Mendikdasmen Minta Daerah Erupsi Anak Krakatau Sesuaikan Pembelajaran
- 06 Sep 2026 22:44 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti meminta daerah terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau menyesuaikan sistem pembelajaran.
- Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menerbitkan Surat Edaran Nomor 1 Tahun 2026 tentang pedoman pembelajaran masa darurat bencana.
- Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mengidentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau hingga ketinggian 12.000 ft.
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti meminta daerah terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau menyesuaikan pembelajaran. Kebijakan penyesuaian kegiatan belajar mengajar tersebut wajib mengacu pada tingkat nilai indeks standar pencemaran udara.
Pemerintah mencatat beberapa wilayah kecamatan di Banten dan Lampung mengalami kondisi dampak bencana cukup berat. Pernyataan resmi mengenai penyesuaian sistem pembelajaran tersebut disampaikan Abdul Mu’ti pada Minggu, 6 September 2026.
Abdul Mu’ti memberikan arahan khusus mengenai materi tambahan untuk murid. Kurikulum tetap mengikuti standar nasional atau dapat disesuaikan secara mandiri oleh tiap satuan pendidikan.
“Selain yang dilakukan sesuai dengan jadwal dapat diberikan materi tentang pengetahuan pada murid tentang pentingnya mereka menjaga keselamatan, pentingnya mereka senantiasa memiliki sikap yang tenang dan tetap menjaga kesehatan serta tetap mengikuti informasi informasi serta kebijakan dari pihak yang berwenang,” kata Abdul Mu’ti.
Ia menganjurkan pelaksanaan pembelajaran fleksibel di rumah melalui sistem daring bagi para peserta didik. Ketentuan khusus pembelajaran masa darurat telah diatur resmi dalam Surat Edaran Nomor 1 Tahun 2026.
“Kami anjurkan untuk pembelajaran dilaksanakan dirumah melalui daring atau dirymah kalua tidak memungkina karena tidak semua rumah mungkin memiliki jaringan internet maka dapat diselenggarakan di tempat tertentu yang aman, tidak harus di sekolah yang bisa menggunakan pembelajaran dengan daring,” ujar Abdul Mu’ti.
Prioritas materi esensial berfokus pada dukungan psikososial, kesehatan, keselamatan diri, serta informasi kegiatan mitigasi bencana. Materi literasi dan numerasi tetap diberikan melalui fokus pembelajaran adaptif sesuai dengan kondisi murid.
Metode pembelajaran adaptif meliputi pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), tatap muka terbatas, atau belajar mandiri. Bahan belajar dioptimalkan berdasarkan ketersediaan sarana serta prasarana yang ada pada lokasi daerah bencana.
Asesmen formatif dan sumatif berfokus pada tingkat kehadiran, keamanan, serta kenyamanan peserta didik secara fleksibel. Satuan pendidikan memiliki kewenangan penuh untuk menentukan kriteria kenaikan kelas maupun kelulusan para siswa.
Ujian sekolah dapat diselenggarakan dalam bentuk portofolio, penugasan, tes tertulis, maupun bentuk kegiatan lainnya. Perolehan nilai diambil langsung dari hasil asesmen sebelumnya tanpa mewajibkan pelaksanaan ujian khusus sekolah.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengidentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik tersebut. Temuan tersebut diperoleh bersama Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin berdasarkan analisis citra RGB Himawari-9.
Laporan pemantauan mencatat sebaran abu vulkanik mencapai ketinggian 12.000 ft pada 6 September 2026. Arah sebaran abu teramati menuju barat daya hingga barat laut pada pukul 14.00 WIB.
Sebaran abu vulkanik mencakup wilayah Banten, Lampung, Bengkulu, Sumatera Selatan, hingga wilayah Sumatera Barat. Paparan abu vulkanik juga terdeteksi melintasi area perairan Selat Sunda serta wilayah Samudra Hindia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....