Menbud Fadli Usulkan Bekas Gedung Jiwasraya Semarang jadi Museum
- 29 Agt 2026 16:24 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Menbud Fadli Zon mendorong bekas gedung Jiwasraya di Kota Tua Semarang dimanfaatkan sebagai museum.
- Bangunan bersejarah tersebut masih mempertahankan sejumlah unsur arsitektur lama, termasuk lift Otis yang menjadi bagian dari sejarah bangunan.
- Kementerian Kebudayaan mendorong pemanfaatan bangunan warisan budaya untuk publik, termasuk sebagai ruang budaya dan pendidikan sejarah.
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon mendorong penggunaan bekas gedung Jiwasraya di kawasan Kota Tua Semarang sebagai museum. Menurutnya, bangunan warisan budaya tersebut perlu dimanfaatkan kembali agar tetap terawat dan tidak kehilangan nilai sejarahnya.
Ia meninjau langsung bangunan tersebut pada hari Jumat, 28 Agustus 2026. Ia melihat sejumlah bagian bangunan yang masih mempertahankan karakter arsitektur lama.
"Bangunan ini diperkirakan dibangun oleh orang Belanda pada abad ke-19 atau awal abad ke-20. Bangunan ini cukup modern untuk zamannya," katanya dalam keterangan pers yang diterima RRI, Sabtu, 29 Agustus 2026.
Menurutnya, penggunaan bangunan sebagai museum adalah salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan. Salah satu ide yang disebutkan adalah museum fotografi.
"Kami berharap dalam konteks pemanfaatan bangunan warisan budaya, bangunan ini dapat menjadi museum. Semacam museum fotografi, atau penggunaan lainnya sehingga dapat dilestarikan," ucapnya.
Bekas gedung Jiwasraya adalah salah satu bangunan bersejarah di Kota Tua Semarang. Bangunan yang dulunya bernama De Nederlandsche Indies Levensverzekering en Lijfrente Maatschappij ini memiliki tiga lantai.
Salah satunya adalah lift buatan Otis Elevator Company yang masih berada di dalam gedung, meskipun sudah tidak digunakan lagi. Menurutnya, keberadaan unsur-unsur asli ini menunjukkan perkembangan arsitektur dan teknologi bangunan di Hindia Belanda.
Ia menilai bangunan cagar budaya tidak cukup hanya dilestarikan secara fisik. "Pemanfaatannya juga perlu disesuaikan dengan nilai sejarah dan karakter bangunan agar tetap berguna bagi masyarakat," ujarnya.
Saat ini, Kementerian Kebudayaan mendorong penggunaan bangunan warisan budaya sebagai ruang yang dapat diakses oleh publik. Termasuk untuk kegiatan budaya dan pendidikan sejarah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....