BGN Pastikan Tindak Tegas Terkait Dugaan Keracunan Massal di Sidoarjo

  • 03 Sep 2026 10:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • RI menggaransi, mengambil tindakan tegas menyusul insiden keracunan massal menu MBG di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo.
  • Mengusulkan kepada kepala SPPG tersebut untuk dilakukan suatu pencopotan sekaligus melakukan pergantian
  • Pertama adalah melakukan tindakan investigasi dengan Dinas Kesehatan terkait dan hasilnya nanti kita akan umumkan apa yang menyebabkan terjadinya keracunan,

RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan akan mengambil tindakan tegas menyusul insiden keracunan massal menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di salah satu Pondok Pesantren di Sidoarjo, Jawa Timur. Perihal ini, Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN, Ketut Sumedana mendorong, Kepala SPPG Talang Angin dicopot dari jabatannya.

Ketut mengatakan, pergantian pimpinan SPPG Talang Angin diperlukan sebagai bagian dari tindak lanjut atas peristiwa tersebut. “Mengusulkan kepada kepala SPPG tersebut untuk dilakukan suatu pencopotan sekaligus melakukan pergantian,” kata Ketut dalam keterangan persnya, di Jakarta, dikutip Kamis, 3 September 2026.

Selain mengusulkan pencopotan Kepala SPPG, BGN juga menjatuhkan sanksi terhadap SPPG Talang Angin. SPPG tersebut dikenai penghentian operasional atau suspend dengan kategori berat selama 30 hari.

Menurut Ketut, proses investigasi masih dilakukan bersama Dinas Kesehatan untuk memastikan penyebab terjadinya keracunan. “Pertama adalah melakukan tindakan investigasi dengan Dinas Kesehatan terkait dan hasilnya nanti kita akan umumkan apa yang menyebabkan terjadinya keracunan,” ucap Ketut.

Kemudian, Ketut menegaskan, penanganan terhadap para korban menjadi prioritas BGN setelah kejadian tersebut. “Kita akan fokus dengan penyelamatan kesehatan anak-anak kita ini di beberapa rumah sakit,” ujar Ketut.

Berdasarkan hasil investigasi sementara, jumlah orang yang terdampak akibat insiden tersebut mencapai lebih dari 500 orang. Sebagian korban, harus mendapatkan penanganan medis di sejumlah rumah sakit di wilayah Sidoarjo.

Salah satu rumah sakit yang menangani korban adalah RSUD RT Notopuro Sidoarjo. Hingga Rabu, 2 September 2026, pukul 15.30 WIB, tercatat 380 orang telah mendapatkan penanganan di rumah sakit tersebut.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 353 pasien sudah diperbolehkan kembali ke rumah. Sementara itu, lima pasien masih menjalani perawatan dan 22 orang lainnya masih berada dalam tahap observasi.

Humas RSUD Notopuro Sidoarjo, Rizqi Maulana, mengatakan, kondisi pasien yang menjalani pemantauan medis secara umum menunjukkan perkembangan positif. Meski demikian, sebagian pasien masih mengalami keluhan seperti diare dan sakit perut.

“Pukul 15.30 WIB total ada 380. Yang sudah pulang 353. Yang kita rawat ada 5, masih observasi 22,” kata Rizqi dalam keterangan persnya, di Sidoarjo, Jawa Timue, Rabu, 2 Setember 2026.

Lima pasien yang masih menjalani perawatan tidak membutuhkan penanganan di ruang ICU. Mereka ditempatkan di ruang perawatan biasa sambil mendapatkan pemantauan dari tim medis.

“Di ruangan biasa,” ujar Rizqi. BGN selanjutnya masih menunggu hasil investigasi bersama Dinas Kesehatan untuk mengetahui secara pasti sumber dan penyebab keracunan massal tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....