di Palangka Raya, Kalimantan Tengah pada 10 September 2026 untuk membahas dampak kebakaran hutan dan lahan terhadap satwa liar.
- Pertemuan ini merupakan bagian dari upaya memastikan penanganan karhutla dilakukan secara menyeluruh dengan mempertimbangkan aspek perlindungan satwa liar dan ekosistem.
- Fokus diskusi mencakup penanganan dampak karhutla tidak hanya bagi masyarakat, tetapi juga menjaga kelangsungan hidup satwa liar dan habitat yang terdampak.
RRI.CO.ID, Jakarta - Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming berdiskusi dengan para pejuang satwa di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kami, 10 September 2026. Pertemuan ini untuk mendengarkan langsung masukan terkait penanganan dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap satwa liar dan habitatnya.
Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya memastikan penanganan karhutla dilakukan secara menyeluruh. Dimana tidak hanya melindungi masyarakat, tetapi juga menjaga kelangsungan hidup satwa liar dan ekosistem yang terdampak.
Dalam pertemuan tersebut, Wapres menekankan pentingnya kolaborasi di lapangan agar upaya perlindungan manusia, serta satwa dan habitatnya berjalan optimal. Berbagai pihak yang selama ini terlibat langsung dalam penyelamatan satwa turut menyampaikan kondisi di lapangan.
Termasuk kebutuhan penanganan satwa terdampak serta pemulihan habitat yang mengalami kerusakan akibat karhutla. Para pejuang satwa juga menyampaikan masukan terkait pentingnya penguatan regulasi kesejahteraan hewan, termasuk melalui Rancangan Undang-Undang (RUU) Kesejahteraan Hewan.
“Pemerintah sangat membutuhkan kolaborasi dan dukungan dari berbagai pihak. Termasuk komunitas, relawan, masyarakat, dan yayasan,” kata Wapres.
Selain penanganan langsung terhadap satwa terdampak, Wapres juga menyoroti perlunya langkah antisipatif seiring terganggunya ekosistem akibat karhutla. Menurutnya, kondisi tersebut dapat memengaruhi pola pergerakan satwa dan meningkatkan interaksi dengan manusia.
“Kita juga perlu mengantisipasi potensi satwa masuk ke pemukiman karena habitatnya terganggu akibat karhutla. Mohon bantuan untuk meningkatkan edukasi masyarakat, utamanya agar tidak memburu atau menyakiti satwa yang mengungsi ke area pemukiman,” ujarnya.
Melalui kolaborasi pemerintah, komunitas, relawan, masyarakat, dan yayasan, penanganan dampak karhutla diharapkan dapat dilakukan secara terpadu. Mulai dari perlindungan satwa hingga pemulihan habitatnya.
Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan ekosistem. Termasuk memastikan pemulihan pascakarhutla dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....