Hari Aksara Internasional, Mendikdasmen Dorong Literasi Hadapi Era Digital

  • 08 Sep 2026 15:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan, saat ini makna literasi kini semakin luas.
  • Literasi tidak lagi sebatas kemampuan membaca dan menulis, tetapi memahami informasi secara kritis.
  • Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial (AI) menuntut kemampuan literasi yang lebih komprehensif.

RRI.CO.ID, Jakarta – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan, saat ini makna literasi kini semakin luas. Menurutnya, literasi tidak lagi sebatas kemampuan membaca dan menulis, tetapi memahami informasi secara kritis.

Ia mengatakan, perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial (AI) menuntut kemampuan literasi yang lebih komprehensif. Untuk itu, masyarakat perlu berpikir reflektif dan menggunakan pengetahuan untuk memperbaiki kehidupan.

“Literasi hari ini adalah tentang kemampuan membaca dunia dan memahami realitas. Realitas sosial, lingkungan, dan ekonomi, serta mengambil tindakan untuk menjadikan dunia lebih baik,” ujar Mu’ti dalam Webinar Peringatan Hari Aksara Internasional “Literasi untuk Sesama, Semesta, dan Sejatera”, di Jakarta, Selasa, 8 September 2026.

Mu’ti mengatakan, Hari Aksara Internasional 2026 menjadi momentum mengevaluasi perjalanan literasi selama enam dekade. Peringatan tersebut sekaligus menjadi kesempatan menyusun agenda literasi menghadapi tantangan setelah 2030.

Ia mengutip data UNESCO yang mencatat 739 juta pemuda dan orang dewasa belum memiliki keterampilan literasi dasar. Selain itu, empat dari 10 siswa dunia belum mencapai kemahiran minimum membaca pada akhir pendidikan dasar.

Sementara itu, Dirjen Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen Tatang Muttaqin menilai, keberhasilan literasi bukan berdasarkan kemeriahan peringatan. Ia mengatakan, ukurannya adalah perubahan kehidupan masyarakat setelah mendapatkan penguatan literasi.

“Mari jadikan September 2026 sebagai momentum, dari membaca menjadi memahami, dari memahami menjadi peduli. Dari peduli menjadi bergerak, dan dari gerakan itulah lahir kesejahteraan,” kata Tatang.

Tatang menilai konsep “Literasi untuk Sesama, Semesta, dan Sejahtera” harus menjadi gerakan bersama. Gerakan tersebut diharapkan membentuk sumber daya manusia Indonesia yang lebih berdaya menghadapi dinamika zaman.

“Literasi untuk Semesta, Sesama, dan Sejahtera, bukan sekadar tema. Ini adalah gerakan kita, tanggung jawab kita, dan ikhtiar kita,” ujar Tatang.

Hari Aksara Internasional diperingati setiap 8 September sejak ditetapkan UNESCO pada 1966. Momentum tersebut terus digunakan untuk mengingatkan pentingnya literasi sebagai bagian dari pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan pembangunan berkelanjutan.

Tema global tahun ini, “Literacy for People, the Planet and Prosperity”. Tema tersebut memperluas makna literasi dari sekadar kemampuan individual menuju kemampuan membangun kehidupan bersama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....