Menperin: Fasilitas Produksi BYD Perkuat Basis Industri Kendaraan Listrik
- 04 Sep 2026 12:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Fasilitas produksi BYD Motor Indonesia di Subang, Jawa Barat, dinyatakan Menteri Perindustrian sebagai momentum strategis untuk penguatan basis manufaktur kendaraan listrik nasional.
- Pemerintah mengarahkan pengembangan kendaraan listrik tidak hanya untuk meningkatkan konsumsi domestik, tetapi juga menciptakan kapasitas produksi dan memperkuat struktur industri nasional.
- Kehadiran fasilitas BYD menjadi bagian integral dari pendalaman struktur industri kendaraan listrik Indonesia di dalam negeri.
RRI.CO.ID, Jakarta – Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut beroperasinya fasilitas produksi PT BYD Motor Indonesia di Subang, Jawa Barat, menjadi momentum strategis. Utamanya untuk memperkuat basis manufaktur kendaraan listrik nasional.
Menurut Agus, kehadiran fasilitas produksi BYD tidak hanya mendukung pertumbuhan pasar kendaraan listrik dalam negeri. Namun juga mendorong pendalaman struktur industri dan peningkatan kapasitas produksi nasional.
“Atas nama Pemerintah Republik Indonesia, kami menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada BYD atas kepercayaan dan komitmennya untuk berinvestasi di Indonesia. Kami sangat yakin BYD akan terus berkembang dan sukses di Indonesia,” kata Agus saat peresmian fasilitas produksi BYD Motor Indonesia di Subang, Kamis, 3 September 2026.
Agus juga menyampaikan apresiasi kepada Luhut Binsar Pandjaitan yang dinilai berperan dalam proses masuknya investasi BYD ke Indonesia. Menurutnya, realisasi investasi hingga berdirinya fasilitas produksi tersebut merupakan hasil proses panjang diplomasi dan pengawalan investasi strategis pemerintah.
“Saya menyaksikan langsung proses tersebut dan bagaimana Pak Luhut begitu gigih memperjuangkan agar investasi masuk ke Indonesia, termasuk investasi BYD. Proses yang panjang itu akhirnya dapat kita lihat hasilnya dengan berdirinya fasilitas produksi BYD di Indonesia,” ujarnya.
Agus mengatakan, pengembangan kendaraan listrik menjadi bagian penting dalam agenda transformasi menuju ekonomi rendah karbon. Pengembangan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) diperkuat melalui Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 serta berbagai kebijakan di bidang investasi, industri, fiskal, dan pengembangan pasar.
Pengoperasian fasilitas produksi BYD berlangsung ketika kinerja industri manufaktur nasional menunjukkan tren positif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32 persen secara tahunan pada triwulan II 2026.
“Pertumbuhan industri manufaktur sebesar 5,32 persen sudah berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen. Terakhir kali pertumbuhan manufaktur berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional terjadi sekitar 14 tahun lalu,” ucap Agus.
Ia menilai pertumbuhan tersebut menjadi sinyal positif bagi industri nasional. Selain pertumbuhan, kontribusi industri terhadap produk domestik bruto (PDB), kinerja ekspor, realisasi investasi, dan penyerapan tenaga kerja juga menunjukkan perkembangan positif.
Berdasarkan data Bank Dunia, Manufacturing Value Added (MVA) Indonesia mencapai USD275,61 miliar pada 2025. Angka tersebut meningkat dari USD265,07 miliar pada 2024. Posisi Indonesia juga naik dari peringkat ke-13 menjadi ke-12 dunia.
“Ini bukan data Kementerian Perindustrian dan bukan pula data BPS, tetapi data Bank Dunia. Artinya, kemampuan industri manufaktur Indonesia dalam menciptakan nilai tambah terus mengalami peningkatan,” kata Agus.
Di kawasan ASEAN, Indonesia mencatat nilai MVA tertinggi. Sementara di Asia, Indonesia berada di posisi kelima setelah Tiongkok, Jepang, India, dan Korea Selatan.
Agus optimistis capaian MVA Indonesia terus meningkat melalui berbagai program dan kebijakan industrialisasi. Ia berharap Indonesia semakin mendekati capaian negara-negara industri utama di Asia.
Pertumbuhan industri juga diikuti perkembangan pasar kendaraan listrik nasional. Hingga April 2026, populasi kendaraan listrik di Indonesia mencapai sekitar 486 ribu unit.
Pada semester I 2026, penjualan Battery Electric Vehicle (BEV) mencapai sekitar 70 ribu unit dengan pangsa pasar sekitar 16 persen. Sementara penjualan Hybrid Electric Vehicle (HEV) mencapai sekitar 40.400 unit dengan pangsa pasar mendekati 10 persen.
Perkembangan tersebut dinilai menjadi peluang untuk memperkuat ekosistem kendaraan listrik nasional. Sekaligus mendorong investasi dan pendalaman struktur industri di dalam negeri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....