Sosok Dokter di balik Berdirinya RRI, Kisah Hidup dr. Abdulrachman Saleh
- 09 Sep 2026 14:10 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Abdulrachman Saleh bukan hanya dikenal sebagai seorang dokter, tetapi juga sebagai tokoh sejarah Indonesia yang berkontribusi dalam pendirian dan pengembangan lembaga penyiaran publik.
RRI.CO.ID, Jakarta - Setiap 11 September diperingati sebagai Hari Radio Nasional sekaligus Hari Ulang Tahun Radio Republik Indonesia (RRI). Di balik lahirnya lembaga penyiaran publik tersebut, terdapat sosok dokter yang memiliki peran penting dalam sejarah awal radio di Indonesia.
Abdulrachman Saleh bukan hanya seorang dokter. Ia merupakan tokoh dengan berbagai keahlian dan pengalaman seperti kesehatan, pendidikan, penerbangan, hingga perjuangan kemerdekaan.
Mengutip laman Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Abdulrachman Saleh lahir di Jakarta pada 1 Juli 1909. Semasa muda, dia aktif dalam sejumlah organisasi pergerakan nasional seperti Jong Java, Indonesia Muda, dan Kepanduan Indonesia.
Abdulrachman juga memiliki ketertarikan terhadap dunia dirgantara dan menjadi anggota klub penerbangan di Kemayoran. Dia juga menyelesaikan pendidikan kedokteran di Geneeskundige Hogeschool (GHS) Batavia pada 1937
Setelah lulus, Abdulrachman Saleh kemudian menjadi dosen di Nederlands Indische Artsen School (NIAS) Surabaya dan GHS Batavia. Ia juga memperdalam ilmu fisiologi atau ilmu faal, yakni cabang ilmu kedokteran yang mempelajari fungsi organ dan sistem organ manusia.
Pada saat itu, ilmu fisiologi belum banyak diminati. Atas kontribusinya dalam mengembangkan ilmu faal, Universitas Indonesia kemudian menetapkannya sebagai Bapak Ilmu Faal Indonesia pada 1958.
Pengabdian Abdulrachman Saleh tidak berhenti di bidang kedokteran dan radio. Dia kemudian berdinas di TNI Angkatan Udara dan pada 1946 dipercaya menjadi Komandan Pangkalan Udara Madiun.
Di tengah tugas kemiliterannya, Abdulrachman turut mendirikan Sekolah Teknik Udara dan Sekolah Radio Udara di Malang. Dia juga tetap menjalankan profesinya sebagai dokter dengan menjadi guru besar pada perguruan tinggi kedokteran di Klaten, Jawa Tengah.
Pengabdiannya berakhir dalam sebuah peristiwa tragis pada masa Agresi Militer Belanda I. Saat itu, Abdulrahman Saleh bersama rekannya yaitu Adisutjipto ditugaskan ke India.
Dalam perjalanan pulang pada 29 Juli 1947, keduanya singgah di Singapura untuk mengambil bantuan obat-obatan dari Palang Merah Malaya. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan pesawat Dakota VT-CLA.
Namun, pesawat tersebut ditembak pesawat P-40 Kitty-Hawk milik Belanda dan jatuh serta terbakar sebelum tiba di Maguwoharjo, Sleman. Abdulrachman Saleh dan Adisutjipto gugur dalam peristiwa tersebut.
Keduanya kemudian mendapatkan kenaikan pangkat secara anumerta. Peristiwa tersebut selanjutnya diperingati TNI Angkatan Udara sebagai Hari Bakti TNI AU sejak 1962.
Dibalik Berdirinya RRI
Keterlibatan Abdulrachman Saleh dalam dunia radio sebenarnya telah dimulai jauh sebelum RRI berdiri. Pada 1934, ia mendirikan Vereniging voor Oosterse Radio-Omroep (VORO), sebuah perkumpulan radio penyiaran kesenian ketimuran pertama di Indonesia.
Dua tahun kemudian, pada 1936, Abdulrachman Saleh dipercaya menjadi pemimpin VORO. Pengalamannya di dunia radio kemudian berperan penting ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.
Abdulrachman Saleh menyiapkan pemancar untuk menyebarluaskan berita kemerdekaan ke berbagai wilayah Indonesia, bahkan hingga ke luar negeri. Pemancar tersebut dikenal sebagai Siaran Radio Indonesia Merdeka.
Sejarah RRI bermula setelah radio Hoso Kyoku menghentikan siarannya pada 19 Agustus 1945. Kondisi tersebut membuat masyarakat kehilangan salah satu sumber informasi penting setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.
Sejumlah tokoh yang sebelumnya aktif di dunia radio kemudian menyadari pentingnya keberadaan radio bagi pemerintah Republik Indonesia. Radio dinilai dapat menjadi sarana komunikasi sekaligus menyampaikan informasi, tuntunan, dan pedoman kepada masyarakat.
Pada 11 September 1945 pukul 17.00 WIB, perwakilan dari delapan pengelola Radio Hoso Kyoku bertemu pemerintah Republik Indonesia. Pertemuan berlangsung di bekas gedung Raad Van Indje, Pejambon, Jakarta.
Salah satu tokoh yang hadir adalah dr. Abdulrachman Saleh. Dalam pertemuan tersebut, ia bertindak sebagai ketua delegasi dan menyampaikan rencana pembentukan radio milik Republik Indonesia.
Ada tiga rekomendasi yang disampaikan kepada pemerintah. Pertama, membentuk Persatuan Radio Republik Indonesia (RRI) yang meneruskan penyiaran dari delapan stasiun radio di Jawa.
Kedua, mempersembahkan RRI kepada Presiden Soekarno sebagai alat komunikasi dengan rakyat. Ketiga, mengusulkan agar hubungan antara pemerintah dan RRI disalurkan melalui dr. Abdulrachman Saleh.
Pemerintah Republik Indonesia menyanggupi rekomendasi tersebut. Pada malam harinya, perwakilan delapan stasiun radio kembali menggelar rapat di rumah Adang Kadarusman.
Rapat tersebut menyepakati berdirinya Radio Republik Indonesia dengan dr. Abdulrachman Saleh sebagai pemimpinnya. Dia kemudian tercatat sebagai kepala RRI pertama yang menjabat sejak 11 September 1945 hingga 29 Juli 1947.
Pemerintah Republik Indonesia menetapkan dr. Abdulrachman Saleh sebagai Pahlawan Nasional. Keputusan tersebut termuat dalam Keppres Nomor 071/TK/Tahun 1974 tertanggal 9 November 1974.
Sosoknya menjadi bagian penting dari sejarah RRI. Seorang dokter, pendidik, penerbang, prajurit, sekaligus tokoh radio yang ikut meletakkan fondasi komunikasi publik Indonesia pada masa awal kemerdekaan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....