Dinas Kesehatan: ISPA di Bandarlampung Meningkat Jadi 716 Kasus
- 08 Sep 2026 22:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Dinkes Kota Bandarlampung mencatat adanya peningkatan laporan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dalam beberapa hari terakhir.
- Kenaikan kasus tersebut terpantau berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) periode 4 hingga 7 September 2026.
- Kepala Dinkes Kota Bandarlampung Muhtadi Arsyad Tumenggung mengatakan jumlah ISPA naik menjadi 716 kasus per 7 September 2026.
RRI.CO.ID, Bandarlampung - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandarlampung mencatat adanya peningkatan laporan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dalam beberapa hari terakhir. Kenaikan kasus tersebut terpantau berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) periode 4 hingga 7 September 2026.
Kepala Dinkes Kota Bandarlampung Muhtadi Arsyad Tumenggung mengatakan jumlah kasus ISPA yang tercatat mencapai 527 kasus pada 4 September. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 632 kasus pada 5 September dan kembali naik hingga 716 kasus pada 7 September 2026.
"Data SKDR menunjukkan jumlah kasus ISPA tercatat sebanyak 527 kasus pada 4 September. Kemudian meningkat menjadi 632 kasus pada 5 September, dan mencapai 716 kasus pada 7 September 2026," kata Muhtadi di Bandarlampung, Selasa 8 September 2026.
Menurutnya, peningkatan laporan kasus terjadi di sejumlah kecamatan. Lonjakan terbesar terpantau di Kecamatan Telukbetung Timur, Kedamaian, Rajabasa, Telukbetung Selatan, Sukarame, dan Tanjungkarang Pusat.
Peningkatan kasus ISPA tersebut bertepatan dengan periode erupsi Gunung Anak Krakatau. Meski demikian, Dinkes Bandarlampung belum dapat memastikan adanya hubungan langsung antara paparan debu vulkanik dan kenaikan kasus ISPA.
"Peningkatan kasus ISPA ini bertepatan dengan periode erupsi Gunung Anak Krakatau. Namun berdasarkan data jangka pendek ini kami belum bisa menyatakan secara definitif bahwa debu vulkanik menjadi penyebab langsungnya," ujarnya.
Karena itu, Dinkes Bandarlampung terus memperkuat surveilans untuk mengetahui dampak kondisi tersebut di lapangan secara lebih komprehensif.
Muhtadi mengatakan sejumlah penyakit penyerta yang berpotensi berkaitan dengan gangguan kualitas udara juga terus dipantau. Di antaranya pneumonia, asma, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), iritasi mata, hingga dermatitis.
"Sejumlah penyakit penyerta yang berpotensi berkaitan dengan gangguan kualitas udara. Seperti pneumonia, asma, PPOK, iritasi mata, dan dermatitis, hingga saat ini masih terpantau dalam kondisi normal dan stabil," katanya.
Sebagai langkah antisipasi, Dinkes juga melakukan validasi data kasus secara berlapis. Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan angka yang dihimpun akurat dan tidak terjadi duplikasi maupun kesalahan dalam proses input data.
"Kami meminta laporan harian dari seluruh puskesmas di wilayah Kota Bandarlampung," ujar Muhtadi. Pemantauan secara khusus juga dilakukan terhadap kecamatan yang mencatat peningkatan laporan ISPA paling tinggi.
"Langkah tersebut dilakukan untuk memperoleh gambaran perkembangan kasus secara lebih akurat. Sekaligus mendeteksi sedini mungkin apabila terjadi perubahan pola penyakit di masyarakat," kata Muhtadi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....