Benarkah Air Laut Surut Dekat Anak Krakatau Tanda Tsunami? Ini Jawaban BMKG

  • 08 Sep 2026 08:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Viral video kondisi air laut surut di kawasan pesisir yang disebut-sebut dekat Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, ramai beredar di medsos.
  • BMKG melaporkan bahwa hingga 6 September 2026 pukul 07.30 WIB, pemantauan 20 tide gauge di sekitar Selat Sunda.
  • Karena itu, saat laporan tersebut diterbitkan, tidak terdapat ancaman tsunami akibat erupsi Anak Krakatau.

RRI.CO.ID, Jakarta - Video kondisi air laut surut di kawasan pesisir yang disebut-sebut dekat Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, ramai beredar di medsos. Merespons hal itu, BMKG memastikan, fenomena tersebut tidak dapat langsung disimpulkan sebagai tanda akan terjadinya tsunami akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.

BMKG mengatakan, hasil pemantauan pada Minggu, 6 September 2026, menunjukkan kondisi perairan di sekitar Selat Sunda masih berada dalam pola normal. Pemantauan, dilakukan menggunakan jaringan sensor muka laut yang tersebar di kawasan tersebut.

“BMKG melaporkan bahwa hingga 6 September 2026 pukul 07.30 WIB, pemantauan 20 tide gauge di sekitar Selat Sunda. Menunjukkan muka laut masih mengikuti pola pasang-surut astronomis normal,” kata Kepala BMKG Wilayah II, Hartanto dalam keterangan persnya, dikutip Selasa, 8 September 2026.

Dengan hasil tersebut, BMKG tidak menemukan perubahan muka laut yang dapat menjadi indikator adanya tsunami akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Selain itu, BMKG juga mengevaluasi data dari jaringan seismik untuk mencari kemungkinan adanya aktivitas yang dapat memicu tsunami.

Hasil pemantauan, menurut Hartanto, tidak menunjukkan sinyal longsoran besar pada tubuh gunung. Lalu, tidak juga menunjukan sinyal perpindahan massa di bawah laut, maupun gempa tektonik yang berpotensi menimbulkan tsunami.

“Karena itu, saat laporan tersebut diterbitkan, tidak terdapat ancaman tsunami akibat erupsi Anak Krakatau. Laporan resmi pemantauan multisensor BMKG,” ucap Hartanto.

Dengan demikian, video air laut surut yang beredar di medsos tidak dapat dijadikan bukti bahwa tsunami sedang terjadi. Atau akan datang akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.

BMKG menilai, rekaman tersebut lebih tepat dipandang sebagai dokumentasi kondisi lokal yang harus dilihat bersama data pemantauan resmi. Meski demikian, BMKG tetap meminta masyarakat tidak mengabaikan perubahan kondisi laut yang terjadi secara tiba-tiba.

"Kewaspadaan terutama diperlukan apabila air laut mendadak surut dengan cepat dan pola tersebut berbeda dari kondisi pasang-surut normal. Situasi akan menjadi lebih serius apabila air laut surut secara tiba-tiba disertai suara gemuruh yang kuat," ujar BMKG.

Dalam kondisi seperti itu, BMKG mengimbau, masyarakat yang berada di sekitar pantai diminta segera menjauh dari garis pantai. Yakni, tanpa harus menunggu informasi lebih lanjut dari pihak BMKG.

“Segera menjauh dari pantai menuju tempat tinggi dan ikuti informasi BMKG, PVMBG, serta BPBD. Jadi, unggahan tersebut sebaiknya diperlakukan sebagai rekaman kondisi lokal, bukan bukti tsunami Anak Krakatau,” kata Hartanto.

Diketahui, video tersebut salah satunya dibagikan oleh akun Threads @topan_desmon dan memperlihatkan kondisi pesisir pada Minggu kemarin. Dalam rekaman itu, permukaan air laut terlihat mundur cukup jauh hingga kawasan yang sebelumnya tertutup air tampak seperti hamparan pantai.

Kondisi tersebut kemudian memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat karena terjadi ketika aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau sedang menjadi perhatian. Namun, BMKG menyatakan belum menemukan indikasi yang menghubungkan fenomena surutnya air laut tersebut dengan aktivitas vulkanik Anak Krakatau.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....