Wamensos: Kampus Harus Ikut Percepat Pengentasan Kemiskinan

  • 27 Agt 2026 23:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Wamensos Agus Jabo Priyono menekankan perguruan tinggi harus ikut mempercepat pengentasan kemiskinan
  • Kampus didorong memanfaatkan ilmu pengetahuan, riset, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat agar memberi dampak nyata
  • Pendidikan dinilai menjadi salah satu instrumen untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi
  • Kemensos mendorong kolaborasi kampus, pemerintah, dunia usaha, dan pemerintah daerah dalam membangun ekosistem pemberdayaan
  • Keberhasilan riset tidak hanya diukur dari publikasi, tetapi dari peningkatan produktivitas petani, nelayan, UMKM, serta masyarakat miskin

RRI.CO.ID, Jakarta - Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam pengentasan kemiskinan. Kampus dinilai dapat berkontribusi melalui ilmu pengetahuan, riset, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Agus Jabo saat menjadi narasumber Seminar Nasional Hasil Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat XI (SNasPPM XI). Seminar Universitas PGRI Ronggolawe (UNIROW) itu mengangkat tema “Peran Strategis Pendidikan Tinggi untuk Membangun Generasi Tangguh Menuju Indonesia Emas 2045”.

Kegiatan digelar secara hybrid dari Aula Lantai II UNIROW, Tuban, Kamis 27 Agustus 2026. Agus Jabo mengikuti kegiatan tersebut secara daring dari kantor Kementerian Sosial di Jakarta.

Menurut Agus Jabo, pendidikan memiliki kaitan erat dengan upaya memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Kemiskinan tidak hanya berkaitan dengan pendapatan, tetapi juga akses pendidikan, kesehatan, gizi, keterampilan, modal, dan pekerjaan.

“Pendidikan bukan sekadar urusan sekolah. Pendidikan adalah alat perjuangan sosial, alat mobilisasi sosial, dan alat pembebasan manusia dari kemiskinan,” ujar Agus Jabo.

Dalam konteks tersebut, ia menjelaskan Sekolah Rakyat sebagai upaya pemerintah memperluas akses pendidikan bagi keluarga miskin. Program tersebut bukan sekadar menyediakan ruang kelas dan asrama bagi anak-anak.

“Sekolah Rakyat bukan sekadar sekolah. Sekolah Rakyat adalah gerakan sosial, gerakan pembebasan melawan kemiskinan,” katanya.

Agus Jabo menilai perguruan tinggi perlu memastikan ilmu pengetahuan dan riset memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Menurutnya, hasil riset tidak seharusnya hanya berhenti dalam ruang seminar atau publikasi jurnal.

“Ilmu pengetahuan tidak boleh hanya berputar di ruang seminar, riset tidak boleh hanya berhenti di jurnal,” katanya. Ia juga mendorong kampus mengukur keberhasilan berdasarkan perubahan yang dihasilkan bagi masyarakat.

Menurut Agus Jabo, keberhasilan kampus perlu dilihat dari dampak terhadap masyarakat. Termasuk peningkatan produktivitas petani, nelayan, UMKM, dan masyarakat miskin.

“Jangan hanya bertanya berapa banyak penelitian yang kita publikasikan. Tetapi tanyakanlah berapa banyak petani, nelayan, UMKM, dan masyarakat miskin yang produktivitasnya meningkat,” ujarnya.

Ia menilai kolaborasi Kemensos dan perguruan tinggi dapat diarahkan pada pemberdayaan masyarakat. Kemensos memiliki sasaran program, pendamping sosial, sentra, dan berbagai instrumen layanan sosial.

Sementara itu, perguruan tinggi memiliki dosen, mahasiswa, laboratorium, riset, dan inovasi. Dunia usaha dapat mendukung melalui modal dan pasar, sedangkan pemerintah daerah membawa potensi wilayah.

“Kalau kekuatan ini kita gabungkan, kita bisa melakukan sesuatu yang jauh lebih besar. Inilah yang saya sebut sebagai ekosistem pemberdayaan masyarakat,” katanya.

Agus Jabo menegaskan perlindungan sosial tetap dibutuhkan masyarakat yang menghadapi krisis. Namun, intervensi sosial juga harus diarahkan agar masyarakat mampu mandiri.

“Tugas kita bukan membuat masyarakat harus menunggu bantuan sosial. Tugas kita adalah membuat masyarakat bisa berdaya dan mandiri, hidup sejahtera,” katanya.

Karena itu, Kemensos mendorong pemberdayaan ekonomi melalui kewirausahaan, bantuan modal, dan pelatihan keterampilan. Perguruan tinggi dapat terlibat melalui pendampingan berkelanjutan bagi masyarakat.

Pendampingan tersebut mencakup asesmen, pelatihan, praktik, akses modal dan pasar, pengembangan usaha, hingga evaluasi. Proses tersebut diarahkan agar masyarakat dapat berkembang hingga mencapai tahap graduasi.

Agus Jabo juga mengajak perguruan tinggi membangun gerakan “Kampus Berdaya Menuju Masyarakat Mandiri”. Gerakan itu dapat diwujudkan melalui desa binaan, UMKM binaan, dan laboratorium kewirausahaan sosial.

“Bukan berapa banyak kegiatan yang kita lakukan, tetapi berapa banyak pendapatan masyarakat meningkat, berapa banyak usaha tumbuh,” ucapnya. Ia juga menekankan pentingnya mengukur jumlah lapangan kerja dan keluarga yang berhasil keluar dari kemiskinan.

Agus Jabo berharap perguruan tinggi melahirkan generasi yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Generasi tersebut juga diharapkan produktif, berkarakter, kreatif, serta peduli terhadap persoalan masyarakat.

“Dari kampus kita bangun ilmu, dari ilmu kita bangun inovasi, dari inovasi kita bangun produksi,” katanya. Ia berharap proses tersebut dapat memperkuat kemandirian dan kesejahteraan masyarakat menuju Indonesia Emas 2045.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....