Kementerian Ekraf Nilai Dieng Culture Festival Berbasis Masyarakat
- 30 Agt 2026 11:07 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kementerian Ekonomi Kreatif menilai Dieng Culture Festival tumbuh secara organik dari masyarakat
- Festival dinilai memiliki orientasi pada community development dan memberikan dampak luas bagi masyarakat
- Penggagas Dieng Culture Festival Alif Faozi dinilai sebagai local hero dalam pengembangan kegiatan
- Dampak festival tidak hanya diukur dari ekonomi, tetapi juga dari sisi sosial, budaya, dan masyarakat penerima manfaat
- Pengembangan festival diarahkan pada pariwisata berkualitas yang memberi ruang bagi aktivitas, pembelajaran, pengalaman, dan produk lokal
RRI.CO.ID, Banjarnegara - Kementerian Ekonomi Kreatif menilai Dieng Culture Festival merupakan festival yang tumbuh dari masyarakat. Kegiatan tersebut dinilai memiliki orientasi pada community development dan memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.
Direktur Musik Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Dr. Mohammad Amin mengatakan Dieng Culture Festival berkembang secara organik. Menurutnya, pemerintah kemudian memberikan fasilitasi dan legitimasi terhadap kegiatan yang telah tumbuh dari masyarakat.
“Saya pikir ini adalah festival yang organik,” ujar Amin dalam IP Talks & Coffee di Festival Kopi Dieng 2026 yang disiarkan secara langsung YouTube DJKI Kemenkum, Sabtu 29 Agustus 2026.
Amin mengatakan penggagas Dieng Culture Festival, Alif Faozi menjadi salah satu local hero dalam pengembangan kegiatan tersebut. Ia menilai pola pengembangan dari masyarakat tersebut berbeda dengan festival yang dibangun secara top-down.
“Menurut saya ini bagus dan saya dengar di sini menolak pembangunan hotel itu bagus banget karena itu akan membuat apa yang dilakukan oleh Mas Alif dan kemudian dilegitimasi oleh Ibu Bupati akan berdampak luas kepada masyarakat,” katanya.
Menurut Amin, dampak festival tidak hanya dapat dilihat dari sisi ekonomi. Dampak sosial dan budaya serta masyarakat yang menerima manfaat juga perlu diperhatikan.
Ia menyebut adanya studi yang mencatat dampak ekonomi kegiatan di Dieng sekitar Rp40 hingga Rp50 miliar pada tahun sebelumnya. Namun, menurutnya, besarnya dampak ekonomi tersebut perlu dilihat bersama dengan masyarakat yang menerima manfaatnya.
Penggagas Dieng Culture Festival sekaligus Ketua Kelompok Sadar Wisata Dieng Pandawa, Alif Faozi mengatakan pengembangan festival berangkat dari upaya memperkenalkan potensi budaya Dieng. Menurutnya, budaya menjadi salah satu kekuatan yang dapat dikembangkan menjadi pengalaman wisata.
Alif mengatakan pariwisata berkualitas tidak hanya mengajak wisatawan melihat objek. Wisatawan juga perlu mendapatkan aktivitas, pembelajaran, pengalaman dan kesempatan membeli produk lokal.
“Pariwisata berkualitas itu tidak hanya mengajak wisatawan hanya something to see saja tetapi bagaimana kita bisa mengajak wisatawan itu something to do, something to learn, something to feel and something to buy,” kata Alif.
Menurut Alif, konsep tersebut diharapkan membuat wisatawan tinggal lebih lama di Dieng. Aktivitas wisata juga diharapkan memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas kepada masyarakat.
Bupati Banjarnegara, Amalia Desyana mengatakan pemerintah daerah memberikan ruang kepada pelaku lokal untuk mengembangkan kegiatan. Pemerintah lebih banyak memberikan dukungan, saran dan masukan tanpa melakukan intervensi terhadap konsep acara.
“Tetapi selebihnya kami yakin dan percaya ketika rekan-rekan ini diberikan ruang, mereka akan memberikan performa terbaiknya,” ujar Amalia.
Ketua Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Banjarnegara, Kristiano Hadi Pranoto mengatakan pengembangan ekonomi kreatif juga diarahkan melalui kolaborasi berbagai subsektor. Salah satunya melalui kegiatan street coffee yang direncanakan rutin mulai Oktober di Alun-Alun Banjarnegara.
Kegiatan tersebut akan dikolaborasikan dengan subsektor ekonomi kreatif lain. Di antaranya komunitas skateboard, pelukis dan kelompok anak muda.
Menurut Kristiano, kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas ruang bagi pelaku ekonomi kreatif di Banjarnegara. Pengembangan kegiatan diharapkan tidak hanya berpusat pada satu subsektor, tetapi melibatkan berbagai potensi kreatif masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....