PMI Mulai Alihkan Penanganan Gempa NTT ke Fase Pemulihan

  • 05 Sep 2026 00:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Adrian Jeharun selaku Kepala Divisi Pelayanan Markas PMI Provinsi NTT menegaskan komitmen untuk mendukung masyarakat terdampak menuju kondisi yang lebih mandiri.
  • PMI telah mengalihkan fokus penanganan gempa Nusa Tenggara Timur dari fase tanggap darurat menjadi fase pemulihan awal dengan target kemandirian masyarakat.
  • Layanan PMI mencakup distribusi logistik, kesehatan, pendampingan psikososial, promosi kesehatan, dan pemulihan hubungan keluarga di tujuh kabupaten Pulau Flores.

RRI.CO.ID, Jakarta - Penanganan gempa di Nusa Tenggara Timur mulai bergeser dari tanggap darurat menuju pemulihan awal. PMI kini mendorong pemenuhan kebutuhan dasar sekaligus mendukung masyarakat terdampak menuju kondisi lebih mandiri.

Kepala Divisi Pelayanan Markas PMI Provinsi NTT Adrian Jeharun mengatakan PMI telah melayani tujuh kabupaten di Pulau Flores. Layanan tersebut mencakup distribusi logistik, kesehatan, pendampingan psikososial, promosi kesehatan, dan pemulihan hubungan keluarga.

"Di tujuh kabupaten di Pulau Flores, PMI membentuk tim tenaga medis dengan mekanisme mobile klinik. Kemudian kami melakukan pendampingan psikososial, promosi kesehatan, dan juga layanan-layanan khususnya terkait dengan Restoring Family Link," ujar Adrian saat berbincang bersama Pro3 RRI, Jumat, 4 September 2026.

Adrian mengatakan perubahan pendekatan mulai terlihat setelah penanganan memasuki tahap kedua dalam rencana penanggulangan bencana. PMI secara bertahap mengubah pendekatan darurat menuju pemulihan awal dengan mendorong pengungsi menjadi mandiri.

"Di tujuh kabupaten ini sekarang sudah ada perubahan pendekatan dari sifatnya tanggap darurat menuju ke pemulihan awal. Jadi setiap kabupaten mengarahkan para pengungsi terpusat menjadi pengungsi mandiri dan mulai mendukung serta mengaktivasi shelter sementara," ucapnya.

Perubahan pendekatan tersebut juga meningkatkan kebutuhan hunian sementara atau shelter bagi masyarakat terdampak gempa. PMI mulai mendukung pembangunan shelter, salah satunya di Kabupaten Ngada, serta menerima permintaan sekolah darurat.

Kebutuhan sekolah darurat muncul karena sejumlah fasilitas pendidikan turut terdampak gempa. Permintaan shelter sekolah mencakup jenjang pendidikan dasar hingga sekolah menengah atas dan kejuruan.

Selain hunian dan pendidikan, kebutuhan air bersih menjadi tantangan bagi masyarakat terdampak di Flores. Kondisi tersebut semakin kompleks karena Flores juga menghadapi kekeringan bersamaan dengan dampak gempa.

"Selain gempa bumi, di Flores juga terdampak kekeringan, dan PMI sudah memobilisasi sembilan unit tangki untuk tujuh kabupaten. Kita juga melakukan pengelolaan air di Kecamatan Reok dengan mekanisme Water Treatment Plant," katanya.

PMI memobilisasi sembilan unit tangki air yang tersebar di tujuh kabupaten untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat. Di Kecamatan Reok, Water Treatment Plant menghasilkan sekitar 10 ribu liter air setiap hari.

Penguatan distribusi bantuan dilakukan melalui pembangunan gudang pembantu atau gudang hub di Labuan Bajo. Kapal kemanusiaan mendistribusikan sekitar 280 ton bantuan ke tujuh kabupaten berdasarkan hasil asesmen masyarakat terdampak.

Sementara itu, Caritas Indonesia turut memberikan pendampingan setelah fase tanggap darurat berakhir. Direktur Eksekutif Caritas Indonesia Romo Fredy Rante Taruk mengatakan bantuan akan dilanjutkan bagi masyarakat yang masih membutuhkan.

"Prioritas kami adalah menyediakan layanan kesehatan dan psikososial bagi masyarakat terdampak. Kami juga menyiapkan pengkajian untuk enam bulan ke depan karena kami masih akan membantu mereka," ujar Romo Fredy dalam kesempatan yang sama. (Shafa)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....