Menteri Mukhtarudin: SMK Go Global Siapkan Lulusan Bersaing di Pasar Global
- 31 Agt 2026 08:21 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Program SMK Go Global disiapkan untuk membekali calon pekerja migran dengan kompetensi dan sertifikasi yang diakui secara global
- Pelatihan tidak hanya menyasar lulusan SMK, tetapi juga lulusan SMA dan masyarakat umum
- Pemerintah menargetkan penyiapan 500 ribu tenaga kerja yang terdiri dari 300 ribu lulusan SMK dan 200 ribu calon pekerja migran umum
- Peserta disiapkan untuk mengisi sektor seperti caregiver, hospitality, welder, nurse, manufaktur, transportasi, pertanian, dan konstruksi
- Pemerintah menegaskan pelatihan harus terhubung dengan akses pekerjaan serta memastikan pekerja migran berangkat secara prosedural dan terlindungi
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin mengatakan program SMK Go Global bukan sekadar pelatihan. Program tersebut menjadi upaya pemerintah menyiapkan generasi muda dengan kompetensi dan sertifikasi yang diakui secara global.
Mukhtarudin menyampaikan hal itu saat Kick Off SMK Go Global di Balai Diklat Industri Jakarta Timur, Rabu 26 Agustus 2026. Program tersebut ditujukan untuk menghubungkan pendidikan vokasi dengan kebutuhan pasar kerja internasional.
Menurut Mukhtarudin, lulusan SMK tidak cukup hanya mengandalkan ijazah. Mereka perlu memiliki kompetensi teknis, kemampuan bahasa, sertifikasi, serta memahami budaya kerja di negara tujuan.
“SMK Go Global bukan sekadar program pelatihan. Ini adalah upaya pemerintah menyiapkan generasi muda Indonesia agar memiliki kompetensi dan sertifikasi yang diakui secara global, sehingga mereka mampu bersaing dan mendapatkan pekerjaan yang layak di pasar kerja internasional,” ujar Mukhtarudin.
Ia mengatakan program tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi lulusan SMK. Lulusan SMA dan masyarakat umum, termasuk lulusan S1 dan S2, juga dapat mengikuti pelatihan sebagai calon pekerja migran.
Pelatihan tersebut dirancang sebagai upaya peningkatan kompetensi calon pekerja migran agar siap ditempatkan di luar negeri. Pemerintah juga ingin memastikan proses keberangkatan dilakukan melalui jalur yang prosedural.
“Jangan sampai calon Pekerja Migran berangkat ke luar negeri tanpa kompetensi yang memadai dan tanpa pelindungan,” katanya.
Mukhtarudin mengatakan calon pekerja migran harus memiliki keterampilan sesuai kebutuhan pasar kerja. Mereka juga perlu memahami hak dan kewajiban serta memperoleh pelindungan sejak tahap persiapan hingga kembali ke Indonesia.
Program SMK Go Global merupakan bagian dari direktif Presiden untuk menyiapkan 500 ribu tenaga kerja. Jumlah tersebut terdiri dari 300 ribu calon pekerja migran lulusan SMK dan 200 ribu calon pekerja migran umum.
Para calon pekerja migran tersebut diproyeksikan mengisi sejumlah sektor yang membutuhkan tenaga kerja di pasar internasional. Di antaranya caregiver, welder, hospitality, nurse, truck driver, manufaktur, transportasi, pertanian, konstruksi, dan sektor kelautan.
Negara tujuan yang diproyeksikan mencakup Jepang, Korea Selatan, Jerman, Australia, Malaysia, Singapura, Taiwan, Turki, serta sejumlah negara di kawasan Eropa. Penempatan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kebutuhan pasar kerja dan kondisi geopolitik.
Mukhtarudin menegaskan pemerintah tidak hanya mengejar jumlah pekerja yang ditempatkan. Kualitas kompetensi dan pelindungan pekerja menjadi perhatian utama.
“Target kita bukan hanya berapa banyak yang bisa ditempatkan. Yang jauh lebih penting adalah berapa banyak Pekerja Migran benar-benar memiliki kompetensi, tersertifikasi, mendapatkan pekerjaan yang layak, dan terlindungi,” ujarnya.
Pelatihan SMK Go Global disusun berdasarkan pemetaan sektor, jabatan, negara tujuan, kualifikasi, dan kebutuhan kompetensi di pasar kerja luar negeri. Peserta mendapatkan pelatihan teknis, sertifikasi kompetensi, serta bahasa sesuai negara tujuan.
Sejumlah pelatihan yang disiapkan antara lain caregiver, hospitality, welder, manufaktur, dan driver. Jenis pelatihan disesuaikan dengan kebutuhan tenaga kerja di negara tujuan.
“Pasar kerja global memiliki standar yang semakin tinggi. Karena itu, kurikulum dan pelatihan harus mengikuti kebutuhan industri,” kata Mukhtarudin.
Ia mengatakan keberhasilan program tersebut membutuhkan kolaborasi pemerintah, pemerintah daerah, dunia pendidikan, lembaga vokasi, industri, lembaga sertifikasi, dan mitra internasional.
Mukhtarudin juga meminta program tidak berhenti pada pelatihan dan sertifikasi. Setelah mengikuti pelatihan, peserta harus memiliki akses menuju pekerjaan yang sesuai.
“Ukurannya harus jelas. Setelah dilatih dan disertifikasi, harus ada akses menuju pekerjaan,” ujarnya.
Untuk 2026, target penempatan calon pekerja migran melalui program tersebut disesuaikan menjadi 40 ribu orang. Target kemudian meningkat menjadi 140 ribu pada 2027, 180 ribu pada 2028, dan 140 ribu pada 2029.
Mukhtarudin mengatakan Indonesia memiliki banyak anak muda potensial yang dapat mengisi kebutuhan tenaga kerja dunia. Pemerintah, menurutnya, perlu membuka akses agar mereka dapat bekerja secara profesional di tingkat global.
“SMK Go Global harus menghasilkan pekerja migran yang kompeten sekaligus terlindungi. Kita ingin mereka berangkat dengan cara yang benar, bekerja dengan aman dan bermartabat, serta pulang membawa pengalaman dan kesejahteraan yang lebih baik bagi dirinya dan keluarganya,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....