Waspada Awan Cumulonimbus, BMKG Sebut Tiga Wilayah Ini Berpotensi Tinggi

  • 08 Sep 2026 11:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • BMKG memprakirakan, pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) di sejumlah wilayah Indonesia selama periode 8-14 September 2026.
  • Lokasinya, meliputi Samudra Hindia sebelah barat Kepulauan Mentawai, Samudra Hindia sebelah barat Kepulauan Nias, serta Selat Malaka bagian utara.
  • Sementara di kawasan Papua, kategori OCNL diprakirakan terjadi di Papua, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Pegunungan, dan Papua Tengah.

RRI.CO.ID, Jakarta - BMKG memprakirakan, pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) di sejumlah wilayah Indonesia selama periode 8-14 September 2026. Dari wilayah pantauan BMKG, tiga kawasan diprediksi masuk kategori Frequent (FRQ), yang berarti cakupan spasial maksimum awan Cb dapat melebihi 75 persen.

Ketiga wilayah tersebut, berada di kawasan perairan Indonesia bagian barat yang memiliki potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus cukup tinggi. Lokasinya, meliputi Samudra Hindia sebelah barat Kepulauan Mentawai, Samudra Hindia sebelah barat Kepulauan Nias, serta Selat Malaka bagian utara.

Selain kategori FRQ, BMKG juga mengidentifikasi, sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami pertumbuhan awan Cumulonimbus dengan kategori Occasional (OCNL). "Kategori ini menunjukkan cakupan spasial maksimum awan Cb berada pada kisaran 50 hingga 75 persen," kata BMKG dalam keterangan persnya, di Jakarta, Selasa, 8 September 2026.

Di Pulau Sumatra, potensi awan Cumulonimbus kategori OCNL diprakirakan terjadi di Aceh, Bengkulu, Jambi, Riau, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Kondisi serupa juga berpotensi muncul di sejumlah wilayah Kalimantan, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.

Sementara di kawasan Papua, kategori OCNL diprakirakan terjadi di Papua, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Pegunungan, dan Papua Tengah. Wilayah-wilayah tersebut, perlu mencermati perkembangan cuaca karena pertumbuhan awan Cumulonimbus dapat berkaitan dengan kondisi atmosfer yang signifikan.

Potensi awan Cumulonimbus juga terpantau di sejumlah wilayah perairan Indonesia. Kawasan yang masuk kategori OCNL antara lain:

• Laut Natuna Utara

• Laut Sulawesi bagian barat

• Samudra Hindia barat Aceh

• Samudra Hindia barat Kepulauan Mentawai

• Samudra Hindia barat Kepulauan Nias.

• Samudra Pasifik utara Papua

• Samudra Pasifik utara Papua Barat Daya

• Selat Malaka bagian tengah

• Selat Malaka bagian utara.

Pemantauan terhadap wilayah-wilayah tersebut, BMKG menjelaskan, menjadi bagian dari informasi prakiraan cuaca yang berkaitan dengan aktivitas penerbangan dan kondisi atmosfer. BMKG menggunakan, tiga klasifikasi untuk menggambarkan potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus berdasarkan luas cakupan spasial maksimumnya.

  1. Kategori Isolated (ISOL) berarti cakupan awan Cb kurang dari 50 persen

  2. Occasional (OCNL) berada pada rentang 50-75 persen

  3. Frequent (FRQ) menunjukkan cakupan lebih dari 75 persen.

Informasi mengenai potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus tersebut merupakan bagian dari produk prakiraan cuaca penerbangan BMKG. Produk tersebut dihasilkan menggunakan model cuaca numerik untuk memberikan gambaran mengenai kemungkinan sebaran pertumbuhan awan Cb di wilayah Indonesia.

Prakiraan tersebut berlaku untuk periode tujuh hari ke depan dan dapat mengalami perubahan mengikuti perkembangan kondisi atmosfer. Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat, terutama yang berada di wilayah dengan kategori FRQ dan OCNL, untuk terus memantau pembaruan informasi cuaca.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....