Kemerdekaan Berpikir Jadi Tantangan di Era AI

  • 27 Agt 2026 17:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Ketergantungan pada pengetahuan, budaya, media, dan teknologi dari pihak lain dapat menciptakan bentuk penjajahan baru yang lebih subtle namun berdampak pada otonomi bangsa.
  • Teknologi AI dan mesin pencari berpotensi mengurangi kemampuan berpikir kritis masyarakat dalam menerima dan menganalisis informasi.

RRI.CO.ID, Jakarta - Konselor Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Islam Iran Yahya Jahangiri menilai kemerdekaan bangsa tidak hanya menyangkut kebebasan wilayah. Menurutnya, kemerdekaan juga mencakup kebebasan berpikir, mental, budaya, serta kemandirian ilmu pengetahuan dan teknologi.

Yahya mengatakan, ketergantungan pada pengetahuan, budaya, media, dan teknologi dapat melahirkan bentuk penjajahan baru. Ia menilai penggunaan AI dan mesin pencari secara berlebihan dapat mengurangi kemampuan manusia berpikir kritis.

“Jika setiap pertanyaan langsung dijawab AI atau Google, kita harus bertanya siapa yang menghasilkan pengetahuan dan mengelola pikiran. Jangan sampai ketergantungan teknologi membuat manusia kehilangan kemampuan berpikir kritis dan menyerahkan pikirannya sepenuhnya kepada mesin,” kata Yahya dalam Forum Diskusi Mandala Project di Ciputat, Tangerang Selatan, Kamis, 27 Agustus 2026.

Menurutnya, teknologi semestinya digunakan sebagai alat untuk membantu manusia berpikir dan mengambil keputusan. Ketergantungan berlebihan membuat masyarakat berisiko menerima informasi tanpa menguji dan mengolahnya secara kritis.

“Ketergantungan terhadap teknologi dapat melahirkan perbudakan baru ketika manusia mulai menyerahkan kemampuan berpikirnya sepenuhnya kepada mesin. Teknologi seharusnya membantu manusia berpikir dan mengambil keputusan, bukan menggantikan kemampuan manusia dalam menentukan pilihan,” ujarnya.

Yahya mengaitkan pandangannya dengan pengalaman Iran setelah Revolusi Islam. Menurutnya, perubahan kekuasaan harus diikuti pembangunan manusia melalui pendidikan, ekonomi, kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi.

“Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi bagian penting dalam menjaga semangat kemerdekaan serta membangun kemandirian bangsa. Pendidikan, ekonomi, dan kebudayaan juga harus terus dikembangkan untuk memperkuat kualitas manusia dan kemajuan negara,” katanya.

Ia mengajak masyarakat memaknai perjuangan Nabi Muhammad SAW sebagai upaya membangun kualitas manusia dan mewujudkan kemerdekaan sejati. Menurutnya, kemerdekaan berarti terbebas dari berbagai bentuk perbudakan, termasuk ketergantungan terhadap teknologi.

“Perjuangan Nabi bukan hanya membangun wilayah atau negara. Tetapi terlebih dahulu membangun manusia dari individu ke individu,” ucapnya.

Yahya juga menyoroti kontribusi peradaban Persia terhadap perkembangan ilmu pengetahuan Islam melalui tokoh seperti Ibnu Sina dan Suhrawardi. Menurutnya, Indonesia dapat mengembangkan ilmu agama secara beriringan dengan ilmu sosial, psikologi, sains, dan bidang pengetahuan lainnya.

Yahya mengatakan, kekuatan utama negara pada akhirnya berada pada rakyatnya. Ia mencontohkan Iran mampu bertahan menghadapi tekanan, embargo, dan konflik karena memiliki kekuatan sosial serta dukungan masyarakat.

“Demokrasi bukan sekadar mendapatkan suara rakyat saat pemilu, tetapi memastikan perhatian dan kepedulian terhadap rakyat setiap hari. Pemerintah harus terus mendengar kebutuhan masyarakat dan memastikan kepentingan rakyat menjadi perhatian dalam menjalankan pemerintahan,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....