Erupsi Gunung Anak Krakatau Masih Berlangsung, PVMBG Pantau Secara Intensif

  • 05 Sep 2026 12:28 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Gunung Anak Krakatau masih erupsi dan terus dipantau secara intensif oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG)
  • Status Gunung Anak Krakatau masih Level 3 (Siaga) dengan potensi bahaya aliran lava dan lontaran batu pijar
  • Warga diminta mematuhi radius bahaya tiga kilometer serta mewaspadai awan panas, lava, batu pijar, dan hujan abu lebat

RRI.CO.ID, Jakarta - Kepala PVMBG Rita Susilawati menyampaikan Gunung Anak Krakatau masih mengalami erupsi dan terus dipantau hingga saat ini. Erupsi tersebut menghasilkan lontaran batu pijar dan abu vulkanik, sementara semburan erupsi terlihat secara terus menerus.

Rita mengatakan PVMBG melakukan pemantauan terhadap gunung api aktif di Indonesia, termasuk Gunung Anak Krakatau. Untuk memantau aktivitas Anak Krakatau, PVMBG memiliki dua stasiun pengamatan yang berada di Pasauran dan Kalianda.

“Melakukan pemantauan terhadap gunung-gunung api aktif yang ada di Indonesia, termasuk gunung api Anak Krakatau. Nah, di untuk khusus untuk Anak Krakatau ini kami memiliki dua stasiun pengamatan yang ada di Pasauran dan juga yang ada di Kalianda,” ujar Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) ESDM dalam Konferensi Pers secara daring, Sabtu, 5 September 2026.

Ia menyebut Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api tipe A yang berada di kawasan Selat Sunda. Secara administratif, kawasan tersebut masuk dua wilayah, yakni Jawa Barat dan Kabupaten Lampung, sehingga pos pengamatan berada di keduanya.

Rita menjelaskan Krakatau pernah mengalami erupsi sangat besar pada 1883 yang juga menghasilkan tsunami. Sementara itu, gempa bumi pada 22 Desember 2018 memicu erupsi dan longsoran sebagian tubuh Anak Krakatau menyebabkan tsunami.

Setelah 22 Desember 2018, seri erupsi berskala rendah terus berlangsung sebagai fase konstruksi pertumbuhan kembali Anak Krakatau. Fase tersebut berlangsung hingga 16 Desember 2023 sebelum Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada 2 Juli 2026.

Akibat erupsi pada 2 Juli 2026, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau dinaikkan dari Waspada menjadi Level 3 Siaga. Rita menyebut letusan kembali terjadi pada 31 Agustus, kemudian disusul letusan pada malam berikutnya.

Cukup lama berlangsung hingga kembali Gunung Anak Krakatau ini erupsi di tanggal 2 Juli 2026, sehingga levelnya juga kita naikkan. Dari waspada menjadi level 3 (Siaga), nah, 31 Agustus juga ada letusan, dan tadi malam juga ada letusan,” ucapnya.

Erupsi malam tersebut berlangsung mulai pukul 23.07 WIB hingga 04.40 WIB pada 6 September 2026. Rita mengatakan pemantauan masih dilakukan karena erupsi Gunung Anak Krakatau hingga saat itu masih berlangsung.

Di pos pengamatan PGA Krakatau Pasauran, petugas juga mendengar suara gemuruh dari erupsi menerus Gunung Anak Krakatau. Ketinggian kolom erupsi tidak dapat diamati, tetapi semburan berwarna merah menyala terlihat secara visual terus menerus.

“Kemudian erupsi menerus ini terjadinya tuh beberapa jam, dalam durasi beberapa jam. Dan untuk di Anak Krakatau ini memang erupsi menerus dengan semburan lava ini fenomena umum yang juga terjadi,” kata Rita.

Ia menyampaikan perkembangan aktivitas serta perubahan morfologi Gunung Anak Krakatau terus dipantau secara intensif. Hingga kini, status aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level 3 atau Siaga.

Potensi bahaya erupsi Gunung Anak Krakatau saat ini berasal dari aliran lava yang dapat disertai lontaran batu pijar. Kondisi tersebut membuat perkembangan aktivitas gunung api tetap menjadi perhatian dalam pemantauan.

Rita mengimbau masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau untuk tetap mematuhi wilayah radius tiga kilometer dari pusat aktivitas. Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi bahaya yang dapat muncul.

“Perlu tetap mewaspadai ya wilayah radius 3 km dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau, ini agar tetap dipatuhi. Juga meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya awan panas, lava, dan lontaran batu pijar serta hujan abu lebat,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....