UNESCO Soroti Pentingnya Literasi Kritis dan Sepanjang Hayat
- 08 Sep 2026 18:10 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- UNESCO menilai kemampuan membaca dan menulis perlu diikuti kemampuan memahami informasi secara kritis.
- Pembelajaran sepanjang hayat menjadi penting agar masyarakat mampu menghadapi perubahan zaman.
- Chief of Education UNESCO Regional Office untuk Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Filipina, Timor-Leste, dan ASEAN, Santos Khatri mengatakan angka melek aksara belum menggambarkan kemampuan literasi secara keseluruhan.
RRi.CO.ID, Jakarta - UNESCO menilai kemampuan membaca dan menulis perlu diikuti kemampuan memahami informasi secara kritis. Pembelajaran sepanjang hayat menjadi penting agar masyarakat mampu menghadapi perubahan zaman.
Chief of Education UNESCO Regional Office untuk Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Filipina, Timor-Leste, dan ASEAN, Santos Khatri mengatakan angka melek aksara belum menggambarkan kemampuan literasi secara keseluruhan. Menurutnya, masyarakat juga harus mampu memahami informasi dan berpikir kritis.
“Pembelajaran sepanjang hayat menjadi hal yang penting untuk terus dilakukan. Tingkat melek aksara saja tidak memberikan gambaran yang lengkap,” ujar Santos dalam Webinar Peringatan Hari Aksara Internasional “Literasi untuk Sesama, Semesta, dan Sejatera”, di Jakarta, Selasa, 8 September 2026.
Santos mengatakan, dunia telah mengalami kemajuan literasi dalam enam dekade terakhir. Namun, ratusan juta orang masih belum memiliki keterampilan literasi dasar.
“Saat ini 88 persen orang dewasa di seluruh dunia telah mengalami peningkatan literasi. Namun pada 2024 masih terdapat 739 juta remaja yang belum memiliki keterampilan literasi,” ujar Santos.
Di Indonesia, Santos mengapresiasi angka melek aksara yang mencapai 97 persen penduduk berusia 15 tahun ke atas. Meski demikian, capaian tersebut perlu diikuti penguatan kemampuan memahami informasi dan berpikir kritis.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengatakan, literasi terus berkembang seiring perubahan zaman. Literasi kini mencakup kemampuan memahami realitas sosial, lingkungan, ekonomi, serta perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial.
“Enam dekade perjalanan ini mengingatkan kita bahwa literasi tetap menjadi fondasi penting bagi martabat manusia. Literasi juga menjadi fondasi pendidikan sepanjang hayat dan kemajuan bangsa,” ujar Mu’ti.
Menurut Mu’ti, peringatan Hari Aksara Internasional 2026 menjadi momentum refleksi sekaligus aksi nyata. Pemerintah mendorong masyarakat untuk memperdalam makna literasi dan membangun agenda literasi menghadapi masa depan.
Selain itu, lanjut dia, tantangan literasi semakin kompleks di era digital dan kecerdasan artifisial. Masyarakat perlu memahami informasi secara kritis dan reflektif terhadap berbagai konten yang dikonsumsi.
“Literasi hari ini adalah kemampuan membaca dunia dan memahami realitas sosial, lingkungan, dan ekonomi. Pengetahuan harus digunakan untuk memperbaiki kehidupan,” kata Mu’ti.
Dirjen Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Tatang Muttaqin mengatakan, tantangan literasi saat ini tidak lagi sebatas kemampuan membaca dan menulis. Masyarakat harus mampu memilah informasi, berpikir kritis, menggunakan teknologi secara bijak, dan mengambil keputusan.
“Literasi bukan sekadar kemampuan membaca huruf, tetapi kemampuan membaca kehidupan. Kita harus mampu membaca informasi dan memilah mana yang benar dan mana yang menyesatkan,” kata Tatang.
Tatang menegaskan keberhasilan gerakan literasi harus dilihat dari dampaknya terhadap kehidupan masyarakat. Literasi diharapkan meningkatkan kemandirian, produktivitas, kualitas hidup, dan kemampuan masyarakat menghadapi perubahan zaman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....