Hari Hiu Paus Diperingati Setiap 30 Agustus, Ini Fakta dan Upaya Konservasinya
- 30 Agt 2026 13:40 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Hari Hiu Paus Internasional diperingati setiap 30 Agustus untuk meningkatkan kesadaran mengenai konservasi hiu paus.
- Hiu paus menghadapi ancaman perikanan, ghost gear, wisata tidak bertanggung jawab, perubahan iklim, dan tabrakan kapal.
- KKP memperkuat konservasi melalui RAN Hiu Paus 2026–2029 serta pengelolaan berbasis data.
RRI.CO.ID, Jakarta – Hari Hiu Paus Internasional diperingati setiap 30 Agustus untuk meningkatkan kesadaran terhadap kelestarian hiu paus. Peringatan ini juga menyoroti berbagai ancaman yang membuat populasi ikan terbesar dunia tersebut terus tertekan.
Hiu paus atau Rhincodon typus dikenal sebagai raksasa laut pemakan plankton yang memiliki karakter relatif lembut. Meski disebut hiu paus, satwa tersebut sebenarnya merupakan jenis hiu dan bukan kelompok paus.
Mengutip World Animal Protection, peringatan tersebut menjadi momentum global untuk mengenalkan peran hiu paus dalam ekosistem. Peringatan juga digunakan untuk mendorong berbagai inisiatif konservasi terhadap spesies yang kini menghadapi beragam ancaman.
Melansir laman World Animal Protection dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), berikut fakta hingga upaya perlindungan hiu paus.
Apa Itu Hari Hiu Paus Internasional?
Hari Hiu Paus Internasional diperingati setiap 30 Agustus sebagai momentum meningkatkan kesadaran mengenai keberadaan spesies tersebut. Peringatan ini juga memperkenalkan peran hiu paus dalam menjaga keberlangsungan ekosistem laut.
World Animal Protection menyebut momentum tersebut turut digunakan untuk mempromosikan berbagai inisiatif konservasi hiu paus. Isu perubahan iklim, wisata satwa liar, dan industri perikanan menjadi ancaman yang mendapat perhatian.
Status konservasinya juga membutuhkan perhatian karena populasinya terus mengalami tekanan di berbagai wilayah. Hiu paus tercatat sebagai spesies terancam punah dalam Daftar Merah IUCN.
Hiu Paus Bukan Paus
Meski namanya menggunakan kata paus, hiu paus sebenarnya merupakan salah satu jenis hiu. Bahkan, spesies tersebut menjadi ikan terbesar yang masih hidup di lautan.
Panjang hiu paus umumnya mencapai sekitar 12 meter atau sekitar 39 kaki. Namun, individu dengan panjang mencapai sekitar 18 meter juga pernah tercatat.
Berat tubuhnya dapat mencapai sekitar 20.000 kilogram ketika tumbuh dalam ukuran sangat besar. Ukuran raksasa tersebut tidak membuatnya menjadi predator agresif terhadap manusia.
Apa yang Dimakan Hiu Paus?
Hiu paus merupakan pemakan dengan sistem penyaringan atau filter feeder. Satwa ini mencari makanan dengan menyaring air laut ketika berenang dekat permukaan.
Makanannya meliputi plankton, cumi-cumi, moluska, sarden, teri, makarel, hingga tuna berukuran kecil. Hiu paus dapat mengonsumsi lebih dari 20 kilogram makanan setiap harinya.
World Animal Protection mencatat sekitar 45.500 liter air dapat masuk ketika hiu paus mencari makanan. Makanan kemudian tersaring, sedangkan air kembali menuju laut melalui bagian insang.
Hiu paus dapat ditemukan di berbagai lautan dunia, terutama kawasan dengan karakter perairan tropis. Indonesia menjadi salah satu wilayah yang memiliki sejumlah lokasi kemunculan spesies tersebut.
Ancaman Tangkapan Sampingan dan Alat Tangkap
Industri perikanan menjadi salah satu aktivitas yang dapat memberikan tekanan terhadap kehidupan hiu paus. Satwa tersebut dapat tertangkap secara tidak sengaja sebagai tangkapan sampingan atau bycatch.
Hiu paus juga berisiko terjerat alat tangkap yang hilang atau ditinggalkan di laut. Peralatan tersebut dapat terus membahayakan satwa meskipun sudah tidak digunakan nelayan.
World Animal Protection menempatkan tangkapan sampingan dan keterjeratan sebagai ancaman penting terhadap hiu paus. Kondisi tersebut membuat praktik perikanan berkelanjutan semakin dibutuhkan untuk mengurangi risiko terhadap spesies.
Wisata Hiu Paus Juga Berisiko
Kemunculan hiu paus di sejumlah perairan telah berkembang menjadi daya tarik wisata bahari. Namun, kegiatan tersebut dapat memberikan dampak buruk apabila tidak dilakukan secara bertanggung jawab.
Kapal wisata yang terlalu padat dapat meningkatkan risiko tabrakan dengan hiu paus di habitatnya. Wisatawan yang mendekati satwa secara berlebihan juga berpotensi mengganggu perilaku alaminya.
World Animal Protection mengingatkan aktivitas wisata tidak selalu memberikan manfaat terhadap keberadaan hiu paus. Pengelolaan yang buruk justru dapat menimbulkan tekanan tambahan terhadap satwa tersebut.
Indonesia sendiri telah memiliki pedoman pelaksanaan wisata hiu paus dengan mengutamakan aspek konservasi. Pedoman mencakup pengamatan menggunakan perahu, snorkeling, hingga kegiatan penyelaman.
Perubahan Iklim Jadi Ancaman
Perubahan suhu laut juga dapat memengaruhi wilayah hidup dan ketersediaan makanan bagi hiu paus. Pemanasan laut dapat mendorong satwa mencari wilayah lebih dingin untuk memperoleh makanan.
Perubahan jalur tersebut berpotensi membawa hiu paus menuju kawasan dengan aktivitas pelayaran lebih padat. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko benturan dengan kapal yang melintas.
World Animal Protection memasukkan perubahan iklim sebagai salah satu ancaman yang kini dihadapi hiu paus. Dampaknya berkaitan erat dengan perubahan habitat, makanan, serta pola pergerakan spesies tersebut.
Indonesia Perkuat Konservasi Hiu Paus
Di Indonesia, KKP memperkuat pengelolaan hiu paus melalui penyusunan RAN Konservasi Hiu Paus 2026–2029. Penyusunannya melanjutkan evaluasi terhadap pelaksanaan rencana aksi pada periode sebelumnya.
Direktur Konservasi Spesies dan Genetik KKP Sarmintohadi mengatakan pengelolaan konservasi perlu diperkuat secara lebih sistematis. Hiu paus telah berstatus dilindungi penuh secara nasional dan tercantum dalam daftar merah IUCN.
KKP juga mendorong penguatan basis data nasional untuk mengetahui kondisi populasi hiu paus secara lebih akurat. Data terintegrasi diperlukan untuk memantau tren jangka panjang dan mengevaluasi efektivitas kebijakan konservasi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....