Masa Non-Tahapan, Komisi II Minta Bawaslu Gencarkan Publikasi Kinerja di Medsos
- 29 Agt 2026 08:31 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Rifqinizamy Karsayuda, Ketua Komisi II DPR RI, meminta Bawaslu untuk meningkatkan kinerja terutama selama masa non-tahapan pemilihan umum.
- Permintaan ini disampaikan dalam acara Evaluasi Kebijakan Publikasi dan Pemberitaan Bawaslu yang berlangsung di Surabaya pada 25 Agustus 2026.
- Ketua Komisi II menekankan pentingnya Bawaslu mengisi kekosongan dengan meningkatkan kinerjanya di luar periode pemilu untuk menjaga kesiapan institusi.
RRI.CO.ID, Jakarta - Ketua Komisi II DPR RI, Rifqinizamy Karsayuda meminta Bawaslu untuk terus meningkatkan kinerja, khususnya di masa non-tahapan pemilihan umum (pemilu). Hal itu disampaikannya dalam Evaluasi Kebijakan Publikasi dan Pemberitaan Bawaslu dalam Masa Non-Tahapan Pemilu, di Surabaya, Selasa, 25 Agustus 2026.
Ia mengatakan bahwa di saat ini, jajaran penyelenggara pemilu termasuk Bawaslu, sedang tidak menjalankan tahapan pemilu. Sehingga untuk mengisi kekosongan kekosongan tersebut, jajaran Bawaslu diharapkannya dapat menggencarkan kinerjanya.
"Karena kalau ke kantor enggak ada rapat, enggak ada pleno ya mungkin dia juga menganggap mubazir. Lebih baik dia kemudian melakukan aktivitas lain yang dianggap jauh lebih positif," kata Rifqinizamy dalam sambutannya, dikutip di Jakarta, Jumat, 28 Agustus 2026.
Salah satunya diungkapkan Rifqinizamy, yakni dengan menggencarkan publikasi kinerja. Menurut Ketua Komisi II DPR, hal ini jauh lebih bermanfaat dengan memberikan edukasi kepada masyarakat.
| Baca juga: Tren Kepercayaan Publik ke Bawaslu Meningkat |
"Rakyat tidak akan pernah tahu apa yang kita kerjakan. Publik tidak akan pernah tahu apa yang kita kerjakan, kalau kita kemudian tidak mempublikasikan apa yang kita kerjakan," ujarnya.
Menurutnya dalam hal publikasi kinerja itu, juga menjadi penting untuk disampaikan dalam berbagai lini platform media sosial (medsos). Sebab diungkapkan Rifqinizamy di era digitalisasi ini, medsos merupakan media kekinian yang dipergunakan masyarakat dalam mengonsumsi informasi.
"Kita sedang berhadapan pada satu era, era digitalisasi, era post-truth, yang kemudian kebenaran itu diukur kerap kali berdasarkan persepsi yang ia (publik) dapatkan pada media yang paling dekat dengan dia. Media yang paling dekat dengan dia, harus kita akui, adalah media-media sosial," imbuh Rifqinizamy.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....