Ini Alasan Abu Vulkanik jadi Perhatian Serius bagi Keselamatan Penerbangan
- 08 Sep 2026 13:50 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Abu vulkanik dapat terbawa angin ribuan kilometer dan bertahan berminggu-minggu di atmosfer.
- Abu dapat merusak mesin, mengganggu navigasi, mengikis kaca kokpit, dan menyebabkan flameout.
- Abu di bandara mengganggu pengereman, operasi penerbangan, serta membutuhkan pembersihan yang mahal.
RRI.CO.ID, Jakarta – Bandara Soekarno-Hatta kembali beroperasi setelah terdampak penutupan akibat erupsi Gunung Anak Krakatau, Selasa, 8 September 2026. Penutupan ini dilakukan karena erupsi gunung api menjadi ancaman serius bagi keselamatan penerbangan.
Mengutip American Geoscience Institue, abu vulkanik dan gas yang dilepaskan saat erupsi dapat menyebar ke atmosfer. Kondisi ini menyulitkan penerbangan karena awan abu sulit dibedakan dari awan cuaca secara visual.
Awan abu juga tidak terdeteksi oleh radar pesawat maupun pengawas lalu lintas udara. Abu vulkanik terdiri dari partikel batuan dan mineral berukuran kurang dari dua milimeter yang tajam dan sangat abrasif.
Jika masuk ke mesin jet, abu dapat mengikis bilah turbin dan meleleh akibat suhu tinggi. Kemudian, menempel pada komponen penting hingga menyebabkan mesin kehilangan daya atau flameout.
Paparan abu juga dapat mengikis kaca kokpit dan lampu pesawat dan mengganggu sistem elektronik serta navigasi. Bahkan, abu vulkanik berpotensi membuat awak pesawat kehilangan kemampuan mengirimkan panggilan darurat.
Dampak abu vulkanik tidak hanya terjadi di udara, tetapi juga di bandara. Abu yang menutupi landasan dapat mengurangi efektivitas pengereman dan menjadi sangat licin ketika basah.
Partikel abu juga dapat kembali beterbangan akibat angin dan aktivitas operasional di darat. Hal ini membutuhkan proses pembersihan yang mahal dan sulit.
Karena itu, informasi cepat mengenai erupsi dan pergerakan awan abu sangat penting bagi pengendali lalu lintas udara, pilot, serta operator penerbangan. Tujuannya yakni untuk mencegah pesawat memasuki wilayah berbahaya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....